Waspada! Ikan Sapu-sapu Kuasai 60 Persen Perairan Jakarta, Simpan Risiko Kanker dan Logam Berat
Jumat, 17 Apr 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Fenomena invasi spesies asing di perairan Ibu Kota kini memasuki tahap yang mengkhawatirkan. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta baru-baru ini menggelar operasi besar-besaran di lima wilayah kota administratif untuk menekan populasi ikan sapu-sapu. Hasilnya mengejutkan, sebanyak 68.800 ekor atau setara dengan 6,9 ton ikan invasif tersebut berhasil dijaring dan segera dimusnahkan guna memutus rantai dampaknya yang merugikan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta kini diperkirakan telah melampaui angka 60 persen. Dominasi ini bukan sekadar angka, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan ekosistem perairan lokal. Ikan yang dikenal sebagai pembersih kaca akuarium ini ternyata bertindak sebagai predator pasif yang sangat merusak di alam liar.
Ancaman Terhadap Spesies Endemik
“Ikan ini memiliki sifat yang sangat invasif. Keberadaannya membuat ikan-ikan endemik lokal sulit untuk bertahan hidup karena telur-telur mereka kerap dimangsa oleh ikan sapu-sapu ini,” ujar Pramono saat meninjau lokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Selain mengganggu siklus reproduksi ikan asli Jakarta, pertumbuhan populasi yang sangat masif ini juga dipicu oleh kemampuan adaptasi mereka yang luar biasa terhadap air yang tercemar.
Namun, bahaya yang paling krusial bukan hanya soal ekosistem, melainkan risiko kesehatan bagi warga yang mencoba mengonsumsinya. Pramono menegaskan bahwa hasil uji laboratorium menunjukkan tingkat residu pada tubuh ikan-ikan ini sudah melampaui batas aman. “Rata-rata kadar residunya sudah di atas 0,3. Ini adalah kategori yang sangat berbahaya jika sampai masuk ke tubuh manusia,” tambahnya dengan nada serius.
Risiko Keracunan Logam Berat
Menanggapi fenomena ini, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, memberikan peringatan keras. Menurutnya, ikan sapu-sapu yang hidup di lingkungan tercemar bertindak layaknya spons yang menyerap seluruh polutan di sekitarnya. Hal ini membuat daging ikan tersebut mengandung berbagai macam bahan toksik yang mematikan.
“Bahayanya bukan hanya pada ikannya, tapi pada akumulasi pencemaran yang ia makan. Perlu dicatat bahwa kandungan logam berat tidak akan hilang atau bersih hanya dengan proses memasak atau suhu tinggi,” jelas dr. Nadia. Ia memperingatkan bahwa ketika manusia mengonsumsi ikan ini, zat berbahaya tersebut secara otomatis berpindah dan mengendap dalam tubuh manusia.
Dampak Jangka Panjang bagi Kesehatan
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, merinci lebih dalam mengenai jenis polutan yang mengancam. Ikan sapu-sapu dari perairan Jakarta terindikasi kuat mengandung kontaminasi bakteri patogen seperti E. coli serta logam berat berbahaya seperti Timbal (Pb), Kadmium (Cd), Merkuri (Hg), hingga Arsen (As).
Paparan zat-zat kimia ini dalam jangka waktu lama dapat memicu kerusakan organ vital yang fatal. Beberapa risiko kesehatan yang mengintai antara lain:
- Kerusakan permanen pada fungsi ginjal dan hati.
- Gangguan serius pada sistem saraf pusat.
- Peningkatan risiko penyakit kanker akibat akumulasi zat karsinogenik.
- Keracunan kronis yang bisa berdampak pada kegagalan organ tubuh.
Hasudungan menekankan bahwa masyarakat harus sangat selektif dan menghindari konsumsi ikan yang berasal dari perairan sungai yang tidak terjamin kebersihannya, terutama ikan sapu-sapu yang jelas-jelas memiliki ambang batas logam berat di atas normal.