Skandal Chat Mesum Mahasiswa FH UI: Menguak Psikologi di Balik ‘Keberanian’ Pelecehan di Grup WhatsApp
Selasa, 14 Apr 2026 15:36 WIB
Kabarmalam.com — Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) kini memasuki babak krusial. Setelah bukti percakapan dalam grup WhatsApp yang berisi konten tidak pantas viral di jagat maya, belasan terduga pelaku kini harus menghadapi sidang terbuka yang diinisiasi oleh pihak korban sebagai bentuk pertanggungjawaban publik.
Menanggapi guncangan di internal kampusnya, pihak Universitas Indonesia (UI) menegaskan bahwa mereka tengah menjalankan proses investigasi dan verifikasi secara mendalam. UI berkomitmen untuk menangani masalah ini dengan prinsip kehati-hatian demi menjamin keadilan bagi seluruh pihak yang terlibat.
Mengapa Ruang Tertutup Memicu Perilaku Agresif?
Publik pun bertanya-tanya, apa yang membuat para mahasiswa yang notabene mempelajari hukum tersebut merasa begitu leluasa melontarkan narasi pelecehan? Psikiater dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, mencoba membedah fenomena ini dari sudut pandang psikologis.
Menurutnya, ruang digital yang tertutup sering kali menjadi tempat subur bagi normalisasi perilaku menyimpang melalui mekanisme yang disebut group reinforcement. “Saat seseorang melempar candaan seksual dan anggota grup lainnya merespons dengan tawa atau dukungan, tindakan keliru tersebut perlahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Validasi kelompok membuat moralitas individu menjadi luntur,” jelas dr. Lahargo.
Fenomena Disinhibition Effect di Dunia Maya
Selain faktor kelompok, terdapat fenomena psikologis lain yang disebut disinhibition effect. Kondisi ini membuat seseorang merasa lebih berani dan lepas kontrol saat berkomunikasi lewat internet dibandingkan ketika bertatap muka secara langsung. Ketiadaan interaksi fisik membuat empati seseorang terhadap orang lain sering kali menurun drastis.
“Layar ponsel sering kali membuat orang lupa bahwa di balik nama dan foto profil yang mereka jadikan bahan ejekan, ada manusia nyata yang bisa terluka. Minimnya melihat reaksi emosional korban secara langsung membuat pelaku kehilangan rasa kemanusiaannya,” tambah dr. Lahargo terkait isu kesehatan mental dan perilaku digital ini.
Haus Validasi dan ‘Hanya Bercanda’ sebagai Tameng
Lebih lanjut, dr. Lahargo menggarisbawahi bahwa tindakan tersebut sering kali dipicu oleh kebutuhan akan validasi sosial. Motifnya beragam, mulai dari keinginan untuk dianggap lucu, kebutuhan untuk diterima dalam lingkaran pertemanan, hingga upaya menunjukkan superioritas maskulinitas yang toksik. Dalam dinamika ini, korban tidak lagi dipandang sebagai manusia, melainkan objek untuk meningkatkan status sosial pelaku di mata kawan-kawannya.
Ironisnya, ketika perbuatan tersebut terbongkar, para pelaku biasanya berlindung di balik kalimat pembenaran seperti ‘cuma bercanda’ atau ‘tidak serius’. Secara psikologis, ini adalah bentuk pelepasan tanggung jawab moral. Padahal, pelecehan seksual di era digital tidak harus berupa sentuhan fisik. Kata-kata yang menyerang martabat dan harga diri seseorang dapat meninggalkan luka batin yang sama dalamnya dengan kekerasan fisik.