Ikuti Kami
kabarmalam.com

Visi Ibas Yudhoyono: Membangun Patriotisme Ekonomi Melalui Kepercayaan dan Integritas di Pasar Modal

Husnul | kabarmalam.com
Jumat, 05 Jun 2026 16:04 WIB
Visi Ibas Yudhoyono: Membangun Patriotisme Ekonomi Melalui Kepercayaan dan Integritas di Pasar Modal

Kabarmalam.com — Di tengah dinamika lanskap global yang kian menantang, sebuah narasi besar mengenai kedaulatan ekonomi digaungkan dari jantung ibu kota. Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono, secara lugas mengajak seluruh elemen bangsa—mulai dari pelaku pasar modal, investor, akademisi, hingga generasi muda—untuk menyatukan langkah dalam membangun patriotisme ekonomi yang berlandaskan etika dan kepercayaan publik.

Transformasi Geoekonomi: Dari Senjata ke Modal dan Data

Dalam sebuah diskusi kebangsaan bertajuk ‘Membangun Patriotisme Ekonomi’ yang digelar di Kompleks MPR RI, Jakarta, pria yang akrab disapa Ibas ini menyoroti pergeseran peta kekuatan dunia yang sangat fundamental. Menurutnya, medan pertempuran saat ini tidak lagi didominasi oleh kekuatan militer konvensional, melainkan telah beralih pada penguasaan modal, data, dan investasi.

“Geoekonomi menunjukkan bahwa pertarungan utama saat ini bukan lagi soal senjata, melainkan soal modal dan kepercayaan. Ekonomi tidak berdiri di atas tumpukan uang semata, tetapi di atas fondasi kepercayaan yang kokoh,” tegas Ibas. Mengutip pemikiran ekonom peraih Nobel Robert Shiller, ia mengingatkan bahwa tanpa kepercayaan, roda ekonomi akan macet, dan sebaliknya, ketika kepercayaan tumbuh, pertumbuhan ekonomi nasional akan bergerak jauh lebih cepat.

Baca Juga  Bursa Saham Bergairah, IHSG Pagi Ini Langsung Terbang Tinggi!

Indonesia Sebagai Kekuatan Baru di Panggung Dunia

Sebagai anggota G20 dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia dipandang memiliki modalitas yang lebih dari cukup untuk menjadi raksasa dunia. Bonus demografi, pasar domestik yang kuat, serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah adalah mesin penggerak yang dahsyat. Namun, Ibas menekankan bahwa seluruh potensi tersebut harus dikelola dengan semangat patriotisme yang inklusif.

Lulusan S3 IPB University ini menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi harus bermuara pada mandat Pembukaan UUD 1945. “Pertumbuhan tidak boleh sekadar angka statistik di atas kertas, tapi harus mampu menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi seluruh rakyat Indonesia,” tambahnya dengan nada naratif yang menggugah.

Baca Juga  Guncangan Magnitudo 4,2 Getarkan Melonguane Sulawesi Utara, BMKG Imbau Warga Tetap Tenang

Investasi Adalah Maraton, Bukan Sprint

Dalam kacamata Ibas, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasihat KADIN Indonesia, pasar modal adalah cermin dari tingkat kepercayaan dunia terhadap masa depan Indonesia. Ia mengajak para investor untuk tidak sekadar menjadi pemburu keuntungan sesaat, melainkan menjadi pemilik masa depan yang bertanggung jawab.

Meneladani gaya investor legendaris seperti Warren Buffett dan Benjamin Graham, Ibas menekankan beberapa poin krusial:

  • Integritas dan Etika: Menjalankan aktivitas pasar dengan transparansi dan tata kelola yang baik (Good Governance).
  • Disiplin Jangka Panjang: Memahami fundamental ekonomi dan menghargai nilai investasi sebagai sebuah proses maraton.
  • Literasi Keuangan: Memperkuat basis investor domestik agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Baca Juga  IHSG Anjlok ke Level 7.048, Ternyata Ini Biang Keroknya!

“Investor adalah pemilik masa depan, dan trader adalah penjaga likuiditas. Namun, keduanya wajib berpijak pada etika. Tanpa etika, pasar kehilangan masa depan. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang kaya, tetapi bangsa yang dipercaya,” ungkap Ibas dengan optimisme tinggi.

Menjawab Tantangan Ketidakpastian Kebijakan

Dalam forum tersebut, para pelaku pasar dan akademisi juga menyoroti tantangan nyata seperti ketidakkonsistenan regulasi yang kerap memicu keraguan. Mereka mendorong pemerintah untuk menghadirkan kepastian hukum dan komunikasi publik yang lebih efektif guna menjaga stabilitas investasi asing maupun domestik.

Menutup paparannya, Ibas meyakini bahwa jika etika dijadikan fondasi dan integritas menjadi karakter kolektif, maka Indonesia akan bertransformasi dari sekadar penonton menjadi penggerak utama ekonomi dunia. Semangat ini diharapkan mampu memicu generasi muda untuk lebih aktif berkontribusi dalam membangun kedaulatan ekonomi bangsa yang berkelanjutan.

Tentang Penulis
Husnul
Husnul