Ancaman El Nino Ekstrem: Ilmuwan Bunyikan ‘Sirene Bahaya’ Terkait Krisis Pangan dan Iklim Global
Jumat, 12 Jun 2026 17:34 WIB
Kabarmalam.com — Langit dunia kini tengah dibayangi oleh ancaman serius dari fenomena alam yang sudah lama diwaspadai. Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) secara resmi mengonfirmasi bahwa fenomena El Nino telah tiba. Bukan sekadar siklus biasa, para ilmuwan bahkan memberikan peringatan dini bahwa anomali iklim kali ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dan paling destruktif dalam sejarah pencatatan manusia.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator bagian tengah hingga timur yang terjadi secara alami. Namun, kemunculannya kali ini memicu kekhawatiran ganda. Para ahli memprediksi bahwa panas dari El Nino akan berpadu dengan pemanasan global akibat emisi bahan bakar fosil, menciptakan kombinasi mematikan yang dapat memicu berbagai bencana alam di seluruh penjuru bumi.
Rekor Baru dan Potensi Dampak yang Menghancurkan
Berdasarkan data terbaru dari NOAA, kondisi El Nino telah berkembang pesat sepanjang bulan lalu. Peringatan tersebut menyoroti adanya probabilitas sebesar 63 persen bahwa fenomena ini akan mencapai intensitas “sangat kuat” pada periode November hingga Januari mendatang. Jika prediksi ini akurat, maka El Nino tahun ini akan bersanding dengan peristiwa-peristiwa iklim ekstrem terbesar yang pernah tercatat sejak tahun 1950.
Dampak dari suhu laut yang memanas ini tidaklah main-main. Meskipun setiap kejadian memiliki karakteristik unik, El Nino yang kuat cenderung membawa pola cuaca yang serupa. Wilayah seperti Indonesia, Australia, dan sebagian hutan Amazon diprediksi akan menghadapi ancaman kekeringan parah. Sementara itu, India mungkin akan mengalami gangguan pada musim monsun, dan wilayah tropis lainnya akan merasakan perubahan drastis pada pola curah hujan yang biasanya teratur.
‘Sirene Mematikan’ bagi Masyarakat Rentan
Layanan Perubahan Iklim Copernicus dari Eropa turut memperkuat kekhawatiran ini. Direktur Copernicus, Carlo Buontempo, menyatakan bahwa peluang terjadinya El Nino dengan kekuatan yang memecahkan rekor kini semakin nyata. Senada dengan hal tersebut, Mohamed Adow, Direktur lembaga iklim Power Shift Africa, memberikan narasi yang lebih emosional sekaligus mengerikan.
Menurut Adow, El Nino bukanlah sekadar berita prakiraan cuaca yang lewat begitu saja di layar televisi. “Bagi jutaan orang di dunia, ini adalah sirene mematikan yang harus ditakuti,” tegasnya. Ia merujuk pada dampak nyata di lapangan: kegagalan panen masal, kematian ternak, lonjakan harga bahan pokok, hingga ancaman kelaparan yang akan memaksa keluarga-keluarga miskin jatuh ke dalam jurang kesulitan ekonomi yang lebih dalam.
Seruan Aksi Global dari PBB
Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, meminta komunitas internasional untuk tidak menganggap remeh cuaca ekstrem yang akan datang. Guterres menekankan bahwa El Nino akan memperparah suhu bumi yang sudah kian mendidih. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan mempercepat aksi iklim secara radikal.
Pihak PBB mendesak dunia untuk segera mengakhiri ketergantungan pada bahan bakar fosil dan beralih ke energi terbarukan. Selain itu, penyediaan sistem peringatan dini bagi seluruh lapisan masyarakat dan perlindungan bagi kelompok yang paling rentan menjadi prioritas utama guna meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan kerugian materi akibat amukan iklim ini.
Dengan masa puncak yang diprediksi terjadi di penghujung tahun, dampak dari panas yang tersimpan di lautan ini diperkirakan baru akan terasa secara maksimal pada tahun berikutnya. Kini, dunia hanya bisa bersiap dan memperkuat mitigasi sebelum ‘sirene’ tersebut benar-benar berubah menjadi bencana nyata yang tak terelakkan.