Ikuti Kami
kabarmalam.com

Studi Terbaru: Hubungan Tak Terduga Bakteri Mulut Terhadap Risiko Kanker Lambung

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 17 Mei 2026 09:34 WIB
Studi Terbaru: Hubungan Tak Terduga Bakteri Mulut Terhadap Risiko Kanker Lambung

Kabarmalam.com — Menjaga kebersihan rongga mulut seringkali dianggap hanya berkaitan dengan estetika gigi atau kesegaran napas semata. Namun, sebuah terobosan ilmiah terbaru mengungkapkan bahwa mikroba yang bersembunyi di balik senyum Anda mungkin memiliki pengaruh yang jauh lebih besar, bahkan berkaitan erat dengan risiko kanker lambung.

Sebuah penelitian komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Reports Medicine membawa kabar penting bagi dunia medis. Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi adanya kaitan kuat antara komposisi bakteri di mulut dengan perkembangan keganasan pada lambung. Studi ini menyoroti bagaimana mikrobioma, atau ekosistem mikroorganisme dalam tubuh, memegang peranan krusial dalam menentukan kondisi kesehatan organ dalam kita.

Migrasi Bakteri dari Mulut ke Usus

Tim peneliti yang berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Shanghai Jiao Tong bekerja sama dengan BGI Genomics melakukan analisis mendalam terhadap 404 sampel yang diambil dari pasien di Tiongkok. Mereka membandingkan profil mikrobioma antara penderita kanker lambung dengan pasien yang mengalami gastritis kronis.

Baca Juga  Efektifkah Air Kelapa Sembuhkan Asam Lambung? Simak Penjelasan Medis dan Manfaatnya Bagi Tubuh

Hasilnya cukup mengejutkan. Terdapat perbedaan signifikan pada ekosistem usus pasien kanker lambung, di mana ditemukan setidaknya 28 spesies bakteri yang berbeda secara mencolok. Mayoritas dari mikroorganisme ini justru biasanya ditemukan di area mulut, bukan di sistem pencernaan bawah. Beberapa di antaranya termasuk Streptococcus, yang kerap memicu radang tenggorokan, serta Lactobacillus dan bakteri asam laktat lainnya.

Data penelitian menunjukkan adanya kesamaan yang identik antara bakteri di air liur dan feses pada individu yang sama. Hal ini memperkuat teori bahwa telah terjadi migrasi atau penularan bakteri dari mulut ke usus yang kemudian menetap dan berkembang biak di sana.

Potensi Deteksi Dini Melalui Air Liur

Kehadiran spesies bakteri oral-usus ini jauh lebih dominan pada pasien yang didiagnosis menderita kanker. Penemuan ini memunculkan harapan baru dalam dunia deteksi dini kanker. Para peneliti menyarankan bahwa di masa depan, analisis sederhana melalui sampel air liur dan tinja bisa menjadi indikator awal untuk mengidentifikasi pola yang mengarah pada keganasan lambung.

Baca Juga  Kemeriahan Puncak Perayaan Frisian Flag di Bintaro Xchange: Selebrasi Nutrisi untuk Keluarga Indonesia

Dr. Brian Slomovitz, seorang Direktur Onkologi Ginekologi, memberikan perspektif menarik mengenai temuan ini. Menurutnya, studi ini menggambarkan bagaimana mikrobioma di satu lokasi tubuh mampu berpindah dan mempengaruhi lingkungan di bagian tubuh lain, sehingga mendukung pertumbuhan sel kanker.

Pentingnya Menjaga Ekosistem Tubuh yang Sehat

Salah satu pemicu utama kanker lambung yang selama ini dikenal adalah kondisi inflamasi atau peradangan kronis, seperti yang disebabkan oleh infeksi H. pylori. Peradangan ini merusak lapisan mukosa lambung, menciptakan celah bagi bakteri penghasil asam laktat untuk berkoloni. Hal inilah yang menjelaskan mengapa risiko peradangan dan kanker tetap ada meskipun infeksi utama telah ditangani.

“Dengan memahami cara mengubah atau memperbaiki mikrobioma, kita mungkin bisa menemukan cara baru untuk mengobati kanker secara lebih efektif, baik melalui kombinasi imunoterapi maupun kemoterapi, atau bahkan mencegahnya sama sekali,” ungkap Slomovitz. Meski demikian, ia menegaskan bahwa hasil ini masih merupakan langkah awal dan diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum diimplementasikan secara luas dalam praktik klinis.

Baca Juga  Menguak Modus Child Grooming Oknum Kepsek di Tangsel: Luka Psikologis yang Membekas Seumur Hidup

Melalui temuan ini, masyarakat diingatkan kembali betapa pentingnya menjaga kesehatan mulut sebagai garda terdepan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Pola hidup sehat yang mampu menjaga keseimbangan mikrobioma dapat menjadi kunci utama dalam meredam risiko penyakit mematikan di masa depan.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid