Shandy Sjariff Diprotes Anak Sulung: Antara Kebutuhan Eksposur dan Rasa Malu Remaja
Rabu, 17 Jun 2026 21:34 WIB
Kabarmalam.com — Di balik gemerlap layar kaca, kehidupan pribadi para selebriti sering kali menyimpan dinamika unik yang jarang diketahui publik. Salah satunya datang dari pesinetron senior Shandy Sjariff, yang belakangan ini gencar menjajaki dunia konten media sosial demi tetap eksis dan menghibur para pengikutnya. Namun, siapa sangka, semangat Shandy dalam berkarya di jagat digital justru berbenturan dengan perasaan sang putri sulung, Madiva Putri atau yang akrab disapa Diva.
Gaya ‘Cringe’ Ayah yang Bikin Malu Remaja
Bagi banyak orang tua, bisa berkreasi di platform digital adalah cara untuk tetap relevan. Namun bagi Diva yang kini tengah beranjak remaja, aksi sang ayah sering kali dianggap berlebihan. Shandy secara blak-blakan mengakui bahwa anak pertamanya itu merasa risih dengan jenis video yang ia unggah. Diva tampaknya mengalami apa yang sering dirasakan anak muda seusianya: perasaan malu melihat orang tua bertingkah lucu atau ‘ajaib’ di ruang publik digital.
“Kalau konten sih saya memang lebih banyak melibatkan istri atau anak yang kecil. Kalau Diva, jujur saja dia agak risih dengan konten-konten saya di media sosial. Namanya juga anak ABG, mungkin ada rasa malu atau segan dengan teman-temannya,” ungkap Shandy saat ditemui di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.
Dinamika Keluarga: Si Kecil Antusias, Si Sulung Menghindar
Menariknya, perbedaan respons terjadi di dalam internal keluarga Shandy. Jika sang istri dan anak bungsunya justru menyambut hangat setiap ajakan untuk berkolaborasi, tidak demikian dengan Diva. Shandy bercerita bahwa ia berulang kali mencoba membujuk putri sulungnya itu untuk sekadar muncul dalam video singkat, namun usahanya kerap menemui jalan buntu.
“Saya sempat mengajak, ‘Yuk ikut Papa bikin konten’. Mereka tanya balik, ‘Ngapain?’. Saya bilang diam saja tidak apa-apa, yang penting ada. Istri dan anak bungsu saya mau-mau saja, tapi Diva tetap tegas belum mau bergabung,” tambahnya sembari tersenyum memaklumi sikap putrinya.
Diva sendiri tidak menampik hal tersebut. Saat dimintai keterangan, ia mengaku merasa canggung jika harus tampil dalam konten yang menurutnya kurang pas dengan kepribadiannya. Bahkan, ia sering melayangkan protes langsung kepada sang ayah agar tidak mengunggah video-video yang dianggapnya memalukan ke akun selebriti Indonesia milik Shandy.
Debat Logika Konten: Normal Itu Membosankan
Di balik protes sang anak, Shandy memiliki alasan profesional yang kuat. Baginya, di era digital saat ini, exposure atau jangkauan media sosial adalah hal yang sangat krusial bagi seorang figur publik. Ia berusaha memberikan pengertian kepada Diva bahwa setiap video yang dibuat memiliki tujuan strategis untuk menjaga profilnya tetap dikenal luas.
Namun, nampaknya ada perbedaan visi yang cukup menggelitik di antara mereka. Diva menyarankan agar ayahnya membuat konten yang lebih ‘normal’ dan kalem. Saran itu justru ditanggapi Shandy dengan tawa dan logika seorang kreator digital sejati.
“Diva bilang, ‘Papa kalau bikin video yang benar dong, yang normal saja.’ Tapi saya jawab, kalau normal ya tidak akan menarik. Sesuatu yang biasa-biasa saja tidak akan dilirik orang. Harus ada sisi ‘abnormal’ atau keunikan tersendiri supaya konten itu bisa mencuri perhatian,” pungkas Shandy menutup perbincangan.
Perselisihan kecil antara Shandy dan Diva ini seolah menjadi potret nyata tantangan hubungan ayah dan anak di era modern, di mana garis antara privasi keluarga dan kebutuhan konten sering kali menjadi sangat tipis.