20 Tahun Menjelajah Alam Liar, Heru Gundul Bagikan Sisi Lain Kehidupan Sang Penakluk Reptil
Senin, 08 Jun 2026 15:34 WIB
Kabarmalam.com — Sosok pria berkepala plontos dengan keberanian luar biasa saat berhadapan dengan satwa liar sudah tidak asing lagi di layar kaca. Heru Gundul, sang pemandu program legendaris, baru-baru ini membuka tabir mengenai perjalanan hidupnya selama hampir dua dekade menjadi wajah utama dalam berbagai dokumenter petualangan. Meski identik dengan risiko tinggi, pria yang ahli dalam menangani ular kobra ini justru mengaku lebih banyak memanen kebahagiaan ketimbang duka dalam profesinya.
Piknik Tiap Hari di Balik Risiko Nyawa
Bagi banyak orang, liburan ke destinasi eksotis adalah momen yang langka. Namun bagi Heru, alam liar adalah kantor sekaligus tempat bermainnya. Dalam sebuah bincang santai di kawasan Jakarta Selatan, ia mengungkapkan bahwa profesinya memungkinkan dirinya bertemu dengan banyak orang baru dan menjalin persaudaraan di berbagai pelosok nusantara.
“Sukanya ya kita banyak ketemu orang, otomatis banyak saudara. Di saat orang lain susah buat piknik, aku bisa dibilang setiap hari piknik,” ujarnya dengan nada santai. Namun, ia tidak menampik bahwa ada harga yang harus dibayar. Kelelahan fisik yang ekstrem dan waktu yang tersita jauh dari keluarga menjadi sisi kelam dari gemerlapnya dunia pertelevisian yang ia jalani selama 20 tahun terakhir.
Kenangan Dramatis di Raja Ampat
Salah satu fragmen perjalanan yang paling membekas di benaknya terjadi pada tahun 2006 di perairan Raja Ampat. Kala itu, Heru mendapatkan tugas unik dari produser untuk mengawal tim penyelam profesional hanya dengan bermodalkan perlengkapan snorkeling. Sebuah situasi yang terdengar mustahil, namun justru menjadi momen heroik.
Di tengah proses pengambilan gambar, sebuah insiden darurat terjadi. Rekan sejawatnya, Ulung Putri, mengalami kecelakaan medis di bawah air akibat tekanan karang hingga jatuh pingsan. Dengan sigap, Heru yang hanya berada di permukaan air langsung melakukan aksi penyelamatan. “Aku sempat bantu bawa ke atas dan berenang ke kapal. Itu hal yang di luar nalar tapi ternyata sangat bermanfaat,” kenangnya.
Sisi Lain: Sang Relawan Kemanusiaan
Tak banyak yang tahu bahwa di balik aksinya menaklukkan reptil, Heru Gundul adalah sosok yang sangat aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Saat kamera padam, ia melepas atribut artisnya dan mengenakan seragam relawan. Ia tercatat sebagai anggota aktif pemadam kebakaran, SAR DIY, hingga relawan BPBD di Yogyakarta.
Bagi Heru, prinsip menghadapi bencana alam maupun hewan buas adalah sama: persiapan dan ketenangan. Menurutnya, masalah muncul bukan karena bahayanya situasi, melainkan karena kurangnya kapasitas dan kesiapan diri dalam menghadapi risiko tersebut.
Filosofi Ikat Kepala dan Branding Diri
Salah satu hal yang sering ditanyakan penggemar adalah perihal ikat kepala yang mulai jarang ia kenakan. Heru menjelaskan dengan tawa kecil bahwa aksesori tersebut awalnya murni berfungsi teknis untuk melindungi kepalanya dari sengatan matahari yang menyengat saat syuting di lapangan terbuka.
Kini, ia sengaja tampil lebih apa adanya sebagai bagian dari strategi personal branding. Ia ingin masyarakat mengenalnya sebagai Heru yang utuh, baik dengan atau tanpa atribut khas yang membesarkan namanya di televisi.
Mewariskan Kecintaan pada Alam
Meski jadwalnya sangat padat, Heru tetap memprioritaskan peran sebagai seorang ayah. Ia kerap memboyong anak-anaknya ke lokasi syuting untuk memberikan pemahaman langsung mengenai profesinya. Melalui cara ini, ia berharap generasi penerusnya tidak hanya mencintai alam, tetapi juga memiliki jiwa sosial yang tinggi untuk berguna bagi masyarakat luas.
Perjalanan dua dekade Heru Gundul adalah bukti bahwa konsistensi, keberanian, dan empati bisa berjalan beriringan dalam menciptakan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi.