Ikuti Kami
kabarmalam.com

Harapan Menipis di Venezuela: Puluhan Ribu Orang Masih Hilang Terkubur Puing Pasca Gempa Dahsyat

Husnul | kabarmalam.com
Kamis, 02 Jul 2026 18:34 WIB
Harapan Menipis di Venezuela: Puluhan Ribu Orang Masih Hilang Terkubur Puing Pasca Gempa Dahsyat

Kabarmalam.com — Waktu seolah berhenti di Venezuela ketika harapan untuk menemukan korban selamat mulai meredup seiring berlalunya masa kritis 72 jam pasca gempa. Komite Penyelamatan Internasional (IRC) dalam pernyataan resminya mengungkapkan kekhawatiran mendalam bahwa puluhan ribu orang masih dinyatakan hilang di balik tumpukan beton yang hancur. Dalam dunia evakuasi medis, periode tiga hari pertama adalah jendela emas untuk bertahan hidup, dan kini, peluang itu kian menipis secara drastis.

Kondisi di lapangan menggambarkan situasi yang mencekam. Di kota pesisir La Guaira, suasana duka menyelimuti setiap sudut. Beberapa ruangan di pelabuhan utama kota tersebut kini beralih fungsi menjadi kamar mayat darurat. Di sana, Andrea Montilla duduk terpaku di atas kursi plastik. Tatapannya kosong, menunggu kabar dari anggota keluarganya yang sedang berupaya mengidentifikasi jenazah nenek dan sepupunya yang baru berusia 14 tahun.

“Ini adalah penantian yang sangat menyakitkan,” lirih Montilla. Sepupunya ditemukan tak bernyawa di bawah reruntuhan apartemen semalam, sementara ibunda dari sepupu tersebut hingga kini belum diketahui rimbanya. Tragedi serupa dialami Darvin Silva (37), yang dengan tangan gemetar menceritakan perjuangan sia-siatnya menyelamatkan sang ibu. Dengan alat seadanya—palu, kapak, bahkan tangan kosong—ia mencoba melawan bongkahan bangunan yang menjepit ibunya, namun maut lebih dulu menjemput.

Baca Juga  Misi Kemanusiaan Global: Swiss Kerahkan Tim 'Rescue Chain' ke Pusat Gempa Kembar Venezuela

Jeritan di Tengah Puing dan Krisis Kemanusiaan

Kisah pilu juga datang dari Wilker Molalla. Dari sebelas anggota keluarga yang mendiami rumahnya, hanya ia dan satu orang lainnya yang selamat karena sedang bekerja saat gempa bumi melanda. Kehancuran ini diperparah dengan lambatnya respons pemerintah, yang memicu gelombang amarah warga. Venezuela, yang sudah bertahun-tahun didera krisis ekonomi hebat, kini harus menghadapi kenyataan bahwa infrastruktur kesehatan mereka lumpuh total di saat paling dibutuhkan.

Di tempat-tempat pengungsian, keributan kecil sering pecah. Daniela Armas (18), seorang pedagang lokal, menggambarkan betapa putus asanya orang-orang demi mendapatkan sesuap nasi. “Rasanya seperti beradu nyawa hanya untuk makanan,” ungkapnya. Skala bantuan yang masuk dinilai masih sangat jauh dari kebutuhan kemanusiaan yang sebenarnya.

Angka Kerugian yang Terus Membengkak

Berdasarkan laporan Jorge Rodriquez, Ketua Parlemen Venezuela, angka korban jiwa yang telah dievakuasi mencapai 1.943 orang, dengan lebih dari 10.500 lainnya mengalami luka-luka. Namun, angka ini diyakini hanyalah fenomena gunung es. Koordinator PBB, Gianluca Rampolla, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi untuk menyediakan sedikitnya 10.000 kantong jenazah tambahan sebagai antisipasi lonjakan temuan korban.

Baca Juga  Misteri Teror Api di Sleman: Rumah Fia Terbakar 73 Kali dalam 10 Hari, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Analisis dari NASA menunjukkan skala kerusakan yang sangat masif, di mana sekitar 59.000 bangunan terdeteksi rusak melalui pemantauan satelit. Sekitar 16.000 orang kehilangan tempat tinggal dalam sekejap. Meskipun tim internasional dari Amerika Serikat, Meksiko, dan negara lainnya telah tiba dengan peralatan canggih, banyak warga yang terpaksa menggali puing secara mandiri demi mencari keluarga mereka yang tertimbun.

Ancaman Kelaparan dan Penyakit Mengintai

Selain ancaman fisik dari bangunan yang roboh, badan-badan PBB memperingatkan adanya bahaya laten berupa kelaparan dan wabah penyakit. Program Pangan Dunia (WFP) kini tengah bergerak cepat mendistribusikan bahan pangan pokok, namun mereka membutuhkan dana darurat sekitar $50 juta untuk menyokong kebutuhan setengah juta warga selama tiga bulan ke depan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyoroti rusaknya sistem sanitasi dan rendahnya cakupan vaksinasi yang berisiko memicu wabah demam kuning dan demam berdarah di tenda-tenda pengungsian. Di tengah kegelapan ini, muncul secercah harapan saat tim penyelamat Yordania berhasil mengeluarkan seorang bocah lelaki berusia tiga tahun dalam keadaan hidup setelah enam hari terjepit reruntuhan. Keajaiban serupa terjadi di Maiquetia, di mana seorang pria berusia 44 tahun berhasil diselamatkan dari bawah puing pusat perbelanjaan.

Baca Juga  Tolitoli Diguncang Gempa Magnitudo 4,9 Malam Ini, BMKG Pantau Potensi Dampak

Dinamika Politik di Balik Operasi Kemanusiaan

Menariknya, bencana ini membawa perubahan drastis pada peta geopolitik kawasan. Militer Amerika Serikat kini mengerahkan lebih dari 900 personel di jantung Venezuela untuk memimpin operasi bantuan darurat. Hal ini menjadi sorotan mengingat hubungan kedua negara sempat tegang pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh militer AS pada awal tahun 2026 atas tuduhan perdagangan narkoba.

Jenderal Francis Donovan dari Komando Selatan AS menegaskan bahwa kehadiran mereka murni untuk misi kemanusiaan. “Kami akan pulang begitu tugas kami selesai,” tegasnya. Kini, dunia hanya bisa berharap agar keajaiban-keajaiban kecil terus terjadi di tengah puing-puing Venezuela yang berserakan.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul