Perjuangan Heru Gundul Pulihkan Mata Setelah Terjang Semburan Bisa Kobra: 18 Jam dalam Kegelapan
Sabtu, 06 Jun 2026 12:34 WIB
Kabarmalam.com — Dunia petualangan alam liar memang tak pernah lepas dari risiko yang mengancam nyawa, dan bagi sosok Heru Gundul, bahaya seolah sudah menjadi kawan akrab. Presenter legendaris program dokumenter ini baru saja membagikan kisah mencekam saat dirinya harus bergelut dengan kegelapan total selama 18 jam. Penyebabnya tak main-main: semburan bisa ular kobra yang tepat mengenai kedua matanya saat ia sedang melakukan aksi penyelamatan.
Insiden tersebut sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial. Heru menceritakan bahwa efek dari racun reptil tersebut membuat kelopak matanya membengkak hebat hingga ia sama sekali tidak bisa melihat. Pengalaman traumatis ini ia bagikan saat ditemui di Studio FYP Trans 7 di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan.
Dedikasi di Tengah Ancaman Kebutaan
Menariknya, meski berada dalam situasi darurat, Heru Gundul menunjukkan profesionalisme yang luar biasa sebagai seorang ahli ular. Alih-alih langsung menyelamatkan dirinya sendiri, ia justru memprioritaskan keamanan orang-orang di sekitarnya. Ia bersikeras mengamankan ular kobra tersebut terlebih dahulu agar tidak memakan korban lain, meskipun itu berarti menunda pembersihan matanya yang sudah terpapar racun.
“Kemarin memang sempat kesembur ular kobra dan 18 jam tidak bisa buka mata. Karena terkena tepat di bawah kelopak mata, jadi bengkak dan tidak bisa melek. Saya tahan dulu karena harus mengamankan ularnya supaya tidak menggigit orang lain,” kenang Heru dengan nada tenang.
Metode Pemulihan: Antara Air Mengalir dan Ramuan Herbal
Keterlambatan penanganan selama beberapa menit tersebut berakibat pada menumpuknya sisa racun di balik bola mata. Untuk memulihkan penglihatannya, Heru melakukan langkah-langkah medis mandiri yang cukup intens. Setelah membersihkan mata dengan air mengalir sebagai pertolongan pertama, ia melanjutkan pengobatan menggunakan madu mata yang telah dicampur dengan ramuan herbal khusus.
Proses ini, menurutnya, terasa sangat perih namun efektif. Campuran tersebut dirancang untuk merangsang produksi air mata secara terus-menerus guna mendorong sisa bisa kobra keluar dari rongga mata secara alami. Jika biasanya ia hanya butuh waktu singkat untuk pulih dari insiden serupa, kali ini kondisinya jauh lebih parah sehingga membutuhkan waktu hingga hampir satu hari penuh untuk kembali normal.
Risiko Profesi yang Dianggap Biasa
Bagi masyarakat awam, apa yang dialami Heru mungkin terdengar seperti mimpi buruk. Namun, bagi pria yang mendedikasikan hidupnya untuk satwa liar ini, luka dan cedera adalah bagian dari kontrak kerjanya dengan alam. Ia mengibaratkan pekerjaannya seperti bermain api yang pasti akan terkena panas, atau bermain air yang pasti akan basah.
Ketangguhan Heru juga didukung penuh oleh keluarganya. Istri dan anak-anaknya tidak menunjukkan kepanikan yang berlebihan karena mereka sudah sangat memahami kapasitas dan keahlian Heru dalam menangani situasi darurat di lapangan. Kini, setelah matanya kembali berfungsi dengan normal, Heru mengaku tidak kapok dan tetap siap kembali ke hutan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem reptil di Indonesia.