Berpulang Usai Koma 3 Tahun, Simak Riwayat Medis dan Kiprah Putri Thailand Bajrakitiyabha
Jumat, 12 Jun 2026 10:04 WIB
Kabarmalam.com — Duka mendalam menyelimuti Negeri Gajah Putih. Setelah melalui perjuangan panjang melawan kondisi kritis selama lebih dari tiga tahun, Putri Bajrakitiyabha, putri sulung Raja Thailand Maha Vajiralongkorn, dikabarkan telah mengembuskan napas terakhirnya. Sang putri yang dikenal cerdas dan berdedikasi ini meninggal dunia pada usia 47 tahun setelah berada dalam kondisi koma berkepanjangan.
Pihak istana secara resmi mengumumkan bahwa Putri Bajrakitiyabha wafat di Rumah Sakit Chulalongkorn, Bangkok, pada Kamis malam waktu setempat. Meskipun tim medis terbaik telah dikerahkan untuk memberikan perawatan intensif selama bertahun-tahun, kondisi kesehatan sang putri terus mengalami penurunan yang signifikan hingga akhirnya ia dinyatakan berpulang.
Awal Mula Kondisi Kritis Sang Putri
Tragedi yang menimpa sosok yang akrab disapa Putri Bha ini bermula pada Desember 2022. Saat itu, ia sedang menikmati waktu berolahraga bersama anjing-anjing kesayangannya di markas pelatihan militer. Namun, secara tiba-tiba sang putri pingsan dan kehilangan kesadaran. Pemeriksaan medis mendalam mengungkap bahwa ia menderita gangguan jantung serius yang dipicu oleh infeksi bakteri.
Dokter menjelaskan bahwa Putri Bajrakitiyabha mengalami aritmia berat atau gangguan irama jantung yang sangat ekstrem. Kondisi ini dipicu oleh serangan infeksi mycoplasma, sejenis bakteri yang biasanya menyerang sistem pernapasan namun dalam kasus langka dapat menyebar ke otot jantung. Infeksi tersebut menyebabkan peradangan hebat pada jantung atau miokarditis, yang akhirnya menghentikan aliran oksigen yang stabil menuju otak.
Memahami Bahaya Infeksi Mycoplasma
Bagi masyarakat awam, infeksi bakteri mycoplasma mungkin terdengar tidak asing dalam konteks pneumonia. Namun, ketika bakteri ini berhasil menyusup ke jaringan otot jantung, dampaknya bisa sangat fatal. Peradangan yang terjadi dapat mengacaukan sistem kelistrikan jantung, memicu henti jantung mendadak, hingga menyebabkan kerusakan saraf permanen akibat hipoksia atau kekurangan oksigen pada otak.
Selama lebih dari tiga tahun, publik Thailand terus memantau perkembangan kesehatan sang putri dengan penuh harap. Berbagai doa bersama digelar di seluruh penjuru negeri, berharap adanya keajaiban medis. Namun, takdir berkata lain, sang putri harus menyerah pada kondisi fisiknya yang terus melemah meski telah ditunjang oleh berbagai peralatan medis canggih.
Kehilangan Besar bagi Kerajaan Thailand
Wafatnya Putri Bajrakitiyabha bukan hanya duka bagi keluarga Kerajaan Thailand, melainkan juga kehilangan besar bagi dunia hukum dan diplomasi internasional. Lulusan doktor hukum dari Cornell University ini memiliki rekam jejak karier yang sangat cemerlang. Ia pernah mengabdi sebagai jaksa, duta besar untuk Austria, hingga menjabat posisi penting di PBB dalam menangani isu kejahatan dan narkotika.
Di dalam negeri, ia dikenal sebagai sosok progresif yang memperjuangkan reformasi sistem peradilan, khususnya yang berkaitan dengan hak asasi manusia bagi narapidana perempuan. Keberaniannya dan dedikasinya membuatnya dianugerahi pangkat jenderal dalam pengawal pribadi kerajaan.
Kepergian Putri Bajrakitiyabha kini menyisakan ruang hampa dalam struktur monarki Thailand. Sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan yang paling menonjol dan dicintai rakyat, sosoknya sempat digadang-gadang memiliki peran sentral dalam masa depan kepemimpinan Thailand. Kini, dunia hanya bisa mengenang dedikasi dan senyum sang putri yang pernah begitu aktif mengabdi bagi rakyatnya.