Ikuti Kami
kabarmalam.com

Perjuangan Ivan Fahrurozi Melawan Gagal Ginjal Stadium 5: Dari Trauma Cuci Darah hingga Bangkit Lewat Transplantasi

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 11 Jun 2026 17:34 WIB
Perjuangan Ivan Fahrurozi Melawan Gagal Ginjal Stadium 5: Dari Trauma Cuci Darah hingga Bangkit Lewat Transplantasi

Kabarmalam.com — Sebuah kisah menyentuh sekaligus penuh pembelajaran datang dari seorang pria asal Palu, Sulawesi Tengah, bernama Ivan Fahrurozi. Di usianya yang masih tergolong muda, yakni 28 tahun, Ivan harus berhadapan dengan kenyataan pahit ketika didiagnosis menderita gagal ginjal kronis stadium 5 pada awal tahun 2025. Perjalanannya melewati masa kritis hingga kembali sehat menjadi viral di media sosial dan memberikan perspektif baru bagi masyarakat luas.

Ironi Ketakutan Terhadap Obat

Penyebab utama kerusakan ginjal yang dialami Ivan ternyata berakar dari kondisi hipertensi atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Ironisnya, Ivan sempat terjebak dalam mitos yang menyesatkan. Ia mengaku sengaja tidak mengonsumsi obat hipertensi secara rutin karena merasa khawatir zat kimia dalam obat tersebut justru akan merusak ginjalnya di kemudian hari.

Baca Juga  Duel Nutrisi "Si Kembar" Kedelai: Siapa yang Lebih Unggul Antara Tempe dan Tahu?

“Dulu saya beranggapan kalau terus-menerus minum obat, ginjal saya malah rusak. Ternyata pemikiran itu salah besar. Justru obat hipertensi itulah yang bertugas melindungi ginjal dari beban kerja berlebih akibat tekanan darah tinggi,” ungkap Ivan sebagaimana dilansir dari konten edukasi di akun Instagram pribadinya.

Terjebak Misinformasi dan Pengobatan Alternatif

Ketika vonis gagal ginjal kronis stadium 5 itu jatuh, dokter menyarankan Ivan untuk segera menjalani prosedur cuci darah (hemodialisis). Namun, rasa takut kembali menghantuinya. Terpapar berbagai hoaks dan cerita menakutkan mengenai dampak cuci darah, Ivan memilih untuk berpaling ke pengobatan alternatif.

Tak tanggung-tanggung, ia menghabiskan biaya hingga puluhan juta rupiah demi mencari kesembuhan instan di luar jalur medis. Namun, alih-alih membaik, kondisi fisiknya justru merosot tajam. Tubuhnya mulai membengkak, sesak napas menjadi makanan sehari-hari, kulitnya menggelap, bahkan ia sering mengalami muntah-muntah hebat hingga sulit untuk sekadar bergerak.

Baca Juga  Ancaman 'Si Asin' di Balik Meja Makan: Mengapa Jantung Gen Z Malaysia Kini Berada dalam Bahaya?

Titik Balik dan Keajaiban Transplantasi

Pada akhir tahun 2025, ketika tubuhnya sudah berada di titik terendah, Ivan akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mengikuti saran medis. Ia mulai menjalani rutinitas cuci darah. Ternyata, ketakutan yang selama ini ia pelihara tidak terbukti. “Setelah cuci darah, tubuh saya terasa jauh lebih ringan. Napas menjadi lega, nafsu makan kembali, dan saya bisa beraktivitas lagi tanpa rasa mual,” kenangnya.

Perjuangan Ivan mencapai puncaknya pada Mei 2026. Ia mendapatkan kesempatan untuk menjalani prosedur transplantasi ginjal. Kabar harunya, sang ayah adalah sosok yang mendonorkan satu ginjalnya demi keberlangsungan hidup sang putra. Operasi besar tersebut berjalan sukses dan mengubah hidup Ivan sepenuhnya.

Baca Juga  Alarm Darurat Gagal Ginjal di Malaysia: Akankah Menjadi Ledakan Kasus di Masa Depan?

“Setelah transplantasi, kehidupan saya kembali normal. Saya tidak perlu lagi cuci darah, pola makan sudah lebih bebas, dan stamina saya kembali seperti dulu,” tutur Ivan penuh syukur. Kini, melalui akun media sosialnya, Ivan aktif memberikan edukasi dan pendampingan bagi pasien lain yang ingin menempuh jalan transplantasi, berharap tak ada lagi orang yang terjebak dalam ketakutan dan misinformasi yang sama.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid