Waspada ‘Hidden Sugar’! Ancaman Manis yang Mengintai di Balik Label Makanan Kekinian
Jumat, 05 Jun 2026 11:04 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah kepungan tren kuliner manis yang kian menggoda, sebuah ancaman senyap tengah mengintai kesehatan masyarakat modern. Bukan sekadar soal rasa manis yang kentara, namun ada ‘musuh dalam selimut’ bernama hidden sugar atau gula tersembunyi yang kerap luput dari perhatian kita sehari-hari.
Konsumsi gula yang berlebihan kini bukan lagi sekadar masalah berat badan yang terus melonjak. Dampak jangka panjangnya jauh lebih mengkhawatirkan, yakni peningkatan risiko gangguan metabolisme yang serius. Salah satu yang paling menonjol adalah diabetes mellitus, sebuah kondisi kesehatan yang ironisnya mulai banyak didiagnosis pada kelompok usia produktif dan kaum muda.
Jebakan Istilah dalam Produk Komersial
Masyarakat sering kali terjebak dalam persepsi bahwa gula hanya berasal dari butiran kristal putih yang ditambahkan ke dalam minuman. Padahal, industri pangan menggunakan berbagai istilah teknis untuk menyamarkan kandungan gula dalam label kemasan. Kurangnya pemahaman terhadap label nutrisi membuat banyak orang tidak sadar bahwa mereka telah mengonsumsi kalori harian yang melampaui batas aman.
Edukasi mengenai pembatasan gula sebenarnya telah sering digaungkan. Namun, istilah pemasaran seperti less sugar, low sugar, hingga no sugar sering kali disalahartikan oleh konsumen. Fenomena ini layaknya sebuah ‘perselingkuhan’ dalam menjalani diet; niat hati ingin hidup sehat, namun diam-diam masih terpapar asupan manis yang tidak terkontrol.
Membangun Literasi Gizi melalui Leader’s Forum
Menyadari urgensi tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) bersama Kementerian Kesehatan RI dan berbagai pihak terkait menggelar diskusi mendalam bertajuk ‘Jebakan Hidden Sugar Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gendut’. Forum yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 5 Juni 2026 ini bertujuan untuk mengasah daya kritis masyarakat dalam memilah produk konsumsi harian.
Dalam forum ini, para pakar akan mengupas tuntas pentingnya memahami indeks glikemik dalam pemilihan bahan makanan. Memilih asupan dengan indeks glikemik rendah (GI 44) serta kandungan nutrisi pendukung seperti isomaltulosa dan inulin terbukti efektif menjaga stabilitas gula darah dan memberikan efek kenyang lebih lama.
Menjaga Keseimbangan Tanpa Harus Mengorbankan Rasa
Kabar baiknya, memulai gaya hidup sehat tidak berarti kita harus memutus hubungan sepenuhnya dengan makanan atau minuman favorit. Kuncinya terletak pada moderasi, pemahaman aturan main, serta konsistensi dalam melakukan aktivitas fisik.
Sejumlah narasumber kompeten akan hadir memberikan pandangan mereka, di antaranya:
- Taruna Ikrar (Kepala BPOM)
- dr. Siti Nadia Tarmizi, MEpid (Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes)
- dr. Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K (Health Communicator Kalbe Nutritionals)
- Mufti Mubarok (Ketua BPKN)
Melalui literasi gizi yang lebih baik, diharapkan masyarakat tidak lagi terjebak dalam manisnya ‘tipu daya’ label makanan, sehingga kesehatan metabolik jangka panjang tetap terjaga tanpa harus kehilangan kebahagiaan saat bersantap.