Ikuti Kami
kabarmalam.com

Rekor Baru! Mayoritas Wanita Muda Jepang Kini Enggan Memiliki Anak, Apa Pemicunya?

Wahid | kabarmalam.com
Jumat, 24 Apr 2026 05:37 WIB
Rekor Baru! Mayoritas Wanita Muda Jepang Kini Enggan Memiliki Anak, Apa Pemicunya?

Kabarmalam.com — Krisis demografi di Jepang nampaknya sedang memasuki babak yang semakin pelik. Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa fenomena penurunan minat memiliki anak kini mendominasi pikiran generasi muda, khususnya kaum wanita. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pencatatan, jumlah wanita muda yang memilih untuk tidak memiliki keturunan melampaui persentase laki-laki, sebuah sinyal merah bagi masa depan populasi di Negeri Matahari Terbit tersebut.

Angka Penolakan yang Mencapai Rekor Tertinggi

Berdasarkan survei tahunan yang dirilis oleh Rohto Pharmaceutical Co pada tahun 2025, pandangan generasi muda Jepang terhadap institusi keluarga telah bergeser secara drastis. Melibatkan sekitar 400 responden lajang berusia 18 hingga 29 tahun, riset ini menemukan bahwa hanya 37,4 persen pemuda yang masih berkeinginan memiliki anak. Sebaliknya, sebanyak 62,4 persen responden secara tegas menyatakan tidak tertarik untuk membangun keluarga dengan keturunan.

Baca Juga  Dilema Mencuci Telur Sebelum Disimpan: Langkah Higienis atau Malah Mengundang Bakteri?

Yang menarik, lonjakan skeptisisme ini sangat terasa di kalangan perempuan. Jika kelompok pria mengalami kenaikan tipis menjadi 60,7 persen, persentase wanita yang enggan memiliki anak melonjak signifikan sebesar 11,6 poin hingga menyentuh angka 64,7 persen. Temuan ini menandai angka tertinggi sejak survei tersebut pertama kali dilakukan pada tahun 2018.

Beban Finansial dan Kekhawatiran Karier Menjadi Penghalang Utama

Mengapa tren ini begitu kuat? Kabarmalam.com menelusuri bahwa faktor ekonomi dan profesionalisme menjadi tembok penghalang terbesar bagi mereka. Sebanyak 71,7 persen wanita dan 63,2 persen pria menunjuk beban finansial sebagai kecemasan utama. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, biaya membesarkan anak dianggap sebagai beban yang sangat berat.

Tak hanya soal uang, dilema karier dan keluarga juga memainkan peran krusial. Sekitar 61,4 persen wanita merasa bahwa kehadiran seorang anak akan menjadi hambatan serius bagi perkembangan karier mereka. Persepsi ini diperkuat oleh budaya kerja Jepang yang dikenal sangat kompetitif dan sering kali kurang fleksibel terhadap ibu bekerja, sehingga wanita merasa harus memilih salah satu antara pencapaian profesional atau peran sebagai orang tua.

Baca Juga  Vasektomi Bikin Pria 'Loyo'? Menguak Fakta Medis di Balik Mitos Kejantanan yang Viral

Tekanan yang Juga Dialami Pasangan Menikah

Sentimen ini ternyata tidak hanya berhenti pada mereka yang masih lajang. Survei tambahan terhadap 800 responden yang telah menikah menunjukkan bahwa ketakutan akan stagnasi karier tetap menghantui. Lebih dari 64 persen wanita yang sudah menikah merasa cemas terhadap masa depan pekerjaan mereka jika harus membagi fokus dengan pengasuhan anak. Bahkan, banyak dari mereka yang terpaksa mempertimbangkan untuk berpindah posisi kerja demi bisa mengimbangi peran di rumah.

Ironisnya, banyak dari pasangan ini memilih untuk memendam beban mental tersebut sendirian. Sekitar 40 persen responden mengaku tidak berkonsultasi dengan siapa pun, termasuk atasan atau rekan kerja, mengenai kekhawatiran mereka. Hanya sekitar 4 persen yang berani menyuarakan keresahan ini di lingkungan kantor.

Baca Juga  Jabodetabek 'Mendidih' Tembus 36 Derajat, BMKG Prediksi Cuaca Terik Berlanjut Hingga Mei

Tantangan Serius bagi Masa Depan Jepang

Kondisi ini menggambarkan betapa besarnya jurang antara keinginan membangun keluarga dan realitas dunia kerja di Jepang. Rendahnya angka kelahiran di Jepang bukan lagi sekadar statistik, melainkan refleksi dari kecemasan sosial yang mendalam. Tanpa adanya reformasi yang nyata dalam mendukung keseimbangan hidup, isu populasi menua Jepang diprediksi akan semakin sulit untuk diatasi di masa-masa mendatang.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid