Ikuti Kami
kabarmalam.com

Waspada Tren Ngopi Gen Z: Manis di Lidah, Ternyata Berisiko Picu Kerusakan Liver

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 11 Jun 2026 19:34 WIB
Waspada Tren Ngopi Gen Z: Manis di Lidah, Ternyata Berisiko Picu Kerusakan Liver

Kabarmalam.com — Riuh rendah suara mesin espresso dan aroma biji kopi yang dipanggang kini menjadi latar belakang kehidupan sehari-hari Generasi Z (Gen Z). Menghabiskan waktu berjam-jam di kedai kopi untuk mengerjakan tugas kuliah, menyelesaikan pekerjaan kantor dengan konsep Work From Cafe (WFC), hingga sekadar bersosialisasi sudah menjadi identitas budaya masa kini. Namun, di balik segelas es kopi susu kekinian yang tampak menyegarkan, tersimpan ancaman tersembunyi yang bisa berakibat fatal bagi organ dalam, khususnya hati atau liver.

Kebiasaan mengonsumsi minuman manis yang sedang tren ini nyatanya tidak selalu memberikan dampak positif bagi tubuh. Kandungan gula yang melimpah, penggunaan susu murni (full cream), hingga tambahan krimer yang berlebihan menjadi faktor utama pemicu kondisi fatty liver atau perlemakan hati. Secara biologis, organ hati akan mengubah kelebihan asupan gula menjadi cadangan lemak, sementara kandungan lemak jenuh pada susu dan krimer menambah beban kerja organ vital tersebut.

Baca Juga  Bayang-Bayang Maut Liquid BBL: Kisah Tragis Model Christina Ashten Gourkani yang Berakhir Pilu

Sisi Gelap di Balik Bahan Tambahan Kopi

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Dicky Levenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, mengungkapkan bahwa sebenarnya biji kopi itu sendiri tidak membawa dampak buruk. Masalah utamanya terletak pada apa yang kita campurkan ke dalam gelas tersebut. Menurutnya, masyarakat perlu lebih jeli memperhatikan bahan tambahan yang seringkali tidak disadari jumlahnya.

“Masalahnya ada pada tambahannya ini. Entah itu krimernya, gulanya, atau jenis pemanis yang digunakan. Terkadang bukan glukosa biasa yang dipakai, melainkan maple syrup atau fruktosa. Bahan-bahan inilah yang justru meningkatkan risiko penyakit liver,” jelas dr. Dicky saat ditemui dalam sebuah kesempatan di Jakarta Pusat baru-baru ini.

Baca Juga  Rahasia Tetap Bugar di Usia 35 Plus: 5 Tips Pakar untuk Menghambat Penuaan Dini

Kopi di Luar Negeri vs Budaya ‘Air Gula’ di Indonesia

Menariknya, dr. Dicky menyoroti perbedaan signifikan antara budaya minum kopi di luar negeri dengan di Indonesia. Berdasarkan data penelitian dari sekitar 25 tahun silam, terdapat perbedaan efek kesehatan yang cukup kontras. Di mancanegara, konsumsi kopi murni justru dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes. Namun, fenomena sebaliknya justru ditemukan pada kebiasaan masyarakat lokal.

“Kalau di luar negeri, minum kopi menurunkan risiko diabetes. Tapi di sini, contohnya di Depok, orang minum kopi justru angka diabetesnya naik,” tuturnya dengan nada prihatin. Beliau menambahkan bahwa apa yang dikonsumsi masyarakat kebanyakan bukanlah kopi murni, melainkan kopi sachet atau kopi kekinian yang kaya akan pemanis. “Itu bisa dibilang air gula rasa kopi. Jadi jangan salahkan kopinya, tapi salahkan pemanis dan bahan aditif tambahannya,” tegas dr. Dicky.

Baca Juga  Tips Jaga Stamina Prima Saat Ibadah Haji: Panduan Lengkap Agar Tubuh Tetap Bugar di Tanah Suci

Ilusi Label ‘Less Sugar’

Menyadari isu kesehatan yang mulai meningkat, banyak gerai kopi kini menawarkan opsi gaya hidup sehat melalui pilihan less sugar. Meski terdengar lebih aman, dr. Dicky mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan tidak mudah terkecoh. Definisi ‘kurang gula’ pada setiap gerai kopi bersifat subjektif dan tidak memiliki standar baku kesehatan yang pasti.

“Definisi less sugar ini seringkali masih sangat kabur. Kadang meski labelnya sudah less sugar, rasanya masih sangat manis sekali bagi standar kesehatan. Kita tidak tahu pasti berapa takaran sebenarnya yang dikurangi,” pungkasnya menutup pembicaraan. Bagi para penikmat kopi, mungkin sudah saatnya untuk kembali ke esensi kopi hitam tanpa tambahan, demi menjaga agar liver tetap sehat di masa depan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid