Waspada Musim Pancaroba: Kasus ISPA di Jakarta Selatan Melonjak, Anak-Anak dan Lansia Jadi Kelompok Paling Rentan
Rabu, 15 Apr 2026 15:35 WIB
Kabarmalam.com — Ancaman gangguan kesehatan di tengah ketidakpastian cuaca kini tengah membayangi warga Ibu Kota. Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, tercatat ada sekitar 2,5 juta kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang periode Januari hingga November 2025. Angka ini diprediksi akan terus mengalami fluktuasi seiring dengan masuknya fase pergantian musim.
Ancaman Nyata di Balik Cuaca Ekstrem
Tingginya angka penderita gangguan pernapasan ini dipicu oleh berbagai faktor kompleks, namun yang paling dominan adalah kondisi musim pancaroba. Masa peralihan antara kemarau dan penghujan seringkali membawa perubahan suhu yang sangat drastis, yang secara langsung menguji ketahanan tubuh manusia.
Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Dinkes Jakarta Selatan, drg Evelyne Hotma Fransisca, mengungkapkan bahwa wilayah Jakarta Selatan sendiri mencatatkan lebih dari 8.600 kasus ISPA selama tahun 2025. Dari ribuan data tersebut, kelompok usia tertentu menjadi yang paling terdampak secara signifikan.
“Mayoritas kasus menyerang anak-anak dan kelompok lanjut usia (lansia). Hal ini dikarenakan sistem imunitas mereka cenderung lebih rendah dibandingkan orang dewasa yang aktif secara produktif,” papar drg Evelyne dalam sebuah pertemuan jurnalis di Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2026).
Tren Kunjungan Puskesmas Meningkat
Kondisi di lapangan pun mengonfirmasi data tersebut. Kepala Puskesmas Pancoran, Sri Lenita, melaporkan adanya lonjakan warga yang datang untuk memeriksakan diri dengan keluhan pernapasan. Pada Februari 2026 saja, tercatat lebih dari 1.000 pasien yang menyambangi Puskesmas dengan gejala batuk yang mengarah pada ISPA.
“Setelah kami identifikasi lebih lanjut, memang tidak semuanya murni ISPA, ada pula masalah kesehatan lainnya. Namun, gejalanya hampir serupa sehingga masyarakat tetap harus waspada,” ujar Sri Lenita. Ia juga menambahkan bahwa selain ISPA, warga wajib mengantisipasi penyakit lain seperti demam berdarah yang juga sering muncul akibat perubahan lingkungan di musim transisi ini.
Langkah Preventif dan Pola Hidup Sehat
Menghadapi situasi ini, otoritas kesehatan menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai benteng pertahanan utama. Masyarakat diimbau untuk tidak abai terhadap langkah-langkah pencegahan sederhana namun efektif, di antaranya:
- Menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun.
- Menerapkan etika batuk dan bersin yang benar dengan menutup mulut.
- Kembali membudayakan pemakaian masker, terutama saat berada di tempat umum yang berisiko tinggi atau saat kondisi tubuh kurang fit.
- Memastikan asupan nutrisi yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh tetap optimal.
Edukasi terus digencarkan agar masyarakat tidak hanya waspada terhadap debu dan polusi, tetapi juga peka terhadap sinyal-sinyal kesehatan tubuh selama cuaca ekstrem berlangsung. Dengan proteksi yang tepat, diharapkan angka sebaran penyakit di tengah musim pancaroba ini dapat ditekan seminimal mungkin.