Antara Tawa dan Air Mata: Curhatan Mendalam Ruben Onsu Soal Beban Profesionalitas di Layar Kaca
Minggu, 21 Jun 2026 13:33 WIB
Kabarmalam.com — Di balik gemerlap lampu studio dan tawa renyah yang kerap menghiasi layar kaca, sosok Ruben Onsu menyimpan sisi manusiawi yang penuh perjuangan. Dalam sebuah momen reflektif saat menghadiri tausiah di sebuah masjid di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, presenter kondang ini membuka tabir mengenai pahit getirnya tuntutan profesionalitas di dunia hiburan.
Topeng Senyum di Tengah Luka Batin
Menjadi seorang publik figur papan atas bukan berarti terbebas dari kesedihan. Ruben Onsu mengakui bahwa dirinya seringkali terjebak dalam situasi paradoks, di mana ia harus memasang wajah penuh kebahagiaan sementara hatinya sedang hancur. Mantan suami Sarwendah ini mengungkapkan bahwa menjaga perasaan penonton adalah prioritas utama dalam kariernya sebagai presenter Indonesia yang profesional.
“Alhamdulillah, saya bisa melewati berbagai tahapan hidup dengan ketenangan, meski terkadang hati harus dipaksa tersenyum. Padahal, senyuman itu seringkali bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya sedang bergejolak di pikiran dan perasaan saya,” ujar Ruben dengan nada bicara yang tenang namun sarat makna.
Tuntutan Aura Positif di Depan Kamera
Bagi ayah tiga anak ini, layar kaca adalah panggung pengabdian untuk memberikan keceriaan. Ruben menyadari sepenuhnya bahwa kehadirannya diharapkan mampu membawa aura positif bagi masyarakat luas. Membawa kesedihan pribadi ke ranah publik, baginya, bukanlah sebuah pilihan yang bijak dalam menjalankan tugas profesional.
“Pekerjaan saya menuntut saya untuk menghibur dan bertemu banyak orang. Tidak mungkin saya menunjukkan air mata setiap kali bertemu mereka, bukan? Tugas saya adalah memberikan energi positif, apa pun kondisi yang sedang saya alami di belakang layar,” tambahnya lagi, menekankan betapa pentingnya menjaga integritas pekerjaan.
Menemukan Kekuatan dari Senyuman Orang Lain
Meski terasa berat dan melelahkan secara emosional, pria berusia 42 tahun ini mengaku tidak pernah merasa benar-benar sendiri. Ia justru menemukan energi baru dari interaksi sederhana dengan orang-orang yang ditemuinya. Senyuman yang diberikan oleh masyarakat ternyata menjadi obat penawar dan suntikan semangat bagi dirinya untuk tetap berdiri tegak di tengah badai kehidupan.
“Saya memberikan senyuman karena itulah yang mereka butuhkan. Namun, dari situ saya belajar satu hal berharga: ternyata masih banyak orang di luar sana yang tulus memberikan senyuman balik untuk saya. Hal itu membuat saya merasa tidak sendirian. Saya percaya Tuhan selalu menyertai setiap langkah saya,” jelasnya dengan penuh rasa syukur.
Transformasi Spiritual: Melapor kepada Sang Pencipta
Menghadapi berbagai tekanan hidup dan isu kesehatan mental, Ruben Onsu kini memilih jalur yang lebih spiritual dalam mencari ketenangan. Jika dahulu ia sering mengandalkan teman untuk berkeluh kesah, kini pola hidupnya telah berubah drastis. Ia lebih memilih untuk ‘melapor’ kepada Sang Pencipta melalui ibadah dan doa daripada mengandalkan bantuan manusia.
“Sekarang saya sudah sangat jarang curhat kepada teman jika sedang ada masalah. Prioritas utama saya adalah ‘lapor’ ke atas (Tuhan), titik. Dulu mungkin saya merasa kesal kalau telepon tidak diangkat teman saat sedang butuh tempat cerita. Sekarang, mentalitas itu sudah hilang. Lapor dulu kepada Sang Pencipta, baru jalani hari,” pungkas Ruben menutup pembicaraan.