Efisiensi Anggaran! Luhut Ungkap Rencana Bansos Berbasis AI dan Digital Single ID
Rabu, 10 Jun 2026 01:04 WIB
Kabarmalam.com — Transformasi besar-besaran di sektor tata kelola ekonomi nasional kini tengah dipersiapkan secara matang oleh pemerintah. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengonfirmasi bahwa Indonesia akan segera mengadopsi teknologi mutakhir dalam sistem penyaluran bantuan sosial (bansos). Langkah strategis ini bertujuan untuk menciptakan sistem yang lebih presisi, transparan, dan minim kebocoran dengan memanfaatkan kekuatan Artifisial Inteligensi (AI).
Pernyataan tersebut disampaikan Luhut usai menggelar pertemuan penting dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya optimalisasi Government Technology (GovTech) sebagai pilar utama untuk mendorong efisiensi birokrasi di berbagai lini pemerintahan masa depan.
Digital Single ID: Kunci Akurasi Data Penerima
Salah satu terobosan utama yang menjadi sorotan dalam diskusi tersebut adalah pengembangan Digital Single ID. Menurut Luhut, identitas digital tunggal ini akan menjadi fondasi agar distribusi bantuan tidak lagi salah sasaran. “Pemerintahan Presiden Prabowo akan sepenuhnya berbasis digitalisasi yang didukung penuh oleh teknologi AI. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita akan memiliki Digital Single ID,” ungkap Luhut yang saat itu didampingi oleh jajaran anggota DEN, termasuk Chatib Basri dan Septian Hario Seto.
Luhut optimis bahwa sistem identitas digital ini sudah dapat diimplementasikan mulai akhir tahun ini. Dengan data yang lebih terintegrasi dan akurat, pemerintah memproyeksikan penghematan anggaran negara dalam angka yang sangat fantastis akibat berkurangnya duplikasi data dan penyaluran yang tidak tepat.
Pergeseran Paradigma: Subsidi Langsung ke Penerima
Selain soal akurasi, Luhut Binsar Pandjaitan juga memaparkan adanya pergeseran paradigma dalam mekanisme pemberian subsidi. Ke depannya, pemerintah berencana mengalihkan skema subsidi dari yang sebelumnya berbentuk barang menjadi transfer tunai langsung (direct cash transfer) kepada masyarakat yang membutuhkan.
Melalui pengolahan data berbasis kecerdasan buatan atau AI, pemerintah dapat mengelompokkan profil penerima manfaat dengan jauh lebih detail. Luhut mengalkulasi bahwa jika seluruh bentuk bantuan sosial dikonsolidasikan, rata-rata nominal yang dapat disalurkan bisa mencapai angka Rp 5,4 juta per individu.
“Semua bansos itu jika kita kumpulkan, mulai dari cash transfer dan lainnya, rata-rata ada Rp 5,4 juta per orang. Inilah yang nantinya akan kita kelompokkan dan kelola menggunakan AI agar benar-benar sampai ke tangan yang berhak,” tegasnya.
Implementasi teknologi canggih ini diharapkan bukan sekadar mengikuti tren global, melainkan menjadi solusi nyata atas tantangan distribusi bantuan di Indonesia selama ini. Dengan sistem yang terautomasi dan pengawasan berbasis data, celah manipulasi diharapkan dapat tertutup rapat demi kesejahteraan rakyat yang lebih merata.