Ikuti Kami
kabarmalam.com

Dulu Sepi Peminat, Kini Prodi Gizi Jadi Primadona Kampus Berkat Program Makan Bergizi Gratis

Wahid | kabarmalam.com
Rabu, 29 Apr 2026 18:05 WIB
Dulu Sepi Peminat, Kini Prodi Gizi Jadi Primadona Kampus Berkat Program Makan Bergizi Gratis

Kabarmalam.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digenjot pemerintah ternyata membawa efek domino yang signifikan, melampaui sektor kesehatan masyarakat. Salah satu fenomena menarik yang muncul adalah lonjakan popularitas program studi (prodi) gizi di berbagai perguruan tinggi. Jika dahulu jurusan ini sering kali dipandang sebelah mata, kini kondisinya berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi salah satu prodi yang paling diincar.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengonfirmasi tren positif ini. Menurutnya, implementasi kebijakan strategis pemerintah telah menciptakan kebutuhan pasar tenaga kerja yang sangat besar secara mendadak. “Program studi gizi yang dulu tidak terlalu diminati, sekarang justru menjadi yang paling laku karena kebutuhan di lapangan sangat besar,” ujar Dadan saat memberikan keterangan di Makassar.

Baca Juga  Kontroversi Susu Gratis Program MBG: Berlabel ‘Tidak Untuk Dijual’ Tapi Malah Mejeng di Rak Minimarket

Satu Satuan Pelayanan, Minimal Satu Ahli Gizi

Lonjakan minat calon mahasiswa ini bukan tanpa alasan. Dadan menjelaskan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dibentuk dalam ekosistem makan bergizi gratis diwajibkan memiliki tenaga ahli yang kompeten. Keberadaan para profesional ini sangat krusial untuk memastikan standar kualitas asupan yang diberikan kepada masyarakat.

Berbeda dengan program bantuan pangan biasa, MBG tidak menggunakan menu nasional yang seragam. Sebaliknya, setiap unit layanan harus mampu meracik menu berdasarkan potensi pangan lokal namun tetap mengacu pada standar komposisi gizi yang ketat. “Oleh karena itu, harus ada ahli gizi yang meramu dan menghitung kebutuhan nutrisinya di setiap lokasi,” tambah Dadan.

Baca Juga  Insiden Makan Bergizi Gratis di Anambas: 155 Siswa Diduga Keracunan, Dinkes Kirim Sampel ke Batam

Membuka Peluang Kerja Lintas Disiplin Pangan

Mengingat jumlah SPPG yang diproyeksikan akan mencapai puluhan ribu unit di seluruh Indonesia, Badan Gizi Nasional menyadari bahwa kebutuhan sumber daya manusia (SDM) tidak bisa hanya mengandalkan satu disiplin ilmu. Selain lulusan gizi, peluang karier yang luas juga terbuka bagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang terkait.

  • Lulusan Kesehatan Masyarakat untuk manajemen pelayanan.
  • Ahli teknologi pangan untuk inovasi pengolahan.
  • Tenaga ahli keamanan pangan untuk memastikan higienitas konsumsi.

Langkah ekspansif ini dilakukan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan SDM di tengah masifnya perluasan program di berbagai daerah. Hal ini diharapkan dapat memberikan kepastian karier bagi para lulusan baru yang selama ini mungkin kesulitan mencari relevansi pekerjaan di sektor formal.

Baca Juga  Baru 50 Persen SPPG Berlisensi Higiene, Badan Gizi Nasional Targetkan Rampung Agustus 2026

Dampak Jangka Panjang bagi Pendidikan Tinggi

Fenomena “naik kelasnya” prodi gizi ini diprediksi akan mendorong transformasi dalam kurikulum perguruan tinggi. Institusi pendidikan gizi kini ditantang untuk menyesuaikan kapasitas dan kualitas pengajaran agar sejalan dengan tantangan praktis di lapangan, terutama dalam mengoptimalkan sumber daya alam lokal menjadi asupan bergizi tinggi.

Dengan keterlibatan puluhan ribu tenaga profesional di masa depan, program ini tidak hanya bertujuan memperbaiki status gizi anak-anak bangsa, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi baru di sektor jasa boga dan kesehatan. Kehadiran tenaga ahli di garda terdepan diharapkan menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan program MBG di masa mendatang.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid