Ikuti Kami
kabarmalam.com

Polemik Alkes ‘OTW’ di RSUD Krui: Menkes Budi Minta Maaf ke Prabowo, Ini Penjelasan Lengkap Kemenkes

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 11 Jun 2026 13:04 WIB
Polemik Alkes 'OTW' di RSUD Krui: Menkes Budi Minta Maaf ke Prabowo, Ini Penjelasan Lengkap Kemenkes

Kabarmalam.com — Sebuah momen tak terduga terekam kamera saat Presiden Prabowo Subianto meresmikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KH Muhammad Thohir Krui di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, pada Rabu (10/6/2026). Peresmian yang seharusnya menjadi kabar gembira bagi warga Lampung tersebut justru memicu kegaduhan di jagat maya, setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melontarkan permohonan maaf terkait fasilitas kesehatan yang belum lengkap sepenuhnya.

Narasi liar sempat berkembang di media sosial yang menuding peresmian tersebut hanyalah sebuah seremoni tanpa isi. Kritik pedas netizen menyebut fasilitas tersebut sebagai “janji kosong” lantaran alat kesehatan (alkes) canggih dilaporkan masih dalam status pemesanan atau sedang dalam perjalanan (on the way). Namun, di balik keriuhan tersebut, tersimpan fakta-fakta yang perlu dipahami secara jernih mengenai standar operasional sebuah rumah sakit daerah.

Dialog Menkes dan Presiden Prabowo yang Viral

Pemicu utama perbincangan publik bermula saat Presiden Prabowo melakukan peninjauan langsung ke sejumlah ruangan. Dengan nada tegas, Prabowo mempertanyakan keberadaan alat penunjang medis kelas berat. “MRI ada? Ada MRI?” tanya Prabowo, sebagaimana dikutip dari tayangan resmi Sekretariat Presiden.

Baca Juga  Pertemuan Strategis di Hambalang: Presiden Prabowo dan Kapolri Bahas Stabilitas Nasional hingga Program Unggulan

Menanggapi pertanyaan tersebut, Menkes Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa strategi pengadaan alat kesehatan dilakukan secara bertahap dan proporsional. Ia memaparkan bahwa untuk tingkat kabupaten, fokus utama diberikan pada CT Scan dan Catheterization Laboratory (Cathlab). Hal ini didasari pertimbangan efisiensi anggaran, di mana harga satu unit MRI bisa menyentuh angka Rp 20 miliar, sementara CT Scan berada di kisaran Rp 9 miliar yang lebih diprioritaskan untuk distribusi tingkat provinsi.

Namun, kejujuran Menkes yang mengakui adanya keterlambatan pemesanan justru menjadi sorotan. “Cathlab-nya ada, Pak. Cuma sedang on the way, Pak. Mohon maaf nih, ini perbaikan bagi saya. Gedungnya jadi, baru diorder. Saya harusnya memesan sebelum gedung selesai,” ujar Menkes dengan sikap ksatria di hadapan Presiden.

Baca Juga  Hapus Stigma 'Kelas Dua', Menkes Budi Gunadi Dorong Puskesmas Jadi Garda Terdepan Sehebat Singapura

Klarifikasi Kemenkes: Bukan Sekadar Seremoni

Menanggapi polemik yang makin memanas, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Azhar Jaya, yang akrab disapa Aco, memberikan penjelasan mendalam. Ia membantah keras jika RSUD Krui dianggap belum siap beroperasi. Menurutnya, pelayanan kesehatan dasar bahkan tindakan operasi sudah mulai dijalankan di rumah sakit tersebut untuk melayani masyarakat setempat.

Terkait alkes canggih seperti Cathlab yang belum terpasang, Aco menjelaskan bahwa ada prosedur ketat yang tidak bisa ditawar, terutama menyangkut izin dari BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir). “Untuk memasang Cathlab, ruangannya harus melalui uji kelayakan terlebih dahulu. Kita harus memastikan tidak ada kebocoran radiasi, dan proses sertifikasi ini memang memakan waktu, tidak bisa instan,” tegasnya saat ditemui di gedung Kemenkes RI.

Baca Juga  Transformasi Layanan Kesehatan Modern, Brawijaya Hospital Hadirkan 4 Center of Excellence Berteknologi Mutakhir

Demi Akses Kesehatan Masyarakat Lampung

Keputusan untuk tetap meresmikan RSUD KH Muhammad Thohir Krui meski beberapa alat canggih masih dalam proses instalasi didasari oleh urgensi kemanusiaan. Selama ini, masyarakat di Kabupaten Pesisir Barat harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan hingga lebih dari 7 jam untuk mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan yang memadai.

“Masyarakat sangat antusias. Mereka mendapatkan gedung rumah sakit yang bagus dan pelayanan yang mulai berjalan. Jika harus menunggu seluruh alat canggih siap 100 persen, warga harus menunggu tiga hingga empat bulan lagi untuk mendapatkan pengobatan. Kami memilih untuk membuka pelayanan lebih awal demi mempermudah akses pengobatan mereka,” tambah Aco.

Dengan hadirnya RSUD Krui, diharapkan ketimpangan akses kesehatan di wilayah Lampung dapat segera teratasi, meskipun proses penyempurnaan fasilitas kesehatan masih terus berlangsung di bawah pengawasan ketat Kementerian Kesehatan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid