Misteri Sugar Craving: Mengapa Otak Kita Begitu Terobsesi dengan Rasa Manis?
Minggu, 07 Jun 2026 17:35 WIB
Kabarmalam.com — Pernahkah Anda mendapati diri Anda tiba-tiba mendambakan sebatang cokelat atau segelas minuman boba yang manis, padahal perut baru saja diisi? Fenomena yang sering disebut sebagai sugar craving ini bukanlah sekadar keinginan manja lidah, melainkan sebuah mekanisme kompleks yang melibatkan kerja otak dan sistem metabolisme tubuh kita.
Di tengah kepungan tren kuliner kekinian yang sarat akan pemanis, godaan rasa manis menjadi tantangan nyata bagi banyak orang. Namun, apa yang sebenarnya memicu ledakan keinginan tersebut? Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr. Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K, mengungkapkan bahwa daya tarik rasa manis jauh melampaui urusan kesehatan fisik semata. Ada dimensi psikologis yang bermain di sana, di mana rasa manis mampu memberikan rasa nyaman yang instan.
Sinyal Kepuasan di Balik Gigitan Manis
Menurut dr. Laurencia, rasa manis memicu efek ‘enjoyment’ yang sulit ditolak oleh konsumen. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah diskusi mendalam mengenai ancaman gula tersembunyi yang kerap menjebak masyarakat urban. Secara biologis, rasa manis memiliki koneksi erat dengan reward system atau sistem penghargaan di otak kita.
Saat molekul gula menyentuh reseptor di lidah, sinyal kegembiraan dikirimkan langsung ke pusat otak yang mengatur motivasi dan rasa senang. Proses ini merangsang pelepasan dopamin, neurotransmiter yang bertanggung jawab atas perasaan puas dan bahagia. Inilah alasan mengapa setelah hari yang panjang dan melelahkan, pilihan makanan manis seolah menjadi kompensasi emosional yang paling dicari.
Jalur Komunikasi Usus dan Otak
Menariknya, sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Psychopharmacology (2025) dan Cell Metabolism (2024) memperkuat bukti bahwa tubuh kita memiliki jalur khusus antara usus dan otak untuk mendeteksi keberadaan gula. Jalur saraf ini mampu mendeteksi asupan glukosa di saluran cerna dan segera mengaktifkan pusat penghargaan di otak, meski kita tidak secara sadar sedang lapar.
Mekanisme ini menjelaskan mengapa makanan manis terasa jauh lebih memuaskan dibandingkan jenis makanan lainnya. Otak merekam pengalaman manis tersebut sebagai memori yang menyenangkan, sehingga muncul dorongan untuk terus mengulangi pengalaman tersebut di lain waktu. Ini adalah tantangan besar dalam menjaga pola makan yang seimbang.
Melawan Jebakan ‘Hidden Sugar’ dengan Kesadaran
Meskipun keinginan untuk mengonsumsi yang manis adalah hal yang manusiawi, dr. Laurencia mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap hidden sugar atau gula tersembunyi. Banyak produk kemasan yang kita konsumsi sehari-hari mengandung kadar gula tinggi yang tidak kita sadari, yang jika dibiarkan akan berdampak buruk pada berat badan dan metabolisme.
Solusi yang ditawarkan bukanlah pelarangan total, melainkan penerapan mindful eating. “Langkah utama adalah kesadaran penuh terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Kita harus kritis melihat label nutrisi dan memahami kandungan gizinya,” jelas dr. Laurencia. Dengan mindful eating, seseorang diajak untuk menikmati makanan secara sadar, memperhatikan porsi, dan memahami dampak dari setiap suapan.
Dengan cara ini, Anda tetap bisa menikmati sensasi manis tanpa harus terjebak dalam siklus kecanduan gula yang merugikan. Kuncinya terletak pada kendali diri dan pemahaman bahwa rasa manis seharusnya menjadi pelengkap, bukan pelarian emosional utama dalam aktivitas sehari-hari.