Netanyahu Tegaskan Pasukan Israel Tetap di Lebanon: Tak Ada Penarikan Sebelum Hizbullah Lucuti Senjata
Rabu, 01 Jul 2026 01:34 WIB
Kabarmalam.com — Eskalasi ketegangan di wilayah perbatasan utara kembali menjadi sorotan dunia setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melontarkan pernyataan yang cukup kontroversial. Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel tidak akan pernah menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan sampai ancaman yang datang dari kelompok Hizbullah benar-benar sirna secara total.
Sinyal Keras Tel Aviv di Perbatasan
Pernyataan berani ini disampaikan Netanyahu menyusul penandatanganan pakta kerangka kerja yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Meskipun pakta tersebut diharapkan menjadi jembatan menuju perdamaian antara kedua negara, Israel memberikan syarat yang sangat berat bagi Beirut. Kesepakatan tersebut menetapkan bahwa penarikan mundur pasukan Israel hanya akan dilakukan jika militer Lebanon berhasil melakukan pelucutan senjata terhadap Hizbullah.
Sebagai langkah awal, rencananya akan dibentuk sebuah “zona percontohan” yang nantinya akan diambil alih oleh kendali militer resmi Lebanon. Namun, Netanyahu tampak skeptis dan memilih untuk tetap menyiagakan pasukannya di medan tempur demi memastikan keamanan dalam negeri mereka terjamin sepenuhnya.
“Posisi kami sangat jelas dan tidak bisa dinegosiasikan. Kami tidak akan meninggalkan Lebanon selatan sebelum ancaman tersebut hilang sepenuhnya. Selama milisi bersenjata masih ada di sini dan mengancam keamanan warga kami, maka kami akan tetap bertahan,” tegas Netanyahu dalam keterangannya yang dilansir pada Rabu (1/7/2026).
Tekanan Terhadap Pengaruh Iran
Selain memberikan ultimatum kepada Hizbullah, Netanyahu juga menyasar pengaruh Iran di kawasan tersebut. Ia menuntut agar kedua entitas tersebut segera menghentikan aktivitas mereka di Lebanon selatan. Menurut pandangannya, stabilitas kawasan hanya bisa dicapai jika dua negara berdaulat dapat hidup berdampingan tanpa campur tangan milisi yang didukung oleh kekuatan luar.
“Kami katakan dengan tegas kepada Iran dan Hizbullah: tinggalkan tempat ini segera. Kalian tidak memiliki tempat di sini lagi. Ada dua negara berdaulat yang sebenarnya ingin hidup dalam kedamaian,” tambahnya dengan nada bicara yang lugas.
Zona Keamanan Tanpa Batas Waktu
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel yang baru, Israel Katz, memberikan penguatan atas sikap PM Netanyahu. Katz secara eksplisit menyatakan bahwa Tel Aviv belum menyusun jadwal penarikan pasukan, baik itu di Lebanon, Jalur Gaza, maupun Suriah. Ia berargumen bahwa keberadaan tentara Israel di zona-zona keamanan tersebut adalah harga mati untuk melindungi warga dari serangan elemen-elemen jihadis yang berasal dari wilayah tersebut.
“Kita harus tetap berada di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza, dan bukan untuk jangka waktu yang terbatas. Hal ini krusial guna memproteksi penduduk dan komunitas kita. Kami secara tegas menentang penarikan pasukan IDF dari zona keamanan, terlepas dari segala bentuk tekanan internasional yang mungkin muncul di kemudian hari,” ujar Katz saat menghadiri seremoni kelulusan di sebuah akademi militer Israel.
Dengan sikap keras dari para petinggi Tel Aviv ini, prospek perdamaian yang dicanangkan melalui mediasi AS tampaknya masih harus menghadapi jalan yang sangat terjal. Ketegangan ini diprediksi akan terus berlanjut selama syarat-syarat militer yang diajukan Israel belum terpenuhi di lapangan.