Teka-teki 19 Ribu Sapi di Program Makan Bergizi Gratis, BGN: Itu Hanya Simulasi, Bukan Menu Harian
Kamis, 23 Apr 2026 09:34 WIB
Kabarmalam.com — Belakangan ini, publik diramaikan oleh diskusi hangat mengenai implementasi program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG). Polemik bermula saat muncul angka fantastis mengenai kebutuhan 19 ribu ekor sapi yang dipotong setiap harinya untuk menopang program tersebut. Namun, di lapangan, masyarakat justru mempertanyakan realita menu yang disajikan karena kehadiran daging sapi dirasa masih sangat langka.
Skeptisisme Pakar terhadap Angka 19 Ribu Sapi
Kritik tajam sempat dilayangkan oleh Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Panjono. Ia menyoroti adanya ketimpangan antara narasi pemotongan ribuan sapi dengan fakta menu di lapangan yang lebih didominasi oleh protein lain. Menurutnya, jika benar ada belasan ribu sapi yang dipotong setiap hari, seharusnya daging sapi menjadi sajian rutin yang mudah ditemui oleh para penerima manfaat.
“Kalau benar 19 ribu ekor sapi dipotong dalam sehari, seharusnya daging sapi rutin muncul dalam menu. Tapi dalam praktiknya, menu MBG lebih banyak ayam, telur, dan ikan. Hal ini perlu dibuktikan kebenarannya, termasuk soal dari mana ketersediaan sapinya berasal,” ungkap Prof. Panjono memberikan catatan kritis terhadap transparansi distribusi pangan tersebut.
Klarifikasi Badan Gizi Nasional: Sebuah Simulasi Matematika
Menanggapi kegaduhan tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, akhirnya angkat bicara. Ia memberikan klarifikasi bahwa angka 19 ribu ekor sapi tersebut sebenarnya bukanlah data pemotongan harian yang sudah berjalan secara riil, melainkan sebuah simulasi atau pengandaian perhitungan matematis.
Dadan menjelaskan bahwa angka tersebut muncul jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia secara serentak memasak menu berbahan dasar daging sapi. Berdasarkan perhitungan BGN, satu unit SPPG membutuhkan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging sapi untuk sekali masak, yang mana angka tersebut setara dengan bobot daging dari satu ekor sapi dewasa.
“Ini hanyalah pengandaian. Jika hari ini seluruh SPPG kita instruksikan untuk memasak daging sapi, maka jumlah sapi yang dibutuhkan tinggal dikalikan dengan jumlah SPPG yang ada. Jadi, angka itu adalah rujukan kapasitas, bukan operasional tetap harian,” jelas Dadan saat ditemui usai meresmikan SPPG Pemuda Muhammadiyah di Bekasi.
Menghindari Inflasi Melalui Diversifikasi Menu
Salah satu alasan utama mengapa Makan Bergizi Gratis tidak menyeragamkan menu daging sapi secara nasional adalah untuk menjaga stabilitas harga pangan di pasar. BGN belajar dari pengalaman saat perayaan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu, di mana sajian nasi goreng telur untuk 36 juta orang sempat memicu lonjakan harga telur di pasar sebesar Rp3.000 per kilogram.
BGN menyadari bahwa memaksakan satu komoditas protein tertentu dalam skala masif secara bersamaan akan memberikan tekanan berat pada rantai pasok. Oleh karena itu, kebijakan menu dibuat fleksibel dan berbasis pada potensi sumber daya lokal masing-masing daerah.
“Kami ingin memberdayakan potensi lokal dan menyesuaikan dengan kesukaan masyarakat setempat. Dengan begitu, tekanan terhadap satu jenis konsumsi tidak terlalu tinggi dan harga di pasar tetap stabil,” tambah Dadan. Strategi ini diharapkan mampu menjaga kedaulatan ketahanan pangan sekaligus memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang optimal tanpa merusak ekosistem ekonomi mikro di daerah.
Melalui pendekatan ini, menu MBG akan tetap bervariasi—mulai dari telur, ayam, ikan, hingga daging sapi—tergantung pada kesiapan logistik dan kearifan pangan lokal di wilayah SPPG tersebut berada.