Hapus Stigma ‘Kelas Dua’, Menkes Budi Gunadi Dorong Puskesmas Jadi Garda Terdepan Sehebat Singapura
Senin, 08 Jun 2026 15:35 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah upaya pemerintah merombak sistem kesehatan nasional, sebuah realitas pahit diungkapkan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Hingga kini, profesi dokter yang bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) masih sering dipandang sebelah mata. Stigma sebagai ‘dokter kelas dua’ dibandingkan dokter spesialis menjadi tembok besar yang membuat banyak tenaga medis berbakat enggan bertahan di tingkat layanan kesehatan primer.
Transformasi Paradigma: Belajar dari Singapura dan Belanda
Menteri Budi menekankan bahwa Indonesia harus segera mengubah pola pikir kuno tersebut. Ia menyoroti bagaimana negara-negara dengan sistem kesehatan yang sudah mapan, seperti Belanda dan Singapura, justru menempatkan dokter keluarga atau family doctor sebagai ujung tombak yang paling strategis.
“Di Indonesia ini unik, semua dokter ingin menjadi spesialis. Dampaknya, dokter-dokter terbaik jarang ada yang mau menetap di puskesmas,” ungkap Budi dalam sebuah diskusi pada Senin lalu. Fenomena ini menciptakan lubang besar dalam sistem pelayanan dasar kita.
Menurutnya, banyak dokter di puskesmas merasa karier mereka stagnan dan tidak memiliki gengsi sebesar dokter spesialis. Hal ini memicu persepsi bahwa mereka yang bertahan di puskesmas adalah mereka yang ‘pasrah’ karena tidak mampu menembus jalur spesialisasi. Padahal, peran dokter di garda depan sangatlah krusial untuk mendeteksi dini penyakit sebelum kondisi pasien memburuk.
Sentilan Menkes Singapura: Spesialis untuk Indonesia, Dokter Keluarga untuk Kami
Dalam narasinya, Budi membagikan sebuah anekdot menarik saat berbincang dengan Menteri Kesehatan Singapura. Singapura saat ini sedang giat-giatnya mengarahkan agar mayoritas masalah kesehatan masyarakat tuntas di tingkat layanan primer.
“Menteri Kesehatan Singapura pernah bercanda kepada saya, katanya dokter spesialis buat orang Indonesia saja, tapi di Singapura, semua urusan kesehatan harusnya selesai di tangan family doctor,” tutur Budi. Pesan ini mengandung makna mendalam bahwa kehebatan sebuah sistem kesehatan bukan diukur dari banyaknya rumah sakit rujukan, melainkan seberapa kuat pertahanan di tingkat dasarnya.
Belanda juga menjadi rujukan utama. Dalam dua dekade terakhir, Negeri Kincir Angin tersebut sukses melakukan transformasi besar-besaran sehingga dokter keluarga memiliki wewenang dan kompetensi tinggi untuk menangani berbagai kasus medis, kecuali yang benar-benar memerlukan penanganan rumit di rumah sakit.
Memperkuat Karier dan Kompetensi di Puskesmas
Kementerian Kesehatan kini berkomitmen untuk memberikan kepastian jalur karier bagi dokter puskesmas. Tujuannya jelas: agar mereka tidak lagi merasa minder. Transformasi ini mencakup peningkatan kompetensi sehingga dokter layanan primer memiliki kemampuan yang setara dengan standar global.
Data internal menunjukkan sebuah tantangan besar: sekitar 99,2 persen puskesmas di tanah air masih sangat membutuhkan dokter dengan kompetensi layanan primer yang mumpuni. Untuk menutup celah tersebut, pemerintah berencana:
- Memperkuat jalur karier dan insentif bagi dokter layanan primer.
- Melakukan transformasi pendidikan kedokteran yang lebih fokus pada layanan keluarga.
- Melengkapi puskesmas dengan fasilitas dan tenaga spesialis dasar guna menekan angka rujukan ke rumah sakit.
“Kita ingin melompat lebih jauh, melakukan benchmarking langsung dengan standar dunia. Kedepannya, wewenang medis akan diturunkan ke bawah, ke layanan family care, agar rumah sakit hanya menangani kasus yang sangat kompleks,” pungkas Budi Gunadi Sadikin.