Waspada Gula Berlebih: Menakar Efektivitas Nutri Level dalam Membendung Laju Diabetes di Indonesia
Selasa, 14 Apr 2026 13:35 WIB
Kabarmalam.com — Langkah besar tengah dipersiapkan pemerintah Indonesia untuk menekan angka penyakit tidak menular melalui regulasi label gizi bertajuk ‘Nutri Level’. Terinspirasi dari kesuksesan sistem ‘Nutri Grade’ di Singapura, label ini nantinya akan terpampang pada berbagai produk pangan olahan maupun minuman siap saji, dengan klasifikasi tingkatan dari A hingga D.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan kuat. Lonjakan kasus diabetes di tanah air kian mengkhawatirkan, dipicu oleh pola konsumsi masyarakat yang gemar menyantap hidangan dan minuman tinggi gula. Dampaknya pun merembet ke sektor ekonomi kesehatan; data BPJS Kesehatan memprediksi pembiayaan komplikasi penyakit ginjal akibat diabetes bisa membengkak hingga sembilan kali lipat pada tahun 2025 mendatang.
Mengenal Klasifikasi Nutri Level
Hingga saat ini, pemerintah telah merancang empat kategori utama dalam sistem Nutri Level yang didasarkan pada kandungan Gula, Garam, dan Lemak (GGL):
- Level A (Hijau Tua): Menandakan kandungan GGL paling rendah dan lebih sehat.
- Level B (Hijau Muda): Menunjukkan kandungan GGL dalam batas rendah.
- Level C (Kuning): Memberi sinyal agar konsumen lebih bijak dalam mengonsumsinya.
- Level D (Merah): Kategori paling kritis yang harus dibatasi ketat sesuai kondisi kesehatan.
Meski klasifikasi warna telah ditentukan, publik masih menanti rincian resmi mengenai ambang batas gramasi gula, garam, maupun lemak yang menjadi tolok ukur di setiap level tersebut.
Pakar Soroti Potensi ‘Optimism Bias’
Pakar epidemiologi, Dicky Budiman, memberikan catatan kritis terkait implementasi kebijakan ini. Menurutnya, efektivitas Nutri Level sangat bergantung pada narasi komunikasi yang disampaikan kepada publik. Tanpa edukasi yang mendalam, ada risiko masyarakat dengan literasi rendah justru terjebak dalam optimism bias.
“Konsumen seringkali menganggap label level terendah bukan sebagai peringatan bahaya, melainkan sekadar pilihan terakhir. Muncul anggapan bahwa mengonsumsi produk level D sesekali tidak akan berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang,” jelas Dicky saat dihubungi oleh tim redaksi kami.
Dicky menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang lebih lugas dalam edukasi kesehatan. Ia menyarankan agar pemerintah tidak hanya menggunakan label yang bersifat netral, tetapi juga menyertakan peringatan eksplisit yang mampu memicu perubahan perilaku secara psikologis.
Belajar dari Pengalaman Singapura
Keberhasilan Singapura dalam menekan angka obesitas hingga lebih dari tiga persen menjadi bukti bahwa pelabelan yang ketat mampu mendorong industri untuk melakukan reformulasi produk. Di sana, label peringatan yang kontras dan visualisasi merah yang dominan pada produk kategori terendah terbukti efektif membuat konsumen berpikir dua kali.
“Pemerintah harus berani mendorong industri agar tidak sekadar menempel label, tapi benar-benar merombak komposisi produk mereka menjadi lebih rendah GGL. Jika aturan pada Level D dibuat terlalu lunak, maka industri tidak akan memiliki motivasi kuat untuk bergeser ke Level A,” tambahnya.
Dengan hadirnya Nutri Level, diharapkan masyarakat Indonesia bisa lebih mawas diri terhadap apa yang mereka konsumsi, sekaligus menjadi tameng utama dalam menjaga pola hidup sehat di tengah kepungan produk pangan instan yang kian masif.