Kisah Haru Rizki Nurdiansyah: Perjuangan Melawan Kanker Mata Stadium 3 Hingga Kehilangan Penglihatan
Senin, 13 Apr 2026 07:06 WIB
Kabarmalam.com — Sebuah perjalanan hidup yang penuh ketegaran datang dari seorang pemuda asal Medan, Sumatera Utara, bernama Rizki Nurdiansyah. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, Rizki harus menghadapi kenyataan pahit melawan kanker mata stadium 3 yang memaksa dirinya kehilangan salah satu organ penglihatan demi menyambung nyawa.
Kisah ini mendadak viral di platform TikTok setelah Rizki membagikan perjuangan panjangnya selama empat tahun terakhir. Bukan perkara mudah, ia harus melewati rangkaian medis yang melelahkan, mulai dari enam kali kemoterapi, konsumsi berbagai obat dosis tinggi, hingga 36 kali radiasi full dosis. Tak berhenti di situ, Rizki juga harus menjalani empat kali operasi besar dan dua kali tindakan biopsi untuk memantau perkembangan tumor ganas yang bersarang di belakang bola matanya.
Awal Mula yang Tak Terduga di Malaysia
Prahara kesehatan ini bermula pada tahun 2022, saat Rizki tengah mengadu nasib mencari nafkah di Malaysia. Gejala awal yang muncul terkesan sepele; matanya sering terlihat memerah. Rekan-rekan kerjanya mulai menyadari kondisi tersebut hingga akhirnya Rizki memutuskan memeriksakan diri ke sebuah klinik di Kuala Lumpur.
Kala itu, diagnosa awal dokter hanya mengarah pada infeksi bakteri biasa. Rizki pun sempat diperingatkan untuk mengubah gaya hidupnya, termasuk kebiasaan bermain ponsel hingga larut malam di ruangan gelap. Dokter juga menyoroti pola makannya yang sering mengonsumsi junk food dan minuman beralkohol karena tuntutan lingkungan pekerjaan.
“Sebenarnya boleh, tapi tidak dianjurkan terlalu sering kata dokternya,” kenang Rizki saat menceritakan kembali masa-masa awal gejala kanker mata tersebut. Meski sempat membaik setelah menggunakan obat tetes, petaka justru muncul saat ia menghentikan pemakaian obat tersebut.
Momen Gelap dan Kepulangan ke Medan
Memasuki minggu ketiga, rasa nyeri yang hebat mulai menyerang. Penglihatan Rizki mengalami gangguan aneh; mata kanannya terasa mengalami jeda atau delay, tidak selaras dengan gerakan mata kirinya. Puncaknya, pandangannya mendadak gelap total secara tiba-tiba.
Situasi semakin sulit karena saat itu dunia masih terbelenggu lockdown akibat pandemi. Baru pada Oktober 2022, Rizki berhasil pulang ke tanah air dan langsung melakukan pemeriksaan intensif di sebuah rumah sakit mata di Medan. Hasil CT scan mengungkapkan fakta mengejutkan: ada tumor yang tumbuh di belakang bola matanya dan mulai menyerang saraf kepala.
Rizki kemudian dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk penanganan lebih lanjut. Kesehatan mata yang kian memburuk membuatnya harus menjalani biopsi dan kemoterapi sebagai langkah awal menahan penyebaran sel kanker.
Keputusan Terberat: Pengangkatan Bola Mata
Setelah melalui berbagai fase perawatan, tim medis sampai pada kesimpulan medis yang paling berat: bola mata Rizki harus diangkat. Operasi ini menjadi satu-satunya jalan agar sel kanker tidak menjalar ke otak atau merusak mata yang satunya lagi.
“Di situ aku sudah menangis senangisnya. Tapi kalau tidak diangkat, kankernya bisa menyebar,” ungkapnya dengan nada tegar. Keputusan berani itu akhirnya berbuah manis. Setelah operasi dilakukan, dokter menyatakan bahwa area tersebut kini sudah bersih dari kanker.
Meski secara fisik ia harus beradaptasi dengan kondisi baru dan secara mental sempat merasa jatuh, Rizki tetap memelihara semangat untuk sembuh total. Kini, setelah serangkaian operasi kanker dan perbaikan jahitan pada rongga matanya, ia berharap bisa segera kembali bekerja dan menata masa depannya yang sempat tertunda.