Ikuti Kami
kabarmalam.com

Mengira Hanya Lelah Biasa, Pria 28 Tahun Ini Justru Divonis Gagal Ginjal Stadium Akhir

Wahid | kabarmalam.com
Jumat, 05 Jun 2026 09:34 WIB
Mengira Hanya Lelah Biasa, Pria 28 Tahun Ini Justru Divonis Gagal Ginjal Stadium Akhir

Kabarmalam.com — Di mata orang awam, Niven Hopkins adalah potret pria muda yang prima. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun kala itu, ia menjalani hidup dengan penuh energi; rutin melatih fisik di gym, gemar berlari, hingga menekuni profesi di bidang teknik yang menguras tenaga. Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa di balik tubuh atletis tersebut, sebuah ancaman kesehatan serius tengah mengintai.

Titik Balik yang Tak Terduga

Semua bermula pada sebuah malam di bulan Juni 2024. Sepulang bekerja, Niven merasakan nyeri hebat yang mendadak pada kakinya. Rasa sakit itu begitu intens hingga ia mengira jari kakinya patah, meski ia ingat betul tidak pernah membentur benda keras apa pun. Keesokan harinya, kondisi justru kian memburuk; kakinya membengkak, memerah, dan menciptakan rasa sakit yang menyiksa.

Diagnosis awal dari medis menyebutkan ia terkena serangan asam urat parah. Hal ini terasa janggal bagi Niven yang sangat jarang menyentuh alkohol. Namun, setelah menjalani tes darah rutin, ia diizinkan pulang tanpa kecurigaan lebih lanjut. Siapa sangka, badai sesungguhnya justru datang saat ia sedang berusaha bersantai sejenak bersama kawan-kawannya di Lake District, Inggris.

Baca Juga  Waspada 'Wajah Ginjal', Kisah Viral Wanita Bekasi yang Didiagnosis Gagal Ginjal Stadium 5

Panggilan Telepon Pukul 4 Pagi

Kesunyian liburan Niven pecah ketika ponselnya berdering di waktu yang tidak lazim: pukul empat pagi. Pihak rumah sakit memintanya segera datang. Hasil laboratorium menunjukkan parameter yang mengkhawatirkan. “Saya sempat mengira ini pasti kesalahan data. Tidak mungkin ini terjadi pada saya,” kenang Niven sebagaimana dikutip dari sumber Newsweek.

Pemeriksaan genetik mendalam akhirnya mengungkap kebenaran pahit. Niven mewarisi kondisi langka yang merusak fungsi ginjalnya—sebuah takdir genetik yang juga memaksa ibunya menjalani dua kali prosedur transplantasi ginjal. Kondisi Niven merosot dengan cepat dari stadium 4 hingga akhirnya divonis menderita gagal ginjal stadium 5 atau stadium akhir.

Gejala-Gejala Sunyi yang Kerap Terabaikan

Menengok ke belakang, Niven menyadari bahwa tubuhnya sebenarnya telah mengirimkan sinyal peringatan. Sayangnya, karena intensitasnya yang ringan, ia kerap mengabaikan gejala penyakit tersebut sebagai dampak dari gaya hidup aktifnya. Berikut adalah tanda-tanda yang sempat ia sepelekan:

  • Kelelahan Kronis: Niven sering merasa sangat letih, namun ia selalu berdalih bahwa itu hanyalah efek dari jam kerja yang padat dan latihan fisik di gym.
  • Urine Berbusa: Gelembung yang menetap pada urine sebenarnya merupakan indikator adanya kebocoran protein akibat fungsi filter ginjal yang terganggu.
  • Nyeri Punggung: Ia sempat merasakan nyeri di area punggung dalam waktu lama, namun hanya menganggapnya sebagai cedera otot biasa akibat berlari atau mengangkat beban.
  • Kabut Otak (Brain Fog): Kehilangan fokus saat bekerja atau mendadak lupa topik pembicaraan menjadi tanda bahwa racun dalam tubuh tidak tersaring dengan sempurna.
Baca Juga  Waspada Wajah Bengkak! Dikira Alergi Musiman, Wanita Muda Ini Ternyata Idap Gagal Ginjal Stadium Lanjut

Realita Hidup dengan Mesin Dialisis

Kini, di usia 28 tahun, ritme hidup Niven berubah total. Setiap malam, ia harus terhubung dengan mesin dialisis selama sembilan jam melalui metode Automated Peritoneal Dialysis (APD). Sebuah selang permanen kini terpasang di perutnya sebagai pengganti fungsi organ ginjalnya yang telah mati.

“Setiap pagi adalah ritual pemantauan; cek berat badan, tensi darah, hingga konsumsi tumpukan obat,” ujarnya. Meski ia tetap berupaya menjaga pola hidup sehat dengan berolahraga ringan, rasa lelah yang ekstrem sering kali datang tiba-tiba, menyerupai sensasi hangover yang sangat berat meski tanpa alkohol.

Melalui pengalamannya ini, Niven berkomitmen untuk mematahkan stigma bahwa penyakit ginjal hanya menyerang lansia. Ia aktif bersuara di media sosial untuk mengedukasi generasi muda bahwa deteksi dini melalui pengecekan rutin adalah kunci untuk menghindari nasib yang sama. Bagi Niven, ketergantungannya pada prosedur cuci darah bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjuangan baru untuk tetap bertahan hidup.

Baca Juga  Alarm Darurat Gagal Ginjal di Malaysia: Akankah Menjadi Ledakan Kasus di Masa Depan?
Tentang Penulis
Wahid
Wahid