Kisah Haru Bocah 12 Tahun di Bandung Barat Berjuang Melawan Diabetes Tipe 1: Bukan Sekadar Konsumsi Gula
Minggu, 07 Jun 2026 18:35 WIB
Kabarmalam.com — Dunia anak-anak seharusnya dipenuhi dengan keceriaan tanpa beban, namun bagi A, seorang gadis berusia 12 tahun asal Bandung Barat, realitas hidup menuntutnya untuk menjadi jauh lebih kuat dari usianya. Unggahan sang ibu, Dicka Armitasari (38), mendadak viral di jagat maya setelah ia membagikan perjuangan putrinya yang didiagnosis mengidap diabetes tipe 1, sebuah kondisi medis yang memaksa bocah tersebut akrab dengan rutinitas pemantauan gula darah setiap harinya.
Diagnosis Tak Terduga di Usia Belia
Perjalanan medis A dimulai pada April 2025, saat ia baru menginjak usia 11 tahun. Dicka menceritakan bahwa vonis tersebut datang bagai petir di siang bolong. Berbeda dengan pandangan umum masyarakat yang sering kali mengaitkan diabetes dengan pola makan buruk atau konsumsi gula berlebih, kondisi yang dialami A murni disebabkan oleh gangguan autoimun.
“Dokter menjelaskan bahwa diabetes tipe satu ini adalah kondisi autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh justru menyerang pankreas sendiri. Jadi, ini bukan karena dia terlalu banyak mengonsumsi gula atau faktor keturunan langsung,” ungkap Dicka melalui akun Instagram miliknya, sebagaimana dikutip oleh Kabarmalam.com.
Mengenali Gejala Klasik yang Sering Terabaikan
Sebelum diagnosis resmi ditegakkan, Dicka mencermati adanya perubahan fisik dan perilaku pada putrinya yang merupakan gejala diabetes klasik. A dilaporkan sering terbangun di malam hari hanya untuk buang air kecil, merasa haus yang tidak kunjung hilang, hingga penurunan berat badan yang drastis meski nafsu makannya tetap tinggi.
Tak hanya itu, tubuh A sering kali terasa lemas tak bertenaga dan napasnya mengeluarkan aroma manis seperti buah, sebuah tanda medis yang dikenal sebagai ketoasidosis. Pada awalnya, Dicka sempat mengira buah hatinya hanya mengalami kelelahan akibat aktivitas sekolah yang padat. Namun, naluri seorang ibu membawanya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut hingga tabir kondisi medis sang anak terungkap.
Melawan Stigma dan Harapan Menjadi Inspirasi
Melalui platform media sosial, Dicka memiliki misi besar untuk mengedukasi masyarakat luas mengenai perbedaan mendasar antara diabetes tipe 1 dan tipe 2. Ia ingin memutus rantai stigma negatif yang sering kali berujung pada tindakan perundungan terhadap anak-anak penyandang diabetes.
“Harapan saya sederhana, saya ingin A tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan sadar bahwa dia tidak berjuang sendirian di dunia ini. Saya tidak ingin ada lagi anak dengan diabetes tipe satu yang dikucilkan atau terkena bullying hanya karena kondisi medis mereka,” tambah Dicka dengan nada optimis.
Menariknya, di tengah perjuangan melawan penyakit kronis ini, A menyimpan cita-cita mulia. Ia bertekad untuk menjadi seorang dokter spesialis anak di masa depan. Pengalaman pribadinya sebagai pasien diharapkan dapat menjadi modal empati untuk membantu anak-anak lain yang menghadapi tantangan serupa, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih mimpi setinggi langit.