Dilema Tren Diet Tanpa Gula: Haruskah Berhenti Total? Ini Penjelasan Pakar Gizi
Minggu, 07 Jun 2026 20:34 WIB
Kabarmalam.com — Fenomena memangkas konsumsi gula secara total atau cut off kini tengah menjadi primadona di kalangan pegiat pola hidup sehat. Namun, di balik semangat untuk menjauhi rasa manis, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah tubuh kita benar-benar bisa berfungsi optimal tanpa setetes pun gula? Pakar kesehatan mengingatkan bahwa langkah ekstrem ini tidak selalu menjadi solusi bijak bagi metabolisme jangka panjang.
Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr. Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K, menekankan bahwa tubuh manusia pada dasarnya tetap membutuhkan gula sebagai salah satu pilar sumber energi primer. Menghapus gula secara absolut dari daftar menu harian justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan jika tidak dilakukan dengan perhitungan yang matang dan pemahaman nutrisi yang tepat.
Gula Bukan Musuh, Melainkan Bahan Bakar Utama
Banyak orang telanjur melabeli gula sebagai musuh utama kesehatan yang harus dihindari sepenuhnya. Padahal, secara biologis, gula merupakan bagian dari kelompok karbohidrat yang memegang peran esensial. Tanpa asupan energi yang memadai, berbagai fungsi tubuh tidak akan berjalan secara optimal. Dr. Laurencia menjelaskan bahwa aktivitas fisik sederhana hingga proses berpikir yang kompleks semuanya memerlukan asupan glukosa.
“Gula adalah bagian dari karbohidrat yang menjadi salah satu sumber energi utama agar kita tetap bisa beraktivitas dan berpikir. Jadi, asupan gula itu sebenarnya tidak harus dihentikan total, yang terpenting adalah mengatur jumlahnya agar tidak berlebihan,” tuturnya dalam sebuah diskusi edukasi kesehatan.
Ketika kita mengonsumsi karbohidrat, tubuh akan memecahnya menjadi glukosa yang kemudian dialirkan ke sel-sel tubuh sebagai bahan bakar. Kurangnya asupan glukosa dapat berdampak langsung pada penurunan fungsi kognitif, seperti sulit berkonsentrasi, penurunan daya ingat, hingga cepat merasa lelah. Anda bisa mencari referensi lebih lanjut mengenai manajemen energi tubuh untuk memahami betapa pentingnya peran glukosa ini.
Strategi Gizi Seimbang: Kembali ke Konsep Isi Piringku
Alih-alih melakukan tindakan radikal dengan memusuhi rasa manis, pendekatan yang jauh lebih sehat adalah dengan menerapkan pola makan seimbang. Dalam prinsip nutrisi modern, asupan harian harus mencakup proporsi yang pas antara karbohidrat, protein, dan lemak untuk menjaga stabilitas hormon dan fungsi organ.
Dr. Laurencia menyarankan masyarakat untuk kembali merujuk pada panduan “Isi Piringku”. Dalam skema nutrisi tersebut, porsi karbohidrat idealnya berkisar antara 40 hingga 60 persen dari total asupan harian. Perlu diingat bahwa karbohidrat tidak hanya datang dari gula pasir atau sirup tambahan, tetapi juga dari sumber alami yang kaya serat seperti nasi, ubi, jagung, gandum, hingga buah-buahan segar.
Penting bagi setiap individu untuk melakukan variasi sumber makanan agar kebutuhan nutrisi mikro lainnya tetap terpenuhi tanpa harus merasa tersiksa oleh larangan makan yang terlalu ketat atau ekstrem.
Waspada Terhadap Jebakan Gula Tersembunyi
Meski gula tetap dibutuhkan, bukan berarti kita memiliki lampu hijau untuk mengonsumsinya tanpa batas. Pemerintah melalui panduan kesehatan nasional telah menetapkan batas aman konsumsi gula harian, yakni sekitar 4 hingga 5 sendok makan. Tantangan terbesarnya adalah banyak dari kita yang tidak sadar telah melewati batas tersebut karena adanya hidden sugar atau gula tersembunyi.
Gula tersembunyi ini sering kali menyelinap dalam produk makanan kemasan, saus olahan, hingga minuman berlabel sehat yang sebenarnya mengandung pemanis tambahan yang tinggi. Oleh sebab itu, tingkat ketelitian dalam membaca label nutrisi pada setiap kemasan produk menjadi kunci utama agar tidak terjebak dalam akumulasi gula yang merugikan kesehatan.
Mengimbangi Kalori dengan Aktivitas Fisik
Lantas, bagaimana jika dalam kondisi tertentu kita mengonsumsi makanan manis melebihi batas anjuran? Dr. Laurencia memberikan solusi yang realistis: tingkatkan aktivitas fisik. Prinsip keseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar melalui aktivitas fisik adalah kunci utama dalam mencegah penumpukan lemak dan gangguan metabolik.
“Jika memang sudah terlanjur mengonsumsi karbohidrat atau gula yang berlebihan, kita bisa mengimbanginya dengan meningkatkan intensitas olahraga. Pendekatan ini jauh lebih berkelanjutan dibandingkan dengan melarang diri sendiri mengonsumsi gula sama sekali,” tutupnya.
Pada akhirnya, rahasia kesehatan sejati bukan terletak pada penghapusan satu jenis zat gizi secara total, melainkan pada kesadaran dan kendali diri dalam menjaga harmoni asupan nutrisi harian. Pastikan Anda terus memantau informasi mengenai gaya hidup sehat untuk mendapatkan tubuh yang bugar dan pikiran yang tajam.