Muda dan Berdaya: Kisah Jayrius Ong Melawan Gagal Ginjal Stadium Akhir di Usia 21 Tahun
Rabu, 17 Jun 2026 13:34 WIB
Kabarmalam.com — Penyakit kronis yang mengancam nyawa sering kali datang tanpa peringatan, menyergap di tengah masa produktif yang seharusnya penuh impian. Fenomena pilu ini nyata dialami oleh Jayrius Ong, seorang pemuda asal Singapura yang harus menerima kenyataan pahit saat divonis mengidap gagal ginjal stadium akhir di usianya yang baru menginjak 21 tahun.
Kini di usia 23 tahun, Jayrius tak lagi menjalani hari-hari seperti pemuda sebayanya. Ia sepenuhnya bergantung pada terapi pengganti fungsi ginjal untuk bertahan hidup. Rutinitas medisnya sangat menguras energi; ia wajib menjalani prosedur cuci darah atau dialisis sebanyak dua kali dalam seminggu. Sebuah proses yang tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menguji keteguhan mentalnya setiap waktu.
Perjuangan hidupnya ini ia dokumentasikan secara terbuka melalui akun TikTok pribadinya, @_my.nightroutine._. Di balik kondisinya yang rapuh, Jayrius ternyata memiliki profesi yang menuntut tanggung jawab besar; ia dikenal sebagai salah satu sopir bus SMRT termuda di Singapura.
Sisi Kelam di Balik Ruang Dialisis
Prosedur cuci darah yang dijalani Jayrius bukanlah perkara mudah. Darahnya harus dikeluarkan melalui selang kateter yang tertanam permanen di dadanya, dialirkan ke mesin pembersih untuk menyaring racun dan cairan berlebih, sebelum akhirnya dipompa kembali ke tubuhnya. Proses mekanis ini meninggalkan jejak rasa sakit dan kelelahan yang luar biasa.
“Anda akan selalu merasa sangat lelah setelah sesi dialisis selesai,” ungkap Jayrius. Selain rasa lelah yang ekstrem, ia sering kali mengalami kram hebat pada kaki apabila volume cairan yang dikeluarkan mesin terlalu banyak. Beban fisik ini sempat membawanya ke titik terendah dalam hidup hingga menderita depresi berat. Ada masa di mana ia merasa kehilangan arah dan semangat untuk melanjutkan hidup di tengah bayang-bayang penyakit kronis tersebut.
Diagnosis yang Tak Terduga
Ironisnya, Jayrius mengetahui kondisi kesehatannya saat ia sedang berada di puncak semangat untuk memulai karier. Saat menjalani tes kesehatan sebagai syarat menjadi sopir bus dua tahun lalu, dokter justru menemukan fakta bahwa ginjalnya telah gagal berfungsi total. Awalnya, ia menolak percaya dan menganggap ada kesalahan dalam diagnosis medis tersebut.
Namun, Jayrius menolak menyerah pada keadaan. Meski tubuhnya harus bertarung dengan penyakit, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai sopir bus dengan mengambil jadwal shift sore hingga pukul 1 dini hari. Pengaturan waktu ini ia lakukan agar tetap bisa menyeimbangkan antara tanggung jawab pekerjaan dan jadwal pengobatan rutin.
Harapan Melalui Transplantasi
Harapan terbesar Jayrius saat ini adalah mendapatkan donor yang cocok untuk menjalani transplantasi ginjal yang direncanakan pada kuartal ketiga tahun 2026. Langkah ini menjadi sangat krusial karena penggunaan kateter di dada dalam jangka panjang membawa risiko infeksi yang mematikan. Ia bercerita pernah mengalami demam tinggi dan menggigil hebat akibat infeksi kuman yang mengharuskannya menjalani operasi darurat.
“Transplantasi akan berarti segalanya bagi saya. Ini adalah kesempatan untuk mendapatkan kembali kehidupan normal saya. Saya mungkin memiliki keterbatasan saat ini, tetapi saya tetap ingin membuktikan bahwa saya bisa melakukan apa pun yang saya impikan,” tutupnya dengan penuh optimisme.