Ikuti Kami
kabarmalam.com

Hati-hati! Ketika Diare Menjadi ‘Kamuflase’ Serangan Jantung, Begini Penjelasan Medisnya

Wahid | kabarmalam.com
Selasa, 14 Apr 2026 07:34 WIB
Hati-hati! Ketika Diare Menjadi 'Kamuflase' Serangan Jantung, Begini Penjelasan Medisnya

Kabarmalam.com — Selama ini, masyarakat awam umumnya mengenal gejala serangan jantung melalui tanda-tanda klasik seperti nyeri dada yang menjalar atau sesak napas yang hebat. Namun, sebuah temuan medis menarik baru-baru ini mengungkap sisi lain dari kegawatdaruratan medis ini, di mana keluhan sistem pencernaan seperti diare justru menjadi pertanda awal terjadinya gangguan pada jantung.

Kisah unik namun krusial ini dibagikan oleh dokter spesialis jantung, dr. Giovanno Rachmanda Maulana, SpJP, FIHA, dari Siloam Heart Hospital. Dalam sebuah diskusi medis di Jakarta Selatan, dr. Gio memaparkan kasus langka di mana seorang pasien datang dengan keluhan diare, namun setelah diperiksa lebih mendalam, ternyata pasien tersebut sedang mengalami serangan jantung yang mengancam nyawa.

Baca Juga  Waspada 'Hidden Sugar'! BPOM Resmi Berlakukan Label Nutri-Level untuk Tekan Angka Diabetes di Indonesia

Kamuflase Gejala Akibat Komplikasi Diabetes

Lantas, bagaimana mungkin masalah di usus berkaitan erat dengan kondisi jantung? Dr. Gio menjelaskan bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan kondisi penyerta pasien, yakni diabetes. Penyakit gula yang tidak terkontrol dalam jangka panjang diketahui dapat merusak jaringan saraf di seluruh tubuh, termasuk saraf yang mengirimkan sinyal rasa sakit dari jantung ke otak.

“Ada yang namanya saraf simpatis dan saraf parasimpatis, yang termasuk dalam sistem saraf otonom. Pada penyandang diabetes, sensitivitas saraf mereka sering kali menurun. Semestinya mereka merasakan nyeri dada yang hebat, tetapi karena sarafnya sudah tidak peka, rasa sakit itu tidak muncul,” ungkap dr. Gio secara naratif.

Baca Juga  Harapan Baru Bagi Pasien Diabetes: Rahasia Lepas dari Ketergantungan Obat Seumur Hidup

Sinyal Darurat yang ‘Sasar Alamat’

Meski saraf jantung tidak mampu mengirimkan sinyal sakit dengan baik, otak manusia memiliki mekanisme cerdas untuk tetap memberikan tanda bahaya. Menurut dr. Gio, ketika jantung mengalami masalah serius namun jalurnya terhambat, sinyal tersebut sering kali dialihkan ke organ lain yang sarafnya masih cukup sensitif, dalam hal ini adalah sistem pencernaan.

“Tubuh tetap harus memberikan tanda bahaya. Tidak mungkin jantung mengalami serangan tapi tubuh diam saja. Dalam kasus tertentu, sinyal itu diterima oleh perut dan usus, sehingga menimbulkan gejolak yang bermanifestasi sebagai diare. Ini adalah bentuk respons tubuh yang mungkin sudah didesain sedemikian rupa sebagai tanda peringatan,” tambahnya lagi.

Baca Juga  Misteri Cedera Punggung Viktor Axelsen: Mengapa Sang 'Alien' Akhirnya Menyerah di Puncak Karier?

Waspada bagi Kelompok Lansia

Kondisi yang membingungkan ini biasanya tidak terjadi pada pasien muda, melainkan lebih sering ditemukan pada pasien lanjut usia, khususnya mereka yang telah menginjak usia 60 tahun ke atas. Pada kelompok usia ini, keluhan kesehatan sering kali menjadi tidak spesifik.

Dr. Gio mengingatkan agar keluarga dan tenaga medis lebih jeli melihat perubahan kondisi fisik pada lansia. Keluhan yang terlihat sepele seperti diare ringan atau kekurangan elektrolit secara tiba-tiba, bisa jadi merupakan ‘topeng’ dari kondisi medis yang jauh lebih serius. Pemahaman akan gejala serangan jantung yang tidak lazim ini diharapkan dapat mempercepat penanganan medis dan menekan angka risiko kematian akibat keterlambatan diagnosis.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid