Hizbullah Tolak Mentah-Mentah Tawaran Negosiasi Israel: Kedaulatan Lebanon Harga Mati
Jumat, 10 Apr 2026 02:41 WIB
Kabarmalam.com — Ketegangan di wilayah perbatasan utara kembali memuncak setelah kelompok Hizbullah secara resmi menyatakan penolakan keras terhadap segala bentuk rencana negosiasi langsung antara pemerintah Lebanon dan Israel. Pernyataan ini muncul sebagai respons cepat atas manuver diplomatik yang dilontarkan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mengklaim tengah membuka pintu dialog.
Ali Fayyad, seorang anggota parlemen dari faksi Hizbullah, menegaskan bahwa posisi kelompoknya sudah bulat dan tidak akan bergeser sedikit pun. Ia menyebut bahwa diplomasi langsung dengan pihak yang mereka anggap sebagai penjajah adalah hal yang mustahil dilakukan dalam kondisi saat ini.
“Kami menegaskan kembali penolakan total kami terhadap negosiasi langsung antara Lebanon dan musuh Israel,” ujar Fayyad dengan nada tegas sebagaimana dikutip dari laporan lapangan, Jumat (10/4/2026). Bagi Hizbullah, kedaulatan negara tidak bisa ditawar melalui meja perundingan yang diprakarsai oleh pihak lawan.
Syarat Mutlak: Penarikan Pasukan dan Gencatan Senjata
Ali Fayyad juga menekankan bahwa pemerintah Lebanon seharusnya tidak tergiur dengan tawaran Israel. Menurutnya, fokus utama yang harus didorong saat ini bukanlah pembicaraan meja bundar, melainkan pemulihan hak-hak dasar warga Lebanon dan penegakan prinsip nasional yang fundamental dalam menghadapi konflik Timur Tengah.
“Hal terpenting yang perlu dijunjung tinggi adalah penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah kami, penghentian total segala bentuk agresi atau permusuhan, serta menjamin keamanan bagi penduduk untuk kembali ke desa dan kota kelahiran mereka,” tambah Fayyad. Ia mendesak agar pemerintah Lebanon terlebih dahulu memastikan kesepakatan gencatan senjata yang solid diimplementasikan sebelum beranjak ke tahap pembicaraan apa pun.
Ambisi Netanyahu dan Agenda Pelucutan Senjata
Di sisi lain, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya mengklaim bahwa pihaknya telah menginstruksikan kabinet untuk segera memulai pembicaraan langsung dengan perwakilan Lebanon. Langkah ini diambil menyusul klaim adanya permintaan berulang dari pihak Lebanon untuk berdialog.
Namun, di balik tawaran damai tersebut, terdapat agenda besar yang diusung oleh Tel Aviv. Netanyahu secara terang-terangan menyatakan bahwa fokus utama dari negosiasi tersebut adalah pelucutan senjata milisi Hizbullah dan upaya demiliterisasi kawasan Beirut.
“Israel sangat menghargai seruan untuk demiliterisasi di Beirut. Negosiasi ini nantinya akan berfokus pada penghapusan ancaman senjata Hizbullah demi membangun hubungan yang lebih stabil antara kedua negara,” tulis pernyataan resmi dari kantor Netanyahu. Perbedaan visi yang kontras antara keinginan Israel untuk melucuti senjata Hizbullah dan tuntutan kedaulatan dari pihak Lebanon ini diprediksi akan membuat situasi politik Lebanon semakin dinamis dan penuh ketidakpastian dalam beberapa waktu ke depan.