Perjuangan Jeje Adriel Melawan Kanker Limfoma Hodgkin di Usia 25 Tahun: Waspadai Gejala Tak Kasat Mata
Minggu, 26 Apr 2026 06:34 WIB
Kabarmalam.com — Kabar mengejutkan datang dari dunia digital setelah seorang YouTuber muda asal Jakarta Utara, Jeje Adriel, membagikan kisah perjuangannya melawan penyakit serius. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Jeje didiagnosis mengidap kanker limfoma Hodgkin stadium dua, sebuah kenyataan pahit yang bermula dari munculnya benjolan kecil di area leher yang awalnya dianggap sepele.
Melalui unggahan naratif di akun media sosialnya, Jeje menceritakan kronologi awal hingga ia dinyatakan sakit. Awalnya, ia menyadari adanya benjolan kecil di sisi kiri lehernya. Alih-alih langsung melakukan pemeriksaan medis, Jeje sempat mencoba memperbaiki pola hidup secara mandiri dengan metode intermittent fasting. Strategi ini sempat memberikan harapan palsu karena benjolan tersebut memang sempat mengecil sebelum akhirnya kembali membesar secara perlahan.
Diagnosis yang Terlambat Akibat Minim Gejala
Kondisi Jeje menjadi pengingat bagi masyarakat luas bahwa penyakit kanker getah bening sering kali tidak menunjukkan gejala sistemik yang mencolok pada tahap awal. Jeje mengaku tidak merasakan keluhan umum seperti demam berkepanjangan atau keringat dingin di malam hari yang biasanya identik dengan gejala kanker.
“Untuk gejala lain tidak ada, makanya agak telat juga mengeceknya,” ungkap Jeje saat membagikan pengalamannya. Setelah menyadari benjolan tersebut terus berkembang, ia akhirnya memutuskan untuk menjalani rangkaian tes komprehensif, mulai dari PET scan hingga prosedur biopsi. Penantian panjang selama satu bulan berakhir pada 17 April lalu, ketika tim medis menegakkan diagnosis limfoma Hodgkin stadium dua.
Memasuki Fase ‘Peperangan’ Medis
Status stadium dua diberikan karena sel kanker telah ditemukan di dua titik, yakni sisi kiri dan kanan leher. Meskipun benjolan di sisi kanan tidak teraba secara fisik, hasil pemindaian menunjukkan adanya aktivitas sel kanker di sana. Kini, pemuda produktif ini tengah bersiap menghadapi fase yang ia sebut sebagai “peperangan”, yakni rangkaian proses kemoterapi.
Target awal pengobatan mencakup dua siklus atau total empat kali sesi kemoterapi. Jeje yang baru saja menyelesaikan sesi pertamanya, tetap menunjukkan semangat optimis. Ia dijadwalkan kembali menjalani pemeriksaan lanjutan setelah siklus awal selesai untuk memantau efektivitas perawatan terhadap sel kankernya.
Refleksi Gaya Hidup dan Faktor Risiko
Mengenai pemicu penyakitnya, Jeje mengakui bahwa dokter pun belum bisa memberikan jawaban yang pasti. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan perokok dan tidak mengonsumsi alkohol. Namun, ia memberikan catatan kritis pada pola tidur yang kurang teratur selama ini sebagai salah satu faktor yang mungkin berpengaruh.
“Ada yang bilang faktor genetik, ada yang bilang pola hidup. Jam tidur saya memang tidak sebagus itu, tapi bukan berarti saya membenarkan diri saya. Ini menjadi pelajaran besar,” tuturnya. Selain faktor perilaku, kemungkinan adanya faktor keberuntungan biologis atau bad luck juga sempat disinggung dalam diskusinya bersama tim medis.
Misi Meningkatkan Kesadaran Publik
Alih-alih terpuruk, Jeje memilih untuk bersikap transparan mengenai kondisinya. Ia berkomitmen untuk terus mendokumentasikan perjalanannya selama masa pengobatan di media sosial. Langkah ini diambil bukan untuk mencari simpati, melainkan untuk meningkatkan awareness masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini pada gejala-gejala kecil yang muncul di tubuh.
Ia berharap bisa mencapai masa remisi total dalam waktu cepat dengan efek samping kemoterapi yang minimal. Melalui dukungannya di platform digital, Jeje mengajak pengikutnya untuk tidak perlu khawatir berlebihan, namun tetap waspada terhadap kesehatan tubuh masing-masing.