Ikuti Kami
kabarmalam.com

Cold-Pressed Juice vs Jus Blender: Mengupas Mitos Nutrisi di Balik Tren Minuman Sehat

Wahid | kabarmalam.com
Minggu, 07 Jun 2026 09:34 WIB
Cold-Pressed Juice vs Jus Blender: Mengupas Mitos Nutrisi di Balik Tren Minuman Sehat

Kabarmalam.com — Belakangan ini, deretan botol warna-warni berlabel cold-pressed juice semakin mendominasi rak-rak supermarket premium hingga menu kafe kekinian. Dengan label harga yang seringkali lebih menguras kantong, minuman ini dipasarkan sebagai standar emas dalam menjaga kesegaran dan nutrisi buah. Namun, benarkah metode ini benar-benar unggul telak dibandingkan dengan jus yang dibuat menggunakan blender rumahan?

Logika di Balik Popularitas Cold-Pressed

Daya tarik utama dari cold-pressed juice terletak pada proses pembuatannya. Berbeda dengan juicer sentrifugal atau blender yang menggunakan pisau berkecepatan tinggi, metode cold-pressed bekerja dengan cara menekan buah dan sayur secara perlahan tanpa menghasilkan panas berlebih.

Secara teori, panas dan gesekan pada alat konvensional dianggap dapat memicu oksidasi yang merusak vitamin dan enzim sensitif. Oleh karena itu, banyak orang beralih ke cold-pressed demi mendapatkan antioksidan yang maksimal. Namun, jurnalisme kesehatan modern mulai mempertanyakan apakah perbedaan ini benar-benar berdampak signifikan bagi kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

Baca Juga  Prediabetes: Alarm Tersembunyi Tubuh yang Tak Boleh Diabaikan Sebelum Terlambat

Adu Data: Hasil Penelitian yang Beragam

Jika kita melihat data ilmiah, perdebatan ini memang memiliki dasar yang kuat namun tidak selalu hitam-putih. Sebuah studi yang mengamati pengolahan jus anggur menemukan bahwa metode low-speed masticating (serupa cold-pressed) mampu menghasilkan kandungan polifenol sekitar 327 mg per 100 mL. Angka ini memang lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil blender (250 mg) maupun juicer sentrifugal (90 mg).

Begitu pula dengan kandungan Vitamin C, di mana metode tekanan rendah mencatat angka 0,78 mg per 100 mL, mengungguli blender yang berada di angka 0,40 mg. Meski terlihat ada perbedaan, para ahli mengingatkan bahwa angka-angka ini bisa bervariasi tergantung pada jenis bahan yang digunakan.

Baca Juga  Lawan Risiko Diabetes, Kemenkes Resmi Luncurkan Sistem Label Nutri Level untuk Pangan Sehat

Fakta Mengejutkan: Tidak Semua Buah Sama

Menariknya, keunggulan cold-pressed tidak berlaku mutlak untuk semua jenis tanaman. Dalam penelitian lain yang menguji jus nanas, jambu biji, wortel, hingga buah naga, para peneliti justru menemukan temuan yang kontradiktif. Tidak ada perbedaan yang mencolok antara kandungan vitamin C, total fenolik, hingga kapasitas gizi seimbang antara metode tekanan dingin dengan juicer konvensional.

Hal ini menunjukkan bahwa struktur seluler setiap buah merespons proses ekstraksi dengan cara yang berbeda. Klaim bahwa cold-pressed selalu lebih baik pun mulai diragukan keabsahannya sebagai aturan umum dalam dunia nutrisi.

Satu Hal yang Terlupakan: Serat

Ada satu aspek penting yang sering terlewatkan dalam perdebatan ini, yaitu serat makanan. Jus blender atau smoothies seringkali mempertahankan ampas buah yang kaya serat, sedangkan cold-pressed juice membuang ampas tersebut sepenuhnya. Serat sangat krusial untuk menjaga stabilitas gula darah dan kesehatan pencernaan.

Baca Juga  Lawan Kolesterol Jahat dengan 6 Pilihan Jus Buah Segar yang Ampuh Jaga Kesehatan Jantung

Kesimpulannya, meskipun cold-pressed juice menawarkan profil rasa yang lebih bersih dan sedikit keunggulan pada beberapa vitamin tertentu, jus blender tetap merupakan pilihan yang sangat sehat dan ekonomis. Kunci utamanya bukan hanya pada alat yang digunakan, melainkan pada kualitas bahan baku, kesegaran buah, serta seberapa cepat Anda mengonsumsinya setelah diolah. Jadi, jangan merasa bersalah jika Anda masih setia dengan blender kesayangan di rumah.

Tentang Penulis
Wahid
Wahid