Mitos atau Fakta? Menelisik Benarkah Konsumsi Tempe Berlebihan Bisa Bikin Pria Mandul
Sabtu, 11 Apr 2026 18:06 WIB
Kabarmalam.com — Di balik kelezatan tempe yang menjadi primadona meja makan masyarakat Indonesia, terselip sebuah isu yang cukup meresahkan kaum pria. Beredar kabar burung yang menyebutkan bahwa kegemaran menyantap olahan kedelai fermentasi ini dapat memicu kemandulan atau penurunan gairah maskulinitas akibat anjloknya kadar hormon testosteron. Namun, benarkah makanan rakyat ini seberbahaya itu bagi kesehatan reproduksi?
Mengenal Fitoestrogen: Kembaran Estrogen yang Tak Sama
Kekhawatiran publik biasanya bermuara pada kandungan isoflavon di dalam kedelai, yang dikategorikan sebagai fitoestrogen. Senyawa alami ini memiliki struktur kimia yang menyerupai hormon estrogen pada tubuh manusia. Hal inilah yang memicu spekulasi bahwa pria yang mengonsumsi tempe akan mengalami ketidakseimbangan hormon.
Namun, sains berkata lain. Meskipun strukturnya mirip, aktivitas fitoestrogen di dalam tubuh manusia jauh lebih lemah dibandingkan hormon estrogen asli. Berdasarkan tinjauan ilmiah yang dirilis dalam jurnal Fertility and Sterility, tidak ditemukan kaitan antara konsumsi produk kedelai dengan penurunan kadar hormon testosteron pada pria sehat. Begitu pula dengan analisis dalam jurnal Reproductive Toxicology tahun 2021 yang menegaskan bahwa isoflavon tidak mengganggu stabilitas hormon pria, baik dalam bentuk testosteron total maupun bebas.
Hitung-hitungan Nutrisi dalam Sepotong Tempe
Jika kita membedah lebih dalam, 100 gram tempe umumnya mengandung sekitar 50 hingga 55 mg isoflavon. Namun, mari kita realistis; dalam satu kali makan, rata-rata orang hanya mengonsumsi satu atau dua potong tempe dengan berat sekitar 30 hingga 50 gram. Artinya, asupan isoflavon yang masuk hanya berkisar antara 15 sampai 25 mg saja.
Penelitian menunjukkan bahwa asupan isoflavon bahkan hingga lebih dari 75 mg per hari pun tidak memberikan dampak negatif terhadap hormon pria. Dengan demikian, kekhawatiran akan kemandulan hanya karena rutin mengonsumsi tempe dalam porsi wajar setiap hari adalah sebuah kekeliruan besar. Tempe tetap menjadi protein nabati yang aman dan menyehatkan.
Faktor Realistis di Balik Kesuburan Pria
Menyalahkan tempe atas masalah kesuburan adalah langkah yang terlalu menyederhanakan masalah. Faktanya, kualitas sperma dan kesehatan reproduksi pria dipengaruhi oleh gaya hidup yang jauh lebih kompleks. Beberapa faktor yang justru memiliki dampak signifikan antara lain:
- Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol yang berlebihan.
- Tingkat stres yang tidak terkelola dengan baik.
- Pola tidur yang berantakan.
- Paparan panas berlebih pada area testis, seperti kebiasaan meletakkan laptop di pangkuan.
- Kekurangan nutrisi penting seperti zinc dan selenium.
Tempe: Superfood Lokal yang Tak Tergantikan
Alih-alih menjauhinya, kita seharusnya mengapresiasi tempe sebagai salah satu superfood lokal. Proses fermentasi oleh jamur Rhizopus membuat protein kedelai menjadi lebih mudah diserap oleh sistem pencernaan. Dalam setiap 100 gramnya, terkandung sekitar 20,8 gram protein berkualitas tinggi, serat, zat besi, hingga magnesium.
Kesimpulannya, hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang valid untuk melarang pria mengonsumsi tempe. Selama dikonsumsi dalam batas wajar sebagai bagian dari pola makan sehat, tempe justru memberikan kontribusi positif bagi kecukupan gizi harian tanpa perlu takut kehilangan kejantanan.