Ikuti Kami
kabarmalam.com

Ancaman Kemarau Panjang 2026: BMKG Wanti-Wanti Dampak El Nino dan Risiko Kesehatan Masyarakat

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 18 Jun 2026 12:34 WIB
Ancaman Kemarau Panjang 2026: BMKG Wanti-Wanti Dampak El Nino dan Risiko Kesehatan Masyarakat

Kabarmalam.com — Indonesia nampaknya harus bersiap menghadapi tantangan alam yang cukup serius pada tahun 2026 mendatang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja merilis prediksi yang menunjukkan bahwa musim kemarau di tanah air akan berlangsung lebih lama dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa puncak kemarau diperkirakan akan melanda secara bertahap mulai Juli hingga September 2026. Fenomena ini dipicu oleh kehadiran El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan multisektor, mulai dari pengelolaan sumber daya air hingga sektor kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam melindungi masyarakat.

Peta Sebaran Puncak Kemarau di Indonesia

Menurut data BMKG, puncak kekeringan tidak terjadi serentak, melainkan bergeser dari satu wilayah ke wilayah lain. Pada bulan Juli, sekitar 12,26 persen daratan Indonesia, termasuk sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan, dan wilayah timur, akan mulai merasakan teriknya matahari. Namun, kondisi paling masif diprediksi terjadi pada bulan Agustus yang mencakup hampir separuh wilayah daratan Indonesia (48,84 persen).

Baca Juga  Rahasia Mengendalikan Tekanan Darah Lewat Jalan Kaki: Kapan Waktu Paling Efektif?

Wilayah yang terdampak pada bulan Agustus meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan dan Papua. Memasuki September, sisa wilayah lainnya seperti Lampung, Bangka Belitung, dan sebagian besar Sulawesi akan menyusul memasuki fase puncak kemarau yang menyumbang sekitar 25,41 persen dari total luas daratan.

Bayang-bayang El Nino yang Persisten

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan bahwa durasi kemarau yang lebih panjang ini sangat dipengaruhi oleh intensitas El Nino yang mencapai kategori moderat hingga kuat. “Ada peluang intensitas kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen,” ungkapnya. Fenomena ini membuat suhu permukaan laut mendingin di wilayah Indonesia, sehingga curah hujan menurun drastis, terutama hingga pertengahan Oktober.

Baca Juga  Ribuan Satuan Pelayanan Gizi Kena Suspend, BGN Pastikan Kualitas Program Makan Bergizi Gratis Tetap Terjaga

Kemenkes: Waspadai Ancaman Penyakit Mengintai

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengeluarkan alarm peringatan terkait risiko masalah kesehatan yang kerap muncul saat musim kering berkepanjangan. Kondisi udara yang memburuk serta menurunnya kualitas sanitasi menjadi pemicu utama munculnya berbagai penyakit yang bisa menyerang siapa saja.

Berikut adalah beberapa gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai selama musim kemarau 2026:

  • Penyakit Akibat Nyamuk: Seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Malaria yang justru sering merebak saat genangan air mengecil dan menjadi tempat terkonsentrasinya jentik nyamuk.
  • Masalah Sanitasi: Menurunnya debit air bersih berisiko memicu diare, kolera, tifoid, hingga leptospirosis.
  • Dampak Polusi Udara: Udara yang kering dan berdebu dapat menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), bronkitis, serta iritasi pada mata.
  • Suhu Ekstrem: Dehidrasi berat dan heat stroke menjadi ancaman nyata, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di bawah terik matahari langsung.
Baca Juga  BMKG Peringatkan El Nino Kuat Bertahan Hingga 2027: Indonesia Siaga Kemarau Ekstrem 2026

Kemenkes juga mengingatkan agar perhatian ekstra diberikan kepada kelompok rentan, di antaranya anak-anak, ibu hamil, lanjut usia (lansia), serta individu yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Mengadopsi pola hidup bersih, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan kecukupan cairan tubuh menjadi langkah kunci dalam menghadapi perubahan iklim yang ekstrem ini.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid