Jangan Tertipu Gejala Maag: Mengapa Rasa Kembung Bisa Jadi Sinyal Bahaya Kanker Usus
Jumat, 26 Jun 2026 16:34 WIB
Kabarmalam.com — Pernahkah Anda merasa perut kembung atau perih di ulu hati setelah menyantap hidangan lezat, lalu dengan mudahnya menelan obat maag yang dibeli bebas di apotek? Bagi banyak orang, tindakan ini dianggap sebagai solusi cepat untuk mengatasi gejala maag yang dianggap remeh. Namun, para ahli kesehatan kini memberikan peringatan keras: kebiasaan mendiagnosis diri sendiri atau self-diagnosis ini bisa menjadi jebakan mematikan.
Masalahnya, gejala yang terlihat seperti gastritis atau gangguan lambung biasa sering kali merupakan ‘kamuflase’ dari penyakit yang jauh lebih ganas. Mulai dari peradangan pankreas, batu empedu, hingga kanker usus besar atau kanker kolorektal. Karena sering disepelekan, banyak pasien yang baru mencari bantuan medis saat sel kanker sudah menyebar ke organ lain.
Ancaman yang Bersembunyi di Balik Rasa Begah
Dr. Nurhashim Haron, seorang konsultan bedah umum dan kolorektal terkemuka, mengungkapkan sebuah fakta yang cukup menggetarkan. Berdasarkan pengalamannya, sekitar 40 hingga 50 persen pasien kanker kolorektal yang ia tangani awalnya mengira mereka hanya menderita sakit maag biasa. Keluhan seperti perut kembung dan begah membuat mereka menunda pemeriksaan mendalam.
“Sangat disayangkan, ketika akhirnya dilakukan pemeriksaan menyeluruh, lebih dari 70 persen pasien sudah berada pada stadium lanjut, yakni stadium tiga atau empat,” jelas Dr. Nurhashim. Kondisi ini membuat proses penyembuhan menjadi jauh lebih kompleks dan menantang bagi para tenaga medis maupun pasien itu sendiri.
Tren Kanker Usus pada Generasi Muda
Ada pergeseran tren yang cukup mengkhawatirkan dalam dunia medis saat ini. Jika dahulu penyakit mematikan ini identik dengan kelompok lansia di atas 55 tahun, kini kesehatan pencernaan menjadi isu serius bagi mereka yang berusia 40-an, bahkan lebih muda. Data Registri Kanker Nasional menunjukkan peningkatan kasus yang signifikan pada kelompok usia produktif.
Dr. Nurhashim menceritakan sebuah kasus nyata yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Seorang pria berusia 40-an awalnya hanya mengeluh perutnya sering kembung. Hasil endoskopi awal memang hanya menunjukkan peradangan lambung ringan. Namun, intuisi medis membawa pada pemeriksaan kolonoskopi, yang akhirnya menemukan tumor ganas di usus besar yang sudah menyebar. Alhasil, pasien tersebut harus menjalani operasi besar pengangkatan sebagian usus dan lambung, diikuti dengan rangkaian kemoterapi.
Waspadai Perubahan ‘Ritual’ di Kamar Mandi
Untuk menghindari deteksi yang terlambat, masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan pola buang air besar (BAB). Ada beberapa ‘tanda bahaya’ yang tidak boleh diabaikan, antara lain:
- Perubahan frekuensi BAB yang tidak biasa.
- Bentuk feses yang berubah menjadi lebih tipis atau kecil.
- Adanya bercak darah atau lendir pada kotoran.
- Diare yang berkepanjangan atau justru sembelit kronis.
- Perasaan tidak puas atau merasa BAB belum tuntas (tenesmus).
Sayangnya, rasa malu dan ketakutan terhadap prosedur medis seperti kolonoskopi sering kali menjadi penghalang pasien untuk segera berobat. Padahal, jika deteksi dini dilakukan, penanganan kanker usus bisa jauh lebih sederhana, bahkan terkadang cukup dengan operasi tanpa perlu kemoterapi.
Bukan Hanya Kanker: Waspadai Batu Empedu
Selain kanker, gejala yang mirip maag juga sering kali dipicu oleh masalah batu empedu. Dr. Thamarai Velan, konsultan bedah hepatobilier, menyebutkan bahwa rasa panas di dada dan ketidaknyamanan perut sering kali disalahpahami sebagai maag.
“Bedanya, nyeri akibat batu empedu biasanya terasa lebih tajam dan menusuk di sisi kanan perut, terkadang menjalar hingga ke punggung,” ungkapnya. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu infeksi berat atau sepsis yang membahayakan nyawa. Oleh karena itu, mulailah peduli pada sinyal yang diberikan oleh tubuh Anda dan jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan check up kesehatan secara rutin sebelum semuanya terlambat.