Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada ‘Silent Killer’ di Usia 30-an: Mengapa Fatty Liver Kini Mengincar Generasi Muda?

Wahid | kabarmalam.com
Jumat, 12 Jun 2026 15:04 WIB
Waspada 'Silent Killer' di Usia 30-an: Mengapa Fatty Liver Kini Mengincar Generasi Muda?

Kabarmalam.com — Ancaman kesehatan serius kini tengah membayangi generasi muda Indonesia. Penyakit perlemakan hati atau yang populer dikenal sebagai fatty liver, kini tidak lagi hanya identik dengan kelompok usia lanjut. Laporan medis terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan di mana penyakit ini mulai banyak ditemukan pada individu yang baru memasuki usia awal 30-an. Fenomena ini menjadi alarm keras bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan organ dalam, terutama hati.

Sering kali dijuluki sebagai silent killer, kondisi ini memang sangat berbahaya karena sifatnya yang asimtomatik atau tidak menunjukkan gejala nyata pada tahap awal. Pemicu utamanya pun sudah sangat akrab di tengah masyarakat modern, yakni lonjakan masalah obesitas yang kian hari kian meningkat prevalensinya di tanah air.

Baca Juga  Mengenal Food Noise: Ketika Pikiran Tetap 'Lapar' Meski Perut Sudah Kenyang

Lonjakan Obesitas sebagai Akar Masalah

Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI 2023), angka obesitas di Indonesia memang menunjukkan grafik yang mencemaskan. Tercatat, prevalensi obesitas sentral pada penduduk usia 15 tahun ke atas telah menyentuh angka 36,8 persen. Sementara itu, untuk kategori dewasa di atas 18 tahun, angkanya berada di posisi 23,4 persen. Tingginya angka ini berbanding lurus dengan risiko kerusakan fungsi hati di usia produktif.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menekankan betapa krusialnya memperhatikan kondisi ini. Menurutnya, perlemakan hati sering kali berkembang secara diam-diam di balik tumpukan lemak tubuh tanpa disadari oleh penderitanya.

“Obesitas sering disebut sebagai ‘mother of all chronic diseases’ atau ibu dari segala penyakit kronis. Hal ini karena obesitas menjadi pintu masuk bagi berbagai komplikasi kesehatan yang serius. Kami sangat mengimbau masyarakat untuk segera melakukan deteksi dini dan tidak menunggu sampai kondisi berkembang lebih jauh,” ungkap dr. Nadia dalam sebuah pernyataan di Jakarta.

Baca Juga  Ingin Panjang Umur hingga 80 Tahun? Menkes Budi Gunadi: Kuncinya Jaga Lingkar Perut dan Hindari Obesitas

Dari Peradangan Menuju Kanker Hati

Senada dengan hal tersebut, Prof. Rino Alvani Gani, seorang spesialis penyakit dalam sekaligus pakar hepatologi dari Universitas Indonesia-RSCM, menjelaskan bahwa mengabaikan lemak di hati adalah sebuah kesalahan besar. Jika tidak segera diintervensi dengan perubahan gaya hidup, tumpukan lemak tersebut akan memicu peradangan hebat yang merusak sel-sel hati secara permanen.

“Dalam jangka panjang, proses peradangan ini akan meningkatkan risiko fibrosis atau pembentukan jaringan parut, yang kemudian bisa berkembang menjadi sirosis, hingga puncaknya adalah kanker hati,” jelas Prof. Rino dengan tegas.

Kelompok Berisiko dan Langkah Pencegahan

Mengingat gejalanya yang sering kali terabaikan, ada beberapa kelompok yang sangat disarankan untuk melakukan konsultasi medis secara rutin, di antaranya:

  • Individu dengan kondisi perut buncit (obesitas sentral).
  • Penderita diabetes tipe 2 yang memiliki gangguan metabolisme.
  • Orang yang memiliki hasil pemeriksaan fungsi hati tidak normal secara konsisten.
  • Mereka yang memiliki berat badan di atas ambang batas ideal.
Baca Juga  Bukan Sekadar Organ Masa Kecil, Kelenjar Timus Ternyata Kunci Utama Umur Panjang dan Lawan Kanker

Para ahli sepakat bahwa kunci utama untuk memutus rantai ancaman ini adalah dengan konsistensi dalam menjaga gaya hidup. Menjaga berat badan ideal, menerapkan pola makan sehat, serta rutin melakukan aktivitas fisik bukan lagi sekadar tren kecantikan, melainkan sebuah investasi nyawa untuk mencegah penyakit berkembang menjadi kondisi yang fatal.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid