Bareskrim Turun Tangan, Operasi Pencarian Dua Polisi Hilang di Katingan Terus Dikebut
Kamis, 02 Jul 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Tragedi memilukan menyelimuti jajaran kepolisian di Kalimantan Tengah setelah sebuah operasi penggerebekan narkotika berakhir dengan pertumpahan darah. Satu orang personel dinyatakan gugur dalam tugas, sementara dua anggota lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang setelah mendapatkan perlawanan sengit dari massa saat melakukan penindakan di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan.
Merespons situasi darurat tersebut, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri langsung bergerak cepat dengan menerjunkan tim khusus guna memperkuat jajaran Polda Kalteng dan Polres Katingan. Langkah ini diambil untuk memastikan proses pencarian berjalan maksimal dan mengusut tuntas jaringan pelaku di balik penyerangan brutal tersebut.
Komitmen Bareskrim Polri dalam Penuntasan Kasus
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan dukungan penuh terhadap personel di lapangan. Fokus utama saat ini bukan hanya pada aspek hukum, tetapi juga pada keselamatan anggota yang masih dalam pencarian.
“Kami melakukan backup penuh, mulai dari proses pencarian anggota yang belum ditemukan, pengamanan wilayah, hingga upaya pengungkapan tuntas jaringan narkotika serta para pelaku penyerangan,” ujar Brigjen Eko Hadi Santoso dalam keterangan resminya, Kamis (2/7/2026).
Brigjen Eko juga menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya Aipda Yudhie Perdana Putra, personel Satresnarkoba Polres Katingan yang menjadi korban dalam insiden tersebut. Menurutnya, dedikasi almarhum dalam memerangi peredaran barang haram tersebut merupakan bentuk pengabdian tertinggi bagi negara.
Kronologi Penggerebekan yang Berujung Mencekam
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa ini bermula pada Rabu dini hari (1/7), saat tim Satresnarkoba Polres Katingan menindaklanjuti laporan masyarakat terkait aktivitas peredaran sabu. Target operasi kali ini adalah seorang pria berinisial BIO, yang dikenal sebagai residivis kawakan dalam kasus penyalahgunaan narkoba.
Sebanyak 12 personel dikerahkan dan dibagi ke dalam dua tim. Namun, situasi yang awalnya terkendali mendadak berubah menjadi mencekam ketika proses penangkapan dilakukan. Meskipun target utama sempat diamankan, sejumlah orang di dalam rumah beserta warga sekitar melakukan perlawanan massal. Mereka menyerang petugas menggunakan senjata tajam jenis parang hingga senjata api rakitan.
Dalam situasi yang sangat tidak kondusif dan kalah jumlah, sejumlah anggota kepolisian terpaksa menyelamatkan diri. Beberapa di antaranya bahkan nekat berenang menyeberangi sungai dan berlindung di tengah hutan lebat demi menghindari amukan massa yang semakin anarkis.
Evaluasi Menyeluruh Prosedur Operasi
Pasca-kejadian ini, Bareskrim Polri menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap setiap prosedur penindakan di lapangan. Brigjen Eko menekankan pentingnya pemetaan potensi ancaman yang lebih akurat sebelum melakukan operasi di wilayah-wilayah yang dianggap rawan.
“Keselamatan anggota adalah prioritas utama kami. Ke depannya, setiap perencanaan operasi, mulai dari pemetaan ancaman hingga perlengkapan personel, harus dipersiapkan dengan jauh lebih matang tanpa mengurangi ketegasan dalam memberantas peredaran gelap narkoba,” imbuhnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih terus melakukan penyisiran di kawasan hutan dan aliran sungai di sekitar lokasi kejadian guna menemukan Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana yang statusnya masih belum diketahui. Seluruh jajaran kepolisian di Kalteng kini dalam posisi siaga satu untuk mengantisipasi potensi konflik lanjutan di wilayah Katingan.