Fenomena Jabodetabek ‘Membara’: Benarkah Dampak El Nino Godzilla atau Sekadar Pancaroba?
Senin, 27 Apr 2026 14:34 WIB
Kabarmalam.com — Belakangan ini, penduduk di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) seolah sedang diuji oleh cuaca yang terasa luar biasa menyengat. Sinar matahari yang terasa membakar kulit memicu beragam keluhan di jagat maya, di mana banyak warganet merasa pendingin ruangan (AC) mereka tak lagi sanggup melawan hawa panas yang menerjang.
Keresahan ini terpantau masif di berbagai platform media sosial. Salah seorang pengguna Threads mengungkapkan keheranannya karena meskipun sudah menyalakan dua unit AC sekaligus, suhu di dalam ruangan tetap terasa gerah. Fenomena ini pun memicu spekulasi di tengah masyarakat: apakah ini tanda-tanda kehadiran El Nino Godzilla yang sempat diperbincangkan?
Suhu Maksimum Mencapai 36 Derajat Celsius
Berdasarkan data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lonjakan suhu di wilayah Jabodetabek memang nyata terjadi. Pantauan termometer menunjukkan suhu maksimum harian berada di kisaran 35 hingga 36 derajat Celsius. Angka ini cukup tinggi untuk standar wilayah perkotaan yang padat, sehingga wajar jika masyarakat merasa tidak nyaman saat beraktivitas di luar maupun dalam ruangan.
Lantas, apa yang sebenarnya memicu anomali cuaca ini? Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Eddy Hermawan, memberikan penjelasannya. Menurutnya, kondisi panas yang berlebihan ini kemungkinan besar berkaitan erat dengan fase akhir dari musim pancaroba.
Minimnya Awan dan Efek Pancaroba
Prof. Eddy menjelaskan bahwa pada masa transisi atau pancaroba, suhu udara cenderung meningkat di atas rata-rata normal. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya tutupan awan di langit. “Mengapa panas? Karena awan-awannya sudah mulai berkurang. Awan-awan besar yang biasanya menghalangi sinar matahari langsung sudah mulai menghilang,” tuturnya dalam sebuah kesempatan wawancara.
Tanpa adanya penghalang berupa awan, radiasi matahari langsung menghujam ke permukaan bumi dan terjebak di lapisan atmosfer bawah, menciptakan efek gerah yang maksimal bagi penduduk di kota-kota besar seperti Jakarta.
Menjawab Teka-teki El Nino ‘Godzilla’
Terkait isu mengenai ancaman El Nino ‘Godzilla’, Prof. Eddy mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak gegabah dalam menyimpulkan. Pihak BRIN sendiri menyatakan bahwa fenomena tersebut belum bisa didefinisikan pada saat ini. Istilah ‘Godzilla’ dalam konteks iklim merujuk pada El Nino dengan kekuatan yang sangat ekstrem, dan untuk mengonfirmasinya diperlukan data yang sangat komprehensif.
Untuk bisa melabeli sebuah fenomena sebagai El Nino Godzilla, setidaknya ada tiga kriteria ketat yang harus terpenuhi:
- Intensitas Tinggi: Anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik harus berada di atas angka 2 derajat Celsius.
- Durasi Panjang: Fenomena ini biasanya harus bertahan dalam jangka waktu lama, rata-rata sekitar 12 bulan. Jika hanya berlangsung 6 bulan, belum bisa dikategorikan sebagai intensitas ekstrem.
- Probabilitas: Perhitungan peluang kejadian yang harus konsisten berdasarkan model iklim global.
“Mendefinisikan Godzilla itu harus ekstra hati-hati. Kami harus melihat berapa nilai puncaknya nanti, biasanya pada bulan Agustus atau September. Jadi, saat ini kami belum bisa memastikan apakah ini akan menjadi Godzilla atau bukan,” tegas Prof. Eddy.
Bagi warga yang kerap beraktivitas di bawah terik matahari, disarankan untuk tetap menjaga hidrasi tubuh dan menggunakan pelindung kulit untuk menghindari dampak buruk dari cuaca ekstrem ini. Tetap pantau informasi resmi untuk perkembangan situasi iklim terkini.