Harga Kondom di China Melambung: Warga Pilih Borong Stok Ketimbang Tanggung Biaya Besarkan Anak
Jumat, 24 Apr 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Di tengah upaya keras pemerintah China untuk mendongkrak angka kelahiran, sebuah fenomena unik sekaligus miris justru tengah menyita perhatian publik. Harga alat kontrasepsi, khususnya kondom, diprediksi akan mengalami kenaikan tajam. Namun, bukannya beralih untuk merencanakan kehamilan, warga di Negeri Tirai Bambu tersebut justru berbondong-bondong mengamankan stok demi menghindari risiko finansial yang jauh lebih besar: membesarkan anak.
Isu mengenai harga kondom ini menjadi topik hangat yang meledak di platform media sosial Weibo. Berdasarkan pantauan terakhir, tagar yang membahas kenaikan harga ini telah disaksikan lebih dari 60 juta kali pada akhir April 2026. Gelombang diskusi tersebut mencerminkan kegelisahan sekaligus strategi pragmatis warga dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang berdampak hingga ke ranah privat.
Pemicu Kenaikan: Rantai Pasok dan Geopolitik
Kekhawatiran publik ini dipicu oleh pernyataan resmi dari raksasa manufaktur alat kontrasepsi dunia, Karex. CEO Karex, Goh Miah Kiat, mengungkapkan bahwa perusahaan asal Malaysia tersebut berencana untuk mengerek harga jual produk mereka sebesar 20 hingga 30 persen. Kenaikan ini diprediksi bisa jauh lebih tinggi apabila gangguan pada rantai pasok global akibat eskalasi konflik di Iran terus berlanjut tanpa kepastian.
Logika Ekonomi Warga: Mencegah Lebih Murah
Menariknya, meskipun harga kondom merangkak naik, bagi netizen China, angka tersebut masih dianggap jauh lebih “masuk akal” dibandingkan biaya membesarkan seorang anak hingga dewasa. Narasi yang berkembang di media sosial menunjukkan bahwa mengeluarkan beberapa puluh yuan untuk perlindungan jauh lebih hemat daripada harus menanggung beban biaya hingga 1 juta yuan (setara dengan Rp 2,5 miliar) untuk satu orang anak.
“Mulai sekarang, kita tidak hanya harus hidup hemat dalam hal makanan, tapi juga harus mulai menimbun stok kondom terlebih dahulu,” tulis salah satu pengguna Weibo yang mendapatkan ribuan dukungan. Pandangan ini memperlihatkan betapa besarnya tekanan ekonomi yang dirasakan oleh pasangan muda di China saat ini, di mana biaya hidup yang tinggi membuat impian memiliki keluarga besar menjadi beban yang menakutkan.
Kontradiksi di Tengah Krisis Populasi
Kenaikan biaya alat kontrasepsi ini muncul di momen yang sangat kontradiktif bagi kebijakan nasional China. Saat ini, Beijing tengah berjuang keras melawan tren penurunan populasi yang ekstrem. Pada tahun 2025 saja, angka kelahiran di negara tersebut mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah. Pemerintah sebenarnya sangat berharap warganya lebih produktif dalam memiliki keturunan demi menyeimbangkan struktur populasi yang kian menua.
Namun, di sisi lain, kebijakan fiskal terbaru seolah berjalan berlawanan arah. Sejak awal 2026, pemerintah China secara mengejutkan menghapus insentif pajak untuk obat-obatan dan alat perencanaan keluarga yang telah berlaku selama tiga dekade. Kini, setiap pembelian kondom dan pil KB dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 13 persen, setara dengan barang konsumsi umum lainnya. Situasi ini pun kian menyudutkan warga yang mencoba bertahan di tengah bayang-bayang krisis ekonomi dan tuntutan sosial yang kian berat.