Transformasi Hidup Mohammad Rizal Putra: Berdamai dengan Satu Ginjal Usai Terjang Kanker Sarkoma
Kamis, 23 Apr 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Menjalani hidup dengan organ tubuh yang tidak lagi lengkap bukanlah perkara mudah, namun bagi Mohammad Rizal Putra, ini adalah babak baru yang harus ia jalani dengan penuh ketegaran. Pria berusia 35 tahun asal Surabaya ini membagikan kisah inspiratifnya mengenai perubahan drastis dalam keseharian setelah ginjal sebelah kirinya terpaksa diangkat akibat vonis medis yang cukup berat.
Rizal didiagnosis mengidap kanker ginjal jenis sarkoma grade 4, sebuah kondisi langka dan agresif yang menuntut tindakan medis cepat. Pasca-operasi pengangkatan ginjal, ia pun harus beradaptasi dengan realitas baru sebagai penyintas kanker ginjal yang kini bergantung pada satu ginjal saja untuk menyaring racun dalam tubuhnya.
Penurunan Energi dan Stamina Tubuh
Secara kasat mata, Rizal mungkin terlihat sehat seperti sedia kala. Namun, ia mengakui ada perbedaan signifikan yang ia rasakan pada kapasitas fisiknya. Jika dulu ia merasa memiliki energi penuh 100 persen, kini ia harus merasa cukup puas dengan stamina yang berada di kisaran 60 hingga 70 persen saja. Kelelahan menjadi kawan baru yang harus ia kelola dengan bijak setiap harinya.
“Biasanya energi berada di level 100 persen, sekarang mungkin hanya di angka 60-70 persen. Untuk gaya hidup, perubahannya sangat drastis, terutama dalam menjaga pola makan,” ungkap Rizal dalam narasi yang ia bagikan melalui akun media sosialnya, yang telah dikonfirmasi oleh tim redaksi Kabarmalam.com.
Revolusi Pola Makan dan ‘Real Food’
Salah satu perubahan paling mencolok dalam hidup Rizal adalah penerapan gaya hidup sehat yang kini ia jalani secara disiplin. Jika sebelum jatuh sakit ia bisa dengan bebas menyantap berbagai jenis hidangan tanpa ragu, kini ia sangat selektif terhadap apa yang masuk ke perutnya. Fokus utamanya saat ini adalah mengonsumsi real food atau makanan utuh tanpa proses industri yang panjang.
Langkah ini diambil bukan sekadar untuk diet, melainkan kebutuhan krusial agar fungsi ginjal tunggalnya tetap optimal dan tidak terbebani oleh zat-zat tambahan yang sulit diproses oleh tubuh.
Meninggalkan Muay Thai demi Keselamatan Ginjal
Bagi Rizal yang sebelumnya sangat aktif berolahraga hingga 3-4 kali seminggu, perubahan aktivitas fisik menjadi tantangan tersendiri yang cukup emosional. Hobi olahraga bela diri seperti Muay Thai atau boxing yang dulu menjadi kegemarannya, kini terpaksa ditinggalkan sepenuhnya demi keselamatan nyawanya.
“Sekarang aktivitas fisik diganti dengan olahraga yang ringan-ringan saja. Dulu saya sangat suka Muay Thai atau boxing, tapi sekarang harus dihindari karena risiko ginjal satu-satunya terluka jauh lebih besar dan berbahaya,” jelas Rizal dengan penuh kesadaran akan kondisi fisiknya saat ini.
Perjuangan Melawan Nyeri Pasca-Operasi
Masa pemulihan ternyata tidak berhenti setelah ia keluar dari ruang bedah. Hingga saat ini, Rizal masih sering merasakan sensasi nyeri yang mengganggu pada bekas luka operasinya. Rasa sakit itu ia gambarkan seperti kulit yang ditarik kencang, yang kerap muncul saat ia salah melakukan pergerakan. Kondisi ini menuntutnya untuk terus melakukan konsultasi rutin dan kontrol medis secara berkala.
Kondisi fisik ini pun membatasi ruang geraknya, bahkan dalam hal yang paling sederhana seperti posisi tidur. Rizal mengaku tidak bisa berlama-lama berbaring miring ke arah tertentu. Bahkan, posisi duduk yang terlalu membungkuk atau telungkup bisa memicu rasa nyeri yang luar biasa intens, mengingatkannya bahwa tubuhnya kini membutuhkan perhatian ekstra dibanding sebelumnya.