Waspada! Super El Nino Bayangi Asia Tenggara, Ancaman Kabut Asap Lintas Negara Kembali Mengintai
Jumat, 26 Jun 2026 15:34 WIB
Kabarmalam.com — Bayang-bayang kelabu kembali menghantui langit Asia Tenggara. Fenomena alam yang dikenal sebagai Super El Nino kini tengah menjadi perhatian serius setelah laporan terbaru menunjukkan adanya peningkatan risiko kabut asap lintas negara secara signifikan. Kondisi cuaca yang ekstrem ini diprediksi akan memicu kekeringan panjang, yang pada gilirannya membuka celah lebar bagi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah regional.
Level Kewaspadaan Tertinggi Sejak 2023
Berdasarkan analisis mendalam dari Singapore Institute of International Affairs (SIIA), tingkat ancaman kabut asap di kawasan ini telah dinaikkan ke level tertinggi atau ‘high’. Ini merupakan kali pertama sejak tahun 2023 status kewaspadaan mencapai titik puncak, menandakan bahwa tantangan lingkungan yang dihadapi kali ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Fenomena El Nino kali ini diprediksi jauh lebih kuat, yang berpotensi memperlama durasi musim kemarau di berbagai titik strategis Asia Tenggara.
Kondisi tanah yang mengering, terutama di kawasan ekosistem gambut dan lahan perkebunan, menjadi faktor utama yang memicu kerawanan kebakaran. Jika titik api mulai muncul, angin musiman akan dengan mudah membawa kepulan asap melintasi perbatasan negara, menciptakan krisis kualitas udara yang merugikan jutaan orang.
Indonesia Masuk Daftar Merah Risiko Karhutla
Indonesia kembali masuk dalam jajaran empat negara yang paling rentan terdampak, bersanding dengan Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Letak geografis Indonesia yang memiliki hamparan lahan gambut luas menjadikannya titik krusial dalam mitigasi kabut asap regional. Pola angin yang berembus selama musim kemarau menjadi ‘kurir’ alami yang menyebarkan polusi asap jika kebakaran tidak segera dipadamkan di sumbernya.
Para ahli menyoroti periode Agustus hingga September 2026 sebagai masa-masa yang paling kritis. Pada rentang waktu tersebut, puncak musim kemarau diperkirakan akan mencapai intensitas tertingginya. Tanpa langkah pencegahan yang agresif di lapangan, kebakaran hutan skala besar diprediksi sulit dihindari, yang dampaknya bisa melumpuhkan aktivitas ekonomi hingga kesehatan publik di tingkat regional.
Belajar dari Krisis Chiang Mai
Peringatan ini bukan tanpa dasar. Berkaca pada apa yang terjadi di Chiang Mai, Thailand, pada April 2026 lalu, polusi udara ekstrem sempat menyelimuti kota tersebut hingga masuk ke level berbahaya. Tragedi lingkungan tersebut menjadi alarm keras bagi negara-negara tetangga tentang betapa cepatnya kualitas udara bisa merosot tajam akibat kabut asap.
Untuk mengantisipasi hal ini, SIIA mendesak pemerintah di seluruh kawasan Asia Tenggara untuk tidak lengah dan segera memperkuat koordinasi lintas batas. Langkah-langkah mitigasi yang diusulkan meliputi:
- Pengawasan ketat terhadap aktivitas pembukaan lahan (land clearing) dengan cara membakar.
- Peningkatan pemantauan titik panas (hotspot) secara real-time.
- Kesiapan tim reaksi cepat untuk penanganan darurat kebakaran di wilayah gambut.
- Kolaborasi data dan bantuan teknis antarnegara anggota ASEAN.
Mitigasi sejak dini adalah kunci utama. Menekan dampak cuaca ekstrem ini sebelum memasuki puncak kemarau bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga melindungi sektor transportasi, pariwisata, dan kesehatan masyarakat yang selama ini kerap menjadi korban utama setiap kali krisis kabut asap melanda.