Kisah Pilu Pria Surabaya Berjuang Melawan Kanker Ginjal di Usia Muda: Awalnya Dikira Nyeri Perut Biasa
Kamis, 23 Apr 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Tragedi kesehatan sering kali datang tanpa mengetuk pintu, menyerang saat seseorang merasa berada di puncak kebugarannya. Inilah yang dialami oleh Mohammad Rizal Putra Hadi, seorang pria asal Surabaya yang harus menerima kenyataan pahit hidup dengan hanya satu ginjal di usia yang masih tergolong produktif, yakni 35 tahun. Kisah perjuangannya melawan kanker ginjal stadium lanjut menjadi pengingat bagi kita semua betapa berharganya deteksi dini.
Gejala yang Menipu: Dari Nyeri Biasa hingga Merangkak ke Kamar Mandi
Semuanya bermula dengan sangat halus. Rizal mengaku awalnya tidak merasakan keanehan apa pun pada tubuhnya. Namun, ketenangan itu pecah saat rasa nyeri hebat tiba-tiba menyerang perut bagian kanan dan menjalar hingga ke punggung. Rasa sakitnya begitu menyiksa hingga ia kehilangan kemampuan untuk beraktivitas normal.
“Aku nggak bisa ngapa-ngapain, tiduran aja. Mau ke kamar mandi pun itu aku beneran kayak merangkak. Dan aku rasanya itu mual banget,” ungkap Rizal melalui narasi yang menyentuh di akun TikTok pribadinya, @rizalfuel. Ketidakberdayaan ini menjadi sinyal pertama bahwa ada sesuatu yang sangat salah di dalam tubuhnya.
Labirin Medis dan Diagnosis yang Berubah-ubah
Mencari kepastian medis ternyata bukan perkara mudah bagi Rizal. Ia harus melewati perjalanan panjang, berpindah-pindah rumah sakit demi mendapatkan jawaban atas rasa sakitnya. Pada Agustus 2025, Rizal memutuskan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan lebih mendalam menggunakan fasilitas BPJS.
Awalnya, melalui pemeriksaan USG, dokter menduga terdapat massa kecil berukuran 3 cm yang diperkirakan sebagai batu ginjal. Namun, kecurigaan dokter membawa Rizal pada pemeriksaan CT Scan kontras sebulan kemudian. Hasilnya sangat mengejutkan: massa yang semula dikira batu ginjal ternyata adalah kanker ginjal jenis sarkoma grade 4. Tragisnya, dalam waktu singkat, massa tersebut telah berkembang pesat dari 3 cm menjadi 8 cm.
Perlombaan Melawan Waktu: Tumor yang Terus Membesar
Rizal sempat mengalami fase penolakan atau denial, sebuah reaksi manusiawi saat divonis penyakit mematikan. Namun, kondisi fisiknya terus merosot. Gejala klinis semakin mengkhawatirkan dengan munculnya kencing darah dan rasa lemas yang luar biasa. Pemeriksaan MRI terbaru di akhir Oktober 2025 menunjukkan angka yang mengerikan: tumor tersebut telah membengkak hingga berukuran 12 cm.
Sadar bahwa setiap detik sangat berharga, Rizal memutuskan untuk menempuh jalur operasi mandiri di sebuah rumah sakit umum pada 6 November 2025 agar tindakan bisa dilakukan lebih cepat. Keputusan ini terbukti krusial bagi keselamatannya.
Drama di Meja Operasi: Nyaris Terlambat
Ketegangan memuncak saat tim medis membuka area perut Rizal. Ternyata, ukuran kanker tersebut jauh lebih besar dari estimasi terakhir, yakni mencapai 18 cm. Kondisi ini sangat berisiko karena massa kanker sudah mulai menempel pada organ-organ vital di sekitarnya.
“Sampai dokternya bilang ke orang tuaku, kalau misalnya ini nanti lengket, kita tutup kembali dan nggak bisa operasi,” kenang Rizal. Beruntung, berkat keahlian tim bedah spesialis, kanker tersebut berhasil diangkat tanpa harus melukai organ lainnya. Rizal dinyatakan bersih dari massa kanker, meski ia harus kehilangan satu ginjal kanannya selamanya.
Meniti Hidup Baru dengan Satu Ginjal
Pasca-operasi, hidup Rizal tak lagi sama. Ia kini harus beradaptasi dengan gaya hidup sehat yang jauh lebih ketat. Stamina yang menurun drastis membuatnya harus meninggalkan hobi olahraga berat seperti Muay Thai dan boxing yang biasa ia lakukan 3-4 kali seminggu.
Kini, Rizal fokus pada konsumsi real food dan sangat membatasi aktivitas fisik. Rasa nyeri di bekas luka operasi masih sering menghantuinya, terutama saat ia salah posisi tidur atau duduk terlalu lama. Perjalanan Rizal adalah sebuah testimoni tentang keteguhan hati dan pentingnya mendengarkan sinyal-sinyal kecil yang diberikan oleh tubuh sebelum semuanya terlambat.