Waspada Benjolan Testis: Panduan Urolog untuk Deteksi Dini Kanker dan Kesehatan Pria
Senin, 29 Jun 2026 08:04 WIB
Kabarmalam.com — Sering kali, rasa takut atau sikap abai menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk mencari bantuan medis, terutama menyangkut area sensitif. Dr. Jamin Brahmbhatt, seorang spesialis urologi dan ahli bedah robotik di Orlando Health, Amerika Serikat, kerap menemui fenomena ini di ruang praktiknya. Ia menceritakan kisah seorang pria yang baru mau memeriksakan diri setelah berbulan-bulan merasakan benjolan di testis, itu pun karena dipaksa oleh pasangannya.
Hasil pemeriksaan fisik dan ultrasonografi (USG) memang menunjukkan bahwa benjolan tersebut hanyalah kista jinak. Namun, Dr. Brahmbhatt memberikan peringatan keras: keberuntungan seperti itu tidak selalu berulang. Meskipun sebagian besar benjolan pada area vital pria bukan merupakan keganasan, mengabaikan perubahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal jika ternyata itu adalah gejala awal kanker testis.
Pentingnya Mengenali ‘Peta’ Tubuh Sendiri
Kesadaran akan kesehatan organ reproduksi tidak muncul begitu saja. Dr. Brahmbhatt mengakui bahwa ia sendiri baru benar-benar memeriksa kondisi testisnya secara mandiri saat menempuh pendidikan kedokteran. Kepanikan sempat melanda ketika ia menemukan benjolan kecil, yang belakangan diketahui hanyalah kista bawaan lahir yang tidak berbahaya.
Pengalaman pribadi ini menjadi landasan baginya untuk mendorong para pria agar lebih peduli pada tubuh mereka. Melakukan pemeriksaan mandiri tidak memerlukan waktu lama, cukup kurang dari dua menit saat sedang mandi. Tujuannya bukan untuk mendiagnosis diri sendiri, melainkan untuk mengenali kondisi normal sehingga perubahan sekecil apa pun bisa segera terdeteksi.
Apa Saja Kondisi yang Dianggap Normal?
Banyak pria merasa cemas karena tidak tahu seperti apa bentuk atau tekstur testis yang sehat. Dr. Brahmbhatt menjelaskan bahwa ada beberapa variasi anatomi yang sebenarnya normal dan bukan tanda gejala kanker, di antaranya:
- Asimetri Posisi: Salah satu testis, biasanya bagian kiri, sering kali menggantung lebih rendah daripada yang kanan.
- Perbedaan Ukuran: Wajar jika ukuran kedua testis tidak identik seratus persen.
- Struktur Epididimis: Adanya saluran lunak yang terasa seperti gulungan kecil di bagian belakang testis adalah hal normal, bukan tumor.
- Kista Kecil: Benjolan lunak atau kista kecil pada testis atau epididimis sering kali bersifat jinak.
- Varikokel: Pelebaran pembuluh darah di atas testis yang menyerupai ‘kantung cacing’, selama tidak menimbulkan nyeri hebat.
- Respon Suhu: Testis yang naik atau turun sebagai respon terhadap suhu, olahraga, atau gairah seksual.
Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke Dokter?
Satu hal yang menjadi ciri khas utama dari kanker testis adalah munculnya benjolan yang terasa keras dan padat, namun uniknya sering kali tidak disertai rasa sakit. Kondisi ini harus segera dikonsultasikan melalui pemeriksaan medis secara profesional.
Berdasarkan data dari American Cancer Society, kanker testis paling sering menyerang pria di usia produktif, yakni antara 20 hingga 30 tahun. Kabar baiknya, jenis kanker ini memiliki tingkat kesembuhan yang sangat tinggi, mencapai 99 persen, apabila ditemukan dalam stadium dini. Oleh karena itu, jangan menunggu hingga muncul rasa nyeri untuk memeriksakan diri.
Membedakan Kanker, Infeksi, dan Kondisi Darurat
Tidak semua kelainan berarti kanker. Jika testis mengalami pembengkakan yang disertai kemerahan, rasa panas, hingga demam, kemungkinan besar terjadi epididimitis atau peradangan yang bisa diatasi dengan antibiotik. Namun, ada satu kondisi yang masuk kategori gawat darurat medis: torsi testis.
Torsi testis terjadi ketika saluran sperma terpelintir secara tiba-tiba, yang memutus aliran darah ke testis. Gejalanya berupa nyeri hebat yang muncul mendadak. Jika tidak segera ditangani dalam hitungan jam melalui operasi, testis tersebut berisiko mengalami kematian jaringan dan harus diangkat. Menjaga kesehatan pria dimulai dari keberanian untuk peduli dan tidak meremehkan sinyal yang diberikan oleh tubuh.