Skandal Daycare Little Aresya Jogja: Mengupas Luka Psikologis Mendalam Korban Penganiayaan Anak
Senin, 27 Apr 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Tabir gelap yang menyelimuti sebuah tempat penitipan anak atau daycare bernama Little Aresya di kawasan Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja, akhirnya terkuak. Tempat yang seharusnya menjadi rumah kedua yang penuh kasih sayang, justru diduga berubah menjadi panggung kekerasan terhadap anak dan diskriminasi yang memilukan.
Pihak kepolisian bergerak cepat dengan melakukan penggerebekan pada Jumat (24/4/2026) sore. Fakta yang ditemukan di lapangan sungguh mengejutkan; dari total 103 anak yang terdaftar di penitipan tersebut, sedikitnya 53 anak terindikasi telah menjadi korban kekerasan. Dugaan ini menguatkan laporan masyarakat mengenai praktik tidak manusiawi yang terjadi di balik pintu tertutup daycare tersebut.
Kasat Reskrim Polresta Jogja, Kompol Riski Adrian, mengonfirmasi tindakan tegas yang diambil jajarannya. “Benar, Satuan Reserse Polresta Jogja baru saja melakukan penggerebekan di sebuah tempat penitipan anak di daerah Umbulharjo,” ungkapnya. Mirisnya, praktik penganiayaan anak ini diduga telah berlangsung selama setahun terakhir, seiring dengan operasional daycare tersebut. Saat ini, tim penyidik tengah mendalami keterangan sejumlah saksi guna memperkuat alat bukti hukum.
Luka Tak Kasatmata: Dampak Psikologis pada Korban Balita
Tragedi ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk praktisi kesehatan mental. Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menyampaikan keprihatinan mendalam atas fenomena ini. Menurutnya, dampak kekerasan pada anak usia batita dan balita jauh lebih kompleks karena menyangkut fondasi rasa aman mereka.
“Secara psikologis, kasus kekerasan di daycare seperti yang terjadi di Yogyakarta ini sangat serius. Daycare seharusnya menjadi lingkungan aman pertama yang dikenal anak di luar rumah,” jelas dr. Lahargo. Baginya, rasa aman dan kenyamanan adalah pilar utama bagi tumbuh kembang fisik maupun mental anak.
Mengenali Gejala Trauma pada Anak yang Sulit Berbicara
Salah satu tantangan terbesar dalam kasus trauma anak usia dini adalah keterbatasan verbal mereka. Anak-anak yang masih sangat kecil sering kali belum mampu menceritakan penderitaan mereka dengan kata-kata yang jelas. Namun, tubuh dan perilaku mereka tidak bisa berbohong.
Menurut dr. Lahargo, orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku yang drastis, yang sering kali merupakan manifestasi dari trauma yang dialami, antara lain:
- Perubahan Emosional: Anak mendadak menjadi sangat penakut, sering menangis tanpa sebab yang jelas, atau menunjukkan kecemasan berlebih (sangat lengket) saat akan ditinggal.
- Gangguan Tidur: Munculnya mimpi buruk, sering terbangun di malam hari dalam keadaan ketakutan, atau takut berada di ruangan gelap.
- Regresi Perkembangan: Kemunduran kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, seperti kembali mengompol, bicara menjadi gagap, atau bahkan berhenti bicara sama sekali (mutisme).
- Reaksi Fisik dan Sosial: Mudah kaget, menunjukkan perilaku agresif yang tidak biasa, atau justru menarik diri dari lingkungan sosial secara ekstrem.
- Fobia Spesifik: Ketakutan yang tidak rasional terhadap orang dengan ciri tertentu, seragam tertentu, atau lokasi yang mengingatkan mereka pada tempat kejadian.
Hancurnya ‘Basic Trust’ dan Efek Jangka Panjang
Dampak yang paling merusak dari kasus di Yogyakarta ini bukanlah sekadar luka fisik, melainkan hancurnya basic trust atau rasa percaya dasar pada anak. Ketika figur yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber ancaman, persepsi anak terhadap dunia luar akan terdistorsi.
“Ini bisa merusak pola kelekatan (attachment) dan memengaruhi perkembangan emosi dalam jangka panjang. Mereka belajar bahwa dunia adalah tempat yang tidak aman,” pungkas dr. Lahargo. Pemulihan bagi 53 anak yang terdampak tentu memerlukan pendekatan multidimensi, mulai dari pendampingan psikologis berkelanjutan hingga dukungan penuh dari lingkungan keluarga demi mengembalikan rasa aman yang sempat terenggut.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi setiap orang tua untuk lebih selektif dalam memilih penitipan anak dan selalu waspada terhadap setiap perubahan sekecil apa pun pada perilaku buah hati mereka.