Keluar dari Jeratan Hubungan Toksik: Strategi Penyelamatan Diri Menurut Pakar Kesehatan Jiwa
Minggu, 05 Jul 2026 18:34 WIB
Kabarmalam.com — Terjebak dalam pusaran hubungan yang tidak sehat sering kali terasa seperti berjalan di atas duri; menyakitkan, melelahkan, dan penuh risiko yang tidak kasat mata. Realitas pahit menunjukkan bahwa tidak semua orang beruntung memiliki ikatan emosional yang damai. Banyak yang justru terperangkap dalam labirin hubungan toksik yang dipenuhi dengan manipulasi psikologis hingga kekerasan fisik yang mengancam keselamatan jiwa.
Pentingnya Membangun Jaring Pengaman Emosional
Memutuskan tali dari hubungan yang merusak bukanlah perkara mudah. Sering kali, korban merasa lumpuh secara mental dan tidak tahu harus melangkah ke mana. Menanggapi fenomena ini, spesialis kedokteran jiwa, dr. Erickson Arthur S, SpKJ, menekankan bahwa langkah pertama yang paling krusial adalah mengidentifikasi support system atau sistem pendukung yang solid.
“Ketika kekerasan terjadi dalam sebuah hubungan, baik itu dalam ikatan pernikahan maupun pacaran, hal utama yang harus dipikirkan adalah siapa orang yang bisa dihubungi segera. Carilah sosok terdekat, seperti orang tua atau anggota keluarga lainnya yang mampu memberikan perhatian positif dan menjadi tempat bercerita yang aman,” ujar dr. Erick dalam sebuah diskusi mendalam beberapa waktu lalu.
Langkah Darurat Saat Terjadi Kekerasan Fisik
Dukungan moral memang penting, namun dr. Erick mengingatkan bahwa ketika situasi sudah melibatkan ancaman fisik atau kekerasan dalam hubungan yang nyata, tindakan medis dan hukum harus segera diambil. Keselamatan diri adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar.
Jika korban mengalami cedera atau mendapatkan ancaman yang membahayakan nyawa, dr. Erick menyarankan untuk tidak ragu menghubungi pihak kepolisian atau layanan ambulans. Penanganan medis yang cepat dan perlindungan hukum merupakan tameng utama bagi korban agar tidak terjatuh lebih dalam ke dalam bahaya yang lebih besar.
Mencari ‘Rumah Aman’ dan Menjaga Jarak
Salah satu konsep yang ditekankan oleh dr. Erick dalam menjaga kesehatan mental dan keamanan fisik adalah menemukan apa yang disebut sebagai “Rumah Aman”. Tempat ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang di mana korban bisa merasa terlindungi dari jangkauan pelaku toksik.
“Langkah utamanya adalah kita perlu mendapatkan rumah aman. Jika kekerasan terus berlanjut dan sulit dihindari, maka menjauh secara fisik adalah keharusan. Kita harus menciptakan jarak yang cukup agar proses pemulihan bisa dimulai tanpa adanya intimidasi tambahan,” tambahnya. Menjauh secara fisik bukan berarti melarikan diri dari masalah, melainkan langkah strategis untuk menyelamatkan diri dari kehancuran yang lebih parah.
Menyadari tanda-tanda red flag sejak dini dan berani mengambil langkah tegas untuk menjauh adalah bentuk tertinggi dari mencintai diri sendiri. Jangan biarkan diri Anda terbelenggu dalam hubungan yang perlahan-lahan mematikan kebahagiaan dan masa depan Anda.