Ikuti Kami
kabarmalam.com

Aksi Heroik di London Marathon: Alasan Haru Jordan Adams Lari Sambil Gendong Kulkas 25 Kg

Wahid | kabarmalam.com
Kamis, 30 Apr 2026 14:34 WIB
Aksi Heroik di London Marathon: Alasan Haru Jordan Adams Lari Sambil Gendong Kulkas 25 Kg

Kabarmalam.com — Di tengah riuh rendah derap langkah ribuan pelari yang memadati aspal London Marathon 2026, sebuah pemandangan tak biasa mendadak menjadi pusat perhatian. Jordan Adams, pria berusia 30 tahun asal Redditch, Inggris, tampak berjuang di lintasan dengan beban yang tak masuk akal di punggungnya: sebuah kulkas seberat 25 kilogram. Namun, di balik aksi nyentrik yang menguras fisik tersebut, terselip sebuah misi kemanusiaan yang menyentuh hati dan penuh dengan pesan mendalam mengenai perjuangan melawan penyakit mematikan.

Beban Fisik sebagai Simbol Perjuangan Mental

Bagi banyak orang, menyelesaikan maraton adalah pencapaian luar biasa. Namun bagi Jordan, tantangan fisik tersebut belum cukup untuk menggambarkan beratnya beban emosional yang ia pikul selama belasan tahun terakhir. Keputusannya membawa kulkas bukan sekadar mencari sensasi, melainkan sebuah metafora nyata dari beban yang harus ditanggung oleh para penderita demensia dan keluarga mereka.

Baca Juga  Libur Imlek 2026 Berdekatan Ramadan, Menpar Widiyanti Ungkap Peluang Emas Ini!

Kisah ini berakar dari tragedi keluarga yang memilukan. Penyakit Demensia Frontotemporal (FTD) telah menjadi momok yang merenggut nyawa 12 anggota kerabat Jordan, termasuk ibunya sendiri, Geraldine. Sang ibu didiagnosis mengidap kondisi ini pada tahun 2010 saat masih berusia 47 tahun, dan harus mengembuskan napas terakhir enam tahun kemudian. Pengalaman pahit inilah yang memicu Jordan untuk meningkatkan kesadaran publik melalui aksi ekstrem di ajang lari bergengsi tersebut.

Mengenal FTD: Pencuri Identitas yang Tersembunyi

Secara medis, Demensia Frontotemporal atau Frontotemporal Lobar Degeneration (FTLD) merupakan kelompok penyakit otak yang secara spesifik menyerang lobus frontal dan temporal. Bagian otak ini bertanggung jawab atas kepribadian, perilaku, dan kemampuan berbahasa. Dalam kondisi FTD, bagian otak tersebut mengalami penyusutan atau atrofi.

Dampak dari penyakit ini sangatlah transformatif sekaligus tragis. Penderitanya sering kali mengalami perubahan kepribadian yang drastis, bertindak impulsif, hingga kehilangan empati terhadap sesama karena rusaknya fungsi otak. Tak jarang, mereka juga kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi secara normal. Melalui kesehatan otak yang terus menurun, penderita seolah kehilangan jati diri mereka jauh sebelum raga mereka menyerah.

Baca Juga  Bukan Sekadar Lauk Murah, Riset Buktikan Tempe Adalah 'Superfood' Pelindung Otak dari Alzheimer

Vonis Genetik dan Semangat ‘FTD Brothers’

Yang membuat perjuangan Jordan terasa lebih emosional adalah fakta bahwa ia sedang berlari melawan waktu bagi dirinya sendiri. Dua tahun pasca kepergian ibunya, Jordan menjalani tes genetik dan mendapati kenyataan pahit: ia adalah pembawa mutasi MAPT. Hasil medis menyatakan ada kemungkinan 99,9 persen bahwa ia akan terdiagnosis mengidap FTD di masa depan.

“Rasanya seperti seluruh London berlari bersamaku. Saya belum pernah merasakan dukungan seperti ini, dan mungkin tidak akan pernah merasakannya lagi seumur hidup,” ungkap Jordan dengan penuh haru. Semangat ini juga dibagikan oleh adiknya, Cian, yang ikut berlari meski tanpa menggendong kulkas. Keduanya, yang kini dikenal dengan julukan ‘FTD Brothers’, memiliki risiko yang sama besar. Mereka diprediksi akan mulai menunjukkan gejala di awal usia 40-an dan mungkin hanya memiliki waktu 10 tahun untuk bertahan hidup setelah diagnosis resmi keluar.

Baca Juga  Kolesterol Jahat Bisa Turun! Ini Suplemen yang Diam-Diam Ampuh Menjaganya

Persiapan Matang demi Pesan yang Tersampaikan

Aksi di London Marathon ini bukanlah sebuah kebetulan. Jordan dan Cian telah melakukan persiapan ketat sejak tahun 2018. Ini merupakan maraton kelima bagi Jordan, yang membuktikan bahwa gaya hidup sehat dan ketahanan fisik adalah senjata utamanya dalam menghadapi takdir genetik yang membayangi. Dengan setiap tetes keringat di lintasan London, Jordan Adams tidak hanya berlari menuju garis finis, tetapi juga berlari untuk menyuarakan harapan bagi jutaan orang yang terancam oleh kegelapan demensia.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid