Kisah Mendebarkan Heru ‘Jejak Si Gundul’ Terkena Semburan Bisa Kobra: 18 Jam Tak Bisa Melek
Minggu, 31 Mei 2026 07:34 WIB
Kabarmalam.com — Sebuah insiden mendebarkan baru saja menimpa sang petualang legendaris, Heru Gundul. Pria yang dikenal melalui program televisi ‘Jejak Si Gundul’ ini harus bertaruh nyawa saat berhadapan dengan serangan mematikan seekor ular kobra. Tak tanggung-tanggung, heru harus menanggung rasa sakit yang luar biasa setelah matanya terkena semburan langsung bisa dari ular berbisa tersebut.
Peristiwa ini bermula ketika sosok bernama asli Heru Gundul ini tengah berupaya mengevakuasi seekor ular kobra yang bersembunyi di dalam sebuah lubang di pinggir jalan. Area tersebut merupakan jalur yang sering dilalui warga, sehingga keberadaan ular tersebut sangat membahayakan keselamatan publik. Meskipun rekannya sudah memperingatkan untuk menggunakan kacamata pelindung, pria kelahiran Metro, Lampung, 8 Maret 1973 ini tetap memilih menangani sang reptil dengan tangan kosong tanpa pelindung wajah.
Detik-detik Semburan Bisa Mengenai Mata
Kobra tersebut rupanya berada dalam kondisi yang sangat agresif. Begitu Heru mencoba mengamankan lubang tersebut, sang ular langsung melancarkan serangan balasan dengan menyemburkan bisanya. Heru sempat mencoba menutup matanya dengan tangan secara refleks, namun bisa ular tersebut terlanjur mengenai area sensitif indra penglihatannya.
“Mataku lur, kesembur lur,” ucap Heru dalam rekaman video kronologi yang dibagikannya. Meski dalam kondisi kesakitan, dedikasi Heru patut diacungi jempol. Sebagai ahli ular yang juga merupakan sosok guru bagi Panji Petualang, ia tetap berhasil mengamankan ular tersebut sebelum akhirnya fokus menyelamatkan dirinya sendiri.
Pertolongan Pertama dan Masa Pemulihan
Sesaat setelah ular berhasil diamankan, Heru segera berlari menuju keran air terdekat. Ia menyadari bahwa kunci keselamatan dari semburan bisa adalah kecepatan dalam melakukan pencucian mata menggunakan air yang mengalir. Langkah ini sangat krusial untuk meminimalisir kerusakan permanen pada saraf mata.
Heru menceritakan pengalaman pahitnya setelah insiden tersebut. Selama kurang lebih 18 jam, matanya benar-benar lengket dan tidak bisa dibuka sama sekali. Ia menggambarkan sensasi rasa panas dan perih yang luar biasa, atau dalam istilahnya disebut ‘kemerenyes’.
“Puji Tuhan, kemarin sempat 18 jam nggak bisa melek, mata itu lengket banget, panas, kemerenyes, gandul. Berkat doa kalian sekarang aku melek lagi, sehat, nggak ada apa-apa,” ungkapnya melalui unggahan di media sosial yang memperlihatkan kondisi matanya yang sudah mulai membaik meski masih tampak sedikit bengkak.
Pesan Penting: ‘Safety First’
Melalui kejadian ini, Heru memberikan edukasi penting bagi masyarakat mengenai bahaya evakuasi ular tanpa perlengkapan yang memadai. Ia secara terbuka mengakui kelalaiannya dan berpesan agar aksinya tersebut tidak ditiru oleh orang awam.
“Udah nggak merah, kalau kena merah banget, ini aman cuma masih ganjel. Safety first, hari apes itu nggak ada di kalender, jadi hati-hati dan tetap waspada,” pesan Heru dengan bijak. Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa sekecil apa pun risiko saat menghadapi alam liar, perlindungan diri adalah hal yang paling utama.