BGN Luruskan Isu 19 Ribu Sapi Per Hari: Cuma Simulasi, Bukan Target Riil Program Makan Bergizi Gratis
Jumat, 24 Apr 2026 10:35 WIB
Kabarmalam.com — Polemik mengenai kebutuhan fantastis 19.000 ekor sapi setiap harinya untuk menyokong program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya menemui titik terang. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, secara tegas meluruskan bahwa angka tersebut bukanlah target operasional harian, melainkan sebuah bentuk pengandaian atau simulasi matematis semata.
Dalam keterangannya usai meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pemuda Muhammadiyah di Bekasi pada Selasa lalu, Dadan menjelaskan bahwa perhitungan tersebut muncul dari asumsi teknis. Jika seluruh unit SPPG diinstruksikan untuk memasak menu berbahan dasar daging sapi pada waktu yang bersamaan, barulah angka tersebut menjadi relevan secara statistik.
Logika di Balik Simulasi Kebutuhan Daging
Dadan memaparkan bahwa setiap satu unit SPPG rata-rata membutuhkan pasokan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging sapi murni untuk satu kali siklus memasak dalam skala besar. Secara teknis, jumlah tersebut setara dengan hasil daging dari satu ekor sapi dewasa. Oleh karena itu, total kebutuhan nasional yang sempat menghebohkan publik itu didapat dari perkalian jumlah SPPG yang tersedia.
“Ini murni pengandaian. Jika hari ini satu SPPG memasak sapi, maka butuh satu ekor. Kalau seluruh SPPG secara serentak kita perintahkan memasak menu yang sama pada tanggal tertentu, tinggal dikalikan saja jumlah SPPG-nya. Namun, praktiknya tidak akan sekaku itu,” ungkap Dadan merinci strategi program Makan Bergizi Gratis tersebut.
Belajar dari Lonjakan Harga Telur
Salah satu alasan kuat mengapa BGN tidak memberlakukan menu seragam secara nasional adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi mikro. Dadan menegaskan bahwa penyeragaman menu secara massal berisiko tinggi memicu guncangan pada rantai pasok dan menyebabkan inflasi dadakan pada komoditas tertentu di pasar.
Pengalaman berharga didapat saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober silam. Saat itu, penyajian menu nasi goreng telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat membutuhkan pasokan luar biasa besar, yakni 36 juta butir telur atau setara 2.200 ton. Dampak instannya, harga telur di pasaran sempat melonjak hingga Rp3.000 akibat tekanan permintaan yang terkonsentrasi di satu hari.
Prioritas pada Keanekaragaman Pangan Lokal
Berangkat dari evaluasi tersebut, BGN kini memilih pendekatan yang lebih dinamis dan fleksibel. Penyusunan daftar menu akan sangat bergantung pada potensi sumber daya serta preferensi masyarakat di masing-masing daerah. Strategi ini diharapkan mampu menghidupkan ekosistem ekonomi lokal tanpa merusak struktur harga di tingkat nasional.
“Kami ingin memaksimalkan pangan lokal dan menyesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Dengan fleksibilitas ini, tekanan terhadap konsumsi satu jenis komoditas bisa ditekan, sehingga harga di pasar tetap stabil namun kebutuhan gizi anak-anak tetap terpenuhi dengan baik,” pungkas Dadan Hindayana.