Kontroversi Pencabutan Sertifikat Mualaf Richard Lee, Hanny Kristianto Ungkap Alasan Mengejutkan
Senin, 04 Mei 2026 19:33 WIB
Kabarmalam.com — Jagat maya kembali dihebohkan dengan kabar pencabutan sertifikat mualaf milik dokter kecantikan kenamaan, Richard Lee. Langkah tegas ini diambil oleh pendakwah sekaligus sosok sentral di Mualaf Center Indonesia, Hanny Kristianto. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan, Hanny membeberkan sejumlah poin krusial yang melatarbelakangi ditariknya dokumen pengakuan keislaman tersebut secara administratif.
Urgensi Administratif yang Terabaikan
Dalam sebuah wawancara mendalam, Hanny Kristianto mengungkapkan bahwa salah satu alasan utama pencabutan ini adalah tidak adanya perubahan data kependudukan pada diri Richard Lee. Meskipun sudah memegang sertifikat mualaf, status agama di KTP yang bersangkutan dikabarkan masih belum berubah.
“Alasan pertama saya mencabut sertifikat tersebut adalah karena saya tidak ingin dokumen yang kami keluarkan hanya menjadi pajangan tanpa fungsi nyata. Faktanya, hingga hari ini status di KTP-nya masih tertulis Katolik,” ujar Hanny dengan nada tegas. Menurutnya, sertifikat tersebut memiliki beban moral dan administratif yang sangat besar, terutama terkait pengurusan jenazah di kemudian hari agar sesuai dengan syariat Islam.
Menghindari Penyalahgunaan dalam Konflik Hukum
Selain masalah administratif, Hanny juga menyoroti potensi penggunaan sertifikat tersebut dalam ranah hukum. Ia mengaku mendapatkan informasi bahwa dokumen tersebut kemungkinan akan dijadikan alat dalam perselisihan hukum antara Richard Lee dengan pihak lain, termasuk sosok yang dikenal sebagai Doktif. Hanny menegaskan bahwa dirinya tidak ingin hukum Islam atau dokumen keagamaan dijadikan senjata untuk saling menyerang antar sesama muslim di pengadilan.
“Saya tidak mau sertifikat mualaf ini dijadikan barang bukti atau bahan di pengadilan untuk saling menjatuhkan. Jika itu terjadi, saya sebagai pihak yang mengeluarkan dokumen bisa ikut terseret ke dalam pusaran konflik hukum yang sebenarnya tidak perlu,” tambahnya.
Pernyataan Kontroversial dan Status Spiritual
Tak hanya soal teknis dan hukum, Hanny Kristianto juga menyinggung pernyataan Richard Lee dalam sebuah konten video yang dianggap kontradiktif dengan ikrar syahadat. Dalam video tersebut, Richard menyebutkan kepulangannya ke gereja dan pengakuannya terhadap keyakinan lamanya setelah tiga tahun memeluk Islam.
“Kalimat tersebut, menurut pandangan saya, menunjukkan ketidakkonsistenan terhadap prinsip tauhid ‘La ilaha illallah’. Namun, perlu dicatat bahwa saya hanya mencabut sertifikat administratifnya saja,” jelas Hanny. Ia menekankan bahwa status keislaman seseorang adalah urusan privat antara individu dengan Sang Pencipta. Pencabutan sertifikat ini lebih merujuk pada validitas dokumen formal yang dikeluarkan oleh lembaga yang ia pimpin.
Keputusan ini pun memicu beragam reaksi dari publik, mengingat Richard Lee merupakan figur publik yang sering menjadi pusat perhatian. Hingga saat ini, pihak Richard Lee sendiri masih memberikan respons yang beragam terkait langkah yang diambil oleh Hanny Kristianto dan Mualaf Center Indonesia tersebut.